Pezeshkian: Kalkulasi Musuh yang Didasarkan Pada AI Berhasil Digagalkan
Presiden Iran menekankan keteguhan dalam menghadapi sanksi dan tindakan sabotase musuh. Ia menegaskan: “Meskipun musuh telah menutup semua jalan, dengan pertolongan Allah kami akan membuka jalan-jalan baru dan menemukan jalan untuk mengabdi kepada rakyat Iran.”
Dilansir Pars Today dari kantor berita IRIB, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam Pertemuan Internasional ke-11 Para Pejuang di Pengasingan, dengan menekankan pandangan mendalam dan kebijakan luar biasa Pemimpin Syahid Revolusi dalam mengelola negara, mengatakan: “Stabilitas dan keamanan Iran saat ini merupakan buah dari petunjuk pemimpin syahid yang agung tersebut. Terlepas dari segala tekanan dan keterbatasan yang diciptakan musuh, pemikiran, jalan, dan petunjuk beliau senantiasa menjadi penerang jalan bagi kami.”
Pezeshkian, merujuk pada strategi-strategi cerdas Pemimpin Syahid Revolusi, menambahkan: “Beliau dengan pandangan transformatif mengubah ancaman menjadi peluang dan membantu kami melewati krisis-krisis yang diciptakan musuh. Musuh mengira mereka dapat menjerumuskan negara ke dalam kelaparan, penjarahan, dan keruntuhan sosial dengan menciptakan ketidakamanan dan tekanan. Namun, perhitungan mereka yang didasarkan pada data kecerdasan buatan, jaringan mata-mata, orang-orang bayaran, dan perwakilan mereka di dalam negeri, satu demi satu berhasil digagalkan. Sebagaimana disampaikan oleh Pemimpin Syahid, rakyat bangkit dan bergerak, turun ke lapangan, serta menciptakan bendungan kokoh di hadapan konspirasi-konspirasi tersebut.”
Presiden Iran selanjutnya mengenang upacara perpisahan yang megah dengan Pemimpin Syahid dan menegaskan: “Pada hari itu saya menyatakan bahwa saya tidak mengucapkan selamat tinggal kepada beliau, karena jalan beliau akan senantiasa berlanjut dan kita harus menempuh jalan ini dengan persatuan, kekuatan, solidaritas, dan koordinasi. Keteguhan dalam menghadapi musuh tidak mungkin terwujud tanpa kesatuan hati, dan mereka tidak pernah menyangka bahwa bangsa kita mampu melindungi nilai-nilai dan eksistensinya dengan keteguhan.”
Pezeshkian menilai kehadiran penuh rakyat Iran dalam berbagai medan Perang 12 Hari dan Ramadan sebagai sesuatu yang tiada tanding, dan menegaskan: “Bangsa Iran telah hadir selama lebih dari 160 hari, tanpa pamrih dan dengan segenap pengorbanan, dalam upaya membela tanah air. Dukungan yang berakar kuat ini merupakan modal yang sangat besar, yang tidak akan pernah membiarkan kita menundukkan kepala di hadapan musuh ataupun menerima kekalahan.”
Ia menekankan keteguhan dalam menghadapi sanksi dan tindakan sabotase musuh, seraya menegaskan: “Meskipun musuh telah menutup semua jalan, dengan pertolongan Allah kami akan membuka jalan-jalan baru dan menemukan jalan untuk mengabdi kepada rakyat Iran.”