Baghaei: Retorika Menlu Jerman tentang Selat Hormuz Memalukan
-
Ismaeil Baghaei, Jubir Kementerian Luar Negeri Iran
Pars Today - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menyebut retorika Menteri Luar Negeri Jerman tentang Selat Hormuz memalukan, sebuah tindakan yang tidak beralasan, dan upaya untuk memutarbalikkan fakta.
Menurut IRNA, pada Selasa pagi, 7 Juli 2026, Ismaeil Baghaei menulis di saluran X sebagai tanggapan atas pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman mengenai situasi di Selat Hormuz, Retorika Menteri Luar Negeri Jerman tentang Selat Hormuz memalukan dan, dalam hal memutarbalikkan cerita dan bermain kata-kata, mengingatkan pada karakter "Mephistopheles" dalam drama Goethe "Faust".
Ia menambahkan, Jerman harus sepenuhnya bertanggung jawab atas keterlibatannya dalam agresi militer terhadap Iran dan membayar ganti rugi atas tindakan ilegal dan kriminalnya.
Baghaei menekankan, "Tindakan-tindakan semacam ini tidak dapat membebaskan rezim yang memerintah Berlin dari tanggung jawabnya karena berpartisipasi dalam perang ilegal dan melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Iran."
Tuduhan "Mephistopheles": Baghaei menggunakan metafora dari drama Faust karya Goethe untuk menuduh Menteri Luar Negeri Jerman sebagai sosok yang memutarbalikkan fakta. Ini adalah cara diplomatik yang cerdik untuk mengkritik dengan menggunakan referensi budaya Jerman itu sendiri.
Tuntutan Tanggung Jawab Hukum: Iran secara eksplisit menuntut Jerman "bertanggung jawab penuh" dan membayar ganti rugi atas "tindakan ilegal dan kriminal" yang dituduhkan terkait agresi militer. Ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya mengecam secara politis, tetapi juga berupaya membangun argumen untuk tuntutan hukum internasional.
Mekanisme Penolakan: Fokus pada "kerjasama dalam agresi militer" menyiratkan bahwa Iran akan terus menggunakan narasi ini untuk mengisolasi Jerman secara diplomatik dan hukum di forum internasional, meskipun situasi di lapangan tidak berubah secara signifikan.(Sail)