Barat Kehabisan Kartu: Setelah Gagal di Wina, Kini Coba New York
-
Dewan Gubernur PBB
Pars Today - Amerika Serikat dan tiga negara Eropa; Inggris, Prancis, dan Jerman, setelah gagal memaksakan tujuan politik mereka terhadap Iran melalui jalur snapback, kini kembali menggunakan kartu tekanan di Dewan Gubernur. Namun di jalur ini pun, mereka tidak dapat menutupi kegagalan kebijakan dan tindakan mereka, sekaligus tidak dapat mencapai hasil apa pun di Dewan Keamanan.
Melansir IRNA, Kamis, 10 September 2026, pengesahan resolusi anti-Iran dengan 23 suara setuju di Dewan Gubernur adalah mata rantai terbaru dari siklus yang dimulai dengan agresi Amerika dan rezim Zionis terhadap fasilitas nuklir yang berada di bawah Pengamanan [safeguards], serta gangguan terhadap proses normal kerja sama pengamanan.
Siklus ini berlanjut dengan pemanfaatan Washington dan mitra-mitra Eropanya atas dampak agresi yang sama untuk menekan Tehran secara politik. Kali ini pun, Barat dengan bersandar pada gangguan yang diciptakan para agresor, berupaya mengalihkan kembali persoalan ke Dewan Keamanan, tanpa menyinggung tanggung jawab pelaku serangan dan keharusan menghilangkan hambatan keamanan dalam kerja sama dengan IAEA.
Resolusi yang diajukan Amerika dan tiga negara Eropa; Inggris, Prancis, dan Jerman, disahkan pada Rabu (9/9) sore dengan 23 suara setuju, tiga suara menolak, dan delapan abstain. Satu negara anggota juga tidak memiliki hak suara. Hasil ini menghasilkan pengesahan dokumen yang diinginkan Barat di Wina, tetapi ada jarak antara memperoleh suara untuk sebuah resolusi dan terwujudnya tujuan politik para pengusungnya, jarak yang tidak bisa diisi hanya dengan mengulang klaim terhadap Iran.
Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran menggambarkan logika yang mendasari langkah ini sebagai berikut, "Mereka menyerang fasilitas nuklir Iran yang berada di bawah pengamanan, mengganggu proses verifikasi normal, lalu menjadikan gangguan yang sama sebagai dalih untuk mengeluarkan resolusi di Dewan Gubernur."
Ia menegaskan, "Dengan pengkondisian semacam ini, kalian tidak dapat menutupi kegagalan kebijakan dan tindakan kalian, dan tidak dapat mencapai hasil apa pun di Dewan Keamanan PBB."
Upaya baru untuk mengirim persoalan Iran ke Dewan Keamanan, pertama-tama, mengungkap kontradiksi dalam klaim-klaim Barat sebelumnya. Amerika dan tiga negara Eropa yang bersikeras mengembalikan resolusi Dewan Keamanan melalui mekanisme yang disebut snapback, kini kembali berlindung pada Dewan Gubernur untuk menciptakan dasar tekanan di New York.
Kini pertanyaannya adalah: jika jalur sebelumnya, seperti yang mereka propagandakan, telah membuahkan hasil, apa makna upaya ulang ini?
Perwakilan Republik Islam Iran di Wina sebelumnya telah menyoroti kontradiksi yang sama dan menulis, "Tampaknya mereka sendiri pun tidak percaya pada snapback dan pengembalian persoalan nuklir Iran ke agenda Dewan Keamanan, yang sebelumnya telah mereka lakukan dan mereka propagandakan besar-besaran. Langkah ini adalah tanda kegagalan total ilusi snapback."
Sebelum pemungutan suara, Iran, Tiongkok, dan Rusia dengan mengeluarkan pernyataan bersama menilai upaya sebelumnya dari troika Eropa untuk mengaktifkan snapback sebagai batal dan tidak memiliki efek hukum, serta menegaskan bahwa permintaan laporan dari Direktur Jenderal mengenai pelaksanaan resolusi yang disebutkan tidak memiliki dasar hukum.
Ketiga negara juga menegaskan, "Rujukan yang diklaim ke Dewan Keamanan PBB tidak memiliki dasar hukum, dilakukan dengan tujuan meningkatkan eskalasi, dan tidak sejalan dengan komitmen yang dinyatakan para pengusung rancangan tersebut terhadap diplomasi."
Dari perspektif ini, pemungutan suara di Dewan Gubernur tidak menyelesaikan perbedaan pendapat yang ada di tingkat Dewan Keamanan. Penolakan tegas dua anggota tetap Dewan Keamanan terhadap dasar-dasar yang dijadikan rujukan Barat adalah bukti jelas bahwa pengesahan dokumen di Wina tidak boleh disamakan dengan terbukanya jalan politik di New York. Perubahan tempat pengajuan persoalan, dengan sendirinya, tidak menciptakan legitimasi hukum atau konsensus politik bagi klaim-klaim yang diperselisihkan.
Di tingkat kerja sama pengamanan pun, resolusi baru tidak menjawab klaim-klaim pengamanan. Persoalannya adalah akses ke fasilitas-fasilitas yang menjadi sasaran serangan dan masih menghadapi ancaman militer. Tuntutan pelaksanaan inspeksi normal, tanpa memperhatikan kemungkinan akses yang aman serta keselamatan warga, fasilitas, dan para inspektur, tidak akan menghilangkan hambatan yang ada.
Iran dalam memorandum penjelasannya tentang laporan terbaru Direktur Jenderal, merujuk pada fakta bahwa IAEA pun pada awal serangan menghentikan kegiatan verifikasi dan, demi alasan keselamatan, menarik para inspekturnya dari negara tersebut. Karena itu, kondisi yang sama yang menyebabkan penghentian kegiatan IAEA tidak dapat diabaikan saat menilai kemungkinan kerja sama Iran.
Reza Najafi, Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran di Wina, dalam pidatonya sebelum pemungutan suara menegaskan, "Iran tidak menghentikan dan tidak membekukan komitmen pengamanannya. Kami semata-mata tidak mampu melaksanakannya dalam kondisi belum pernah terjadi sebelumnya yang diciptakan oleh tindakan-tindakan agresif ini."
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan melanjutkan kerja sama dengan IAEA sejauh kondisi memungkinkan, tetapi tidak akan membahayakan keselamatan warga, fasilitas, atau para inspektur IAEA. Posisi ini memperjelas perbedaan antara ketidakmampuan melaksanakan komitmen secara normal dalam kondisi agresi dan klaim penolakan politik untuk bekerja sama, perbedaan yang diabaikan dalam narasi para pengusung resolusi.
Diplomasi Menuntut Saling Menghormati
Klaim dukungan Barat terhadap diplomasi dalam resolusi terbaru juga diukur dalam kerangka yang sama dengan rekam jejak praktisnya. Najafi, dengan mengingat urutan dukungan verbal terhadap solusi diplomatik, penandatanganan kesepahaman, lalu pelanggarannya oleh Amerika dan dimulainya kembali agresi, menyebut teks yang diajukan Washington sebagai pemaksaan yang dibungkus diplomasi.
Duta Besar Iran menegaskan, "Diplomasi sejati menuntut saling menghormati dan tidak berjalan dengan pemaksaan, tekanan, dan ancaman." Ia juga memperingatkan bahwa pendekatan ini menghancurkan kepercayaan dan kerja sama serta merusak independensi dan kredibilitas IAEA.
Iran telah menentukan jalur kerja sama. Dalam memorandum penjelasan negara kita, kesiapan untuk memfasilitasi kegiatan verifikasi pengamanan setelah berakhirnya secara penuh dan permanen ancaman dan permusuhan telah dinyatakan, dan dalam pernyataan bersama dengan Rusia dan Tiongkok juga ditekankan penghentian serangan, penghapusan ancaman agresi lebih lanjut, dan jaminan tidak terulangnya tindakan semacam itu.
Posisi-posisi ini menunjukkan bahwa jalan untuk menghilangkan hambatan kerja sama adalah dengan menangani penyebab timbulnya hambatan tersebut, bukan dengan bersikeras pada politisasi.
Kemampuan nuklir Iran juga, sebagaimana diingatkan perwakilan negara kita dalam pertemuan yang sama, tidak terbatas pada bangunan dan mesin, melainkan berakar pada pengetahuan yang terakumulasi, sumber daya manusia yang ahli, dan kehendak nasional.
Karena itu, baik penghancuran fasilitas maupun penambahan resolusi lain ke dalam kumpulan dokumen politik tidak dapat menghilangkan capaian ilmiah negara atau menggantikan kesepakatan yang berbasis pada penghormatan terhadap hak-hak Iran.
Dari perspektif ini, Barat dengan mengesahkan resolusi di Dewan Gubernur telah menambahkan dokumen lain ke dalam kumpulan alat tekanannya, tetapi memperoleh suara di Wina tidak berarti tercapainya tujuan-tujuan yang bahkan tidak terwujud melalui sanksi dan agresi.
Selama kebijakan ini berpijak pada pengabaian tanggung jawab para agresor dan tuntutan penyerahan diri dari Iran, pemindahan tekanan dari Wina ke New York tidak akan mengubah kehendak Republik Islam Iran untuk mempertahankan hak-haknya, selain hanya mempercepat erosi dan keruntuhan rezim non-proliferasi serta pengamanan IAEA.
"Amerika Serikat dan tiga negara Eropa (Inggris, Prancis, Jerman) kembali menggunakan jalur tekanan di Dewan Gubernur IAEA setelah gagal melalui mekanisme snapback. Resolusi anti-Iran disahkan dengan 23 suara setuju, 3 menolak, dan 8 abstain. Iran menilai langkah ini sebagai kontradiksi dan tanda kegagalan total ilusi snapback, karena Barat sendiri tidak percaya pada jalur sebelumnya. Iran, Tiongkok, dan Rusia menyatakan bahwa upaya snapback sebelumnya batal dan tidak memiliki efek hukum, serta permintaan laporan ke Dewan Keamanan tidak berdasar hukum. Iran menegaskan tidak membekukan komitmen pengamanannya, melainkan tidak mampu melaksanakannya dalam kondisi agresi yang belum pernah terjadi sebelumnya."(Sail)