Qashqavi: Blokade Termasuk Bentuk Perang
Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran mengatakan: Jika kebebasan pelayaran hendak diberlakukan, kebebasan tersebut tidak boleh mengganggu keamanan negara pantai. Jika tidak, pengepungan merupakan bentuk “perang”.
Menurut Pars Today, Hassan Qashqavi pada Selasa dalam wawancara dengan IRNA mengenai serangan balasan rudal Iran terhadap kapal induk dan kapal perusak Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yang disebutnya sebagai rezim teroris, mengatakan: “Dalam perang ini, doktrin pertahanan Iran telah berubah. Berbeda dengan mereka yang memanipulasi tindakan mereka dan menyajikannya secara tidak lengkap kepada opini publik, Iran dengan cepat menyampaikan tindakannya kepada opini publik di dalam maupun luar negeri.”
Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Republik Islam Iran mengatakan: “Apa yang sedang terjadi adalah mereka hanya bersikeras pada kebebasan pelayaran, tetapi tidak berkomitmen untuk tidak mengganggu keamanan nasional dan kedaulatan nasional Iran. Justru mereka melakukan hal yang sebaliknya.”
Qashqavi mengenai kejahatan perang Amerika Serikat dalam menargetkan warga sipil mengatakan: “Masalah ini, seperti banyak bentuk diskriminasi di masyarakat internasional, bukanlah satu-satunya kasus. Di tingkat internasional, dalam bidang hak asasi manusia, negara-negara diperlakukan secara selektif dan dengan ‘standar ganda’; baik dalam masalah hak asasi manusia maupun hak anak-anak. Dalam setiap pertemuan internasional, melalui Konvensi Hak-Hak Perempuan, Konvensi Hak-Hak Anak, dan prinsip-prinsip hak asasi manusia, kami bertanya kepada mereka: Mengapa Anda melakukan perlakuan yang bersifat ganda dan selektif? Mengapa negara-negara Barat memiliki pendekatan seperti itu dalam menghadapi berbagai peristiwa?”
Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran menambahkan: “Mengenai kondisi Amerika Serikat saat ini, tampaknya negara tersebut berada dalam puncak kebingungan. Semua pihak mengakui bahwa Amerika Serikat mengalami perpecahan dan kebingungan total dalam mengambil keputusan yang tepat. Tampaknya mereka berusaha, dalam waktu yang tersisa hingga pemilu, melakukan sesuatu yang spektakuler, dengan istilah ‘menerbangkan gajah’, agar dapat menjadi pemenang di medan ini. Namun, biasanya tindakan-tindakan tersebut justru menghasilkan efek sebaliknya dan merugikan mereka sendiri.”