Dari Qom ke Najaf: Jejak Ilmiah Ayatullah Shobeiri Zanjani
https://parstoday.ir/id/news/religion-i197188-dari_qom_ke_najaf_jejak_ilmiah_ayatullah_shobeiri_zanjani
Pars Today - Fakih dan guru terkemuka Hauzah Ilmiah, Ayatullah Shobeiri Zanjani, setelah beberapa dekade usaha dan perjuangan di bidang agama dan Hauzah Ilmiah, berpulang ke rahmatullah.
(last modified 2026-09-21T10:08:36+00:00 )
Sep 21, 2026 17:05 Asia/Jakarta
  • Syahid Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan Ayatullah Shobeiri Zanjani
    Syahid Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan Ayatullah Shobeiri Zanjani

Pars Today - Fakih dan guru terkemuka Hauzah Ilmiah, Ayatullah Shobeiri Zanjani, setelah beberapa dekade usaha dan perjuangan di bidang agama dan Hauzah Ilmiah, berpulang ke rahmatullah.

Melansir Mehr, Senin, 21 September 2026, Ayatullah al-Uzhma Sayid Musa Shobeiri Zanjani adalah salah satu marji taklid Syiah dan termasuk fakih serta guru terkemuka Hauzah Ilmiah Qom yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menuntut dan mengajar ilmu-ilmu keagamaan, penelitian dalam fikih dan ushul, mengkaji sumber-sumber hadis dan rijal, serta mendidik para thalabah ilmu keagamaan. Luasnya hubungan ilmiahnya dengan guru-guru terkemuka Hauzah Ilmiah Qom dan Najaf, kehadiran panjang dalam pelajaran luar fikih dan ushul, dan kemudian bertahun-tahun mengajar pelajaran-pelajaran ini, merupakan karakteristik terpenting dari perjalanan ilmiahnya.

Shobeiri Zanjani tumbuh dalam keluarga rohaniwan dan ilmiah. Ayahnya, Ayatullah Sayid Ahmad Huseini Zanjani, adalah salah satu fakih yang dikenal dan ulama terkemuka Hauzah Ilmiah serta memiliki pengaruh penting dalam pembentukan kepribadian ilmiah dan keagamaan anaknya. Ayatullah Shobeiri Zanjani selama dekade aktivitas ilmiahnya, selain fikih dan ushul, juga melakukan penelitian dan kajian di bidang seperti rijal, hadis, dan dirayah, dan sebagian pandangan serta penelitiannya telah diterbitkan dalam bentuk karya dan takrir ilmiah.

Kelahiran dan Keluarga

Sayid Musa Shobeiri Zanjani lahir pada 10 Esfand 1306 Hijriah Syamsi [1 Maret 1928] di kota Qom. Ia dibesarkan dalam keluarga religius dan ilmiah serta sejak tahun-tahun remajanya telah mengenal suasana ilmiah dan hauzah.

Ayahnya, Ayatullah al-Uzhma Sayid Ahmad Huseini Zanjani, adalah salah satu fakih terkemuka dan ulama yang dikenal. Dalam sumber-sumber tentang kehidupannya, ia disebut sebagai fakih yang komprehensif dan ulama yang berakhlak ilahi. Penguasaannya atas berbagai bab fikih menyebabkan ia mendapat perhatian dan kekaguman sebagian tokoh besar hauza h, termasuk Ayatullah al-Uzhma Araki.

Sayid Ahmad Zanjani selain aktivitas ilmiah, juga aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Karakteristik kepribadiannya disebutkan sebagai ketakwaan, tawakal, zuhud, ibadah, keteraturan, menghormati orang lain, wawasan pemikiran yang cerah, dan perhatian pada kehidupan sosial agama. Ia juga sangat mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW.

Ia selama bertahun-tahun aktif dalam bidang pengajaran, penulisan, dan menangani urusan orang-orang beriman serta meninggalkan sekitar 60 buku dan risalah dalam berbagai bidang ilmu keagamaan.

Kedudukan Sosial dan Bimbingan Ayah

Ayatullah Sayid Ahmad Zanjani adalah salah satu tokoh yang dipercaya masyarakat Qom dan mendirikan salat berjamaah merupakan salah satu aktivitas sosial dan ibadahnya yang penting. Ia pada pagi, magrib, dan isya di Haram Hazrat Masumah as serta pada waktu zuhur di Madrasah Faiziyah mendirikan salat berjamaah.

Karena reputasinya sebagai orang yang bertakwa dan saleh, sekelompok fadhil, ulama, dan guru hauza h juga hadir dalam salat berjamaahnya. Pada tahun-tahun akhir hidupnya, ketika karena kondisi fisiknya kelanjutan tanggung jawab ini menjadi sulit baginya, Ayatullah Sayid Musa Shobeiri Zanjani memilihnya sebagai penggantinya. Hal ini menunjukkan kedudukan ilmiah dan sosial Sayid Musa Shobeiri Zanjani di kalangan ulama dan masyarakat hauzah Qom pada periode itu.

Pendidikan Hauzah

Ayatullah Shobeiri Zanjani memulai pendidikan hauzahnya pada tahun-tahun mudanya. Berdasarkan informasi yang diberikan, awal resmi pelajaran hauzahnya kembali ke tahun 1359 dan 1360 Hijriah Qamariyah.

Ia menyelesaikan periode pelajaran tingkat hauzah dalam waktu sekitar tiga hingga empat tahun. Kecepatan dan keseriusannya dalam mempelajari ilmu hauzah menyebabkan ia pada usia yang relatif muda masuk ke tahap pelajaran bahs-e kharej dan hadir di majelis ilmiah guru-guru terkemuka periode itu. Setelah menyelesaikan pelajaran tingkat, ia mengikuti pelajaran luar sebagian fakih terkemuka Hauzah Ilmiah Qom dan melanjutkan perjalanan ilmiahnya di bidang fikih dan ushul.

Salah satu guru pertamanya pada tahap pelajaran luar adalah Ayatullah al-Uzhma Sayid Sadruddin Sadr. Sayid Musa Shobeiri Zanjani hadir dalam pelajarannya, pelajaran yang menurut sumber-sumber tentang kehidupannya, merupakan tempat kehadiran sekelompok fadhil dan ulama terkemuka saat itu.

Shobeiri Zanjani pada periode itu, dari segi usia merupakan peserta termuda dalam majelis ilmiah ini. Kehadirannya dalam lingkungan ilmiah semacam itu pada usia muda, menyediakan landasan untuk berhubungan dengan ulama terkemuka dan mengenal lebih dekat metode-metode argumentasi fikih dan ushul.

Guru-Guru Utama di Hauzah Ilmiah Qom

Meskipun Ayatullah Shobeiri Zanjani mengikuti pelajaran berbagai guru, tetapi di antara guru-gurunya, dua tokoh memiliki kedudukan istimewa. Pertama, Ayatullah al-Uzhma Sayid Hossein Borujerdi yang merupakan salah satu guru terpenting Ayatullah Shobeiri Zanjani.

Setelah masuknya Ayatullah Borujerdi ke Qom, Shobeiri Zanjani mengikuti pelajaran luar fikih dan ushulnya. Di antara pembahasan fikih yang dipelajarinya di hadapan Ayatullah Borujerdi dapat disebutkan Kitab Al-Ghashb, Kitab Al-Ijarah, dan Kitab Al-Shalat. Kehadiran dalam pelajaran Ayatullah Borujerdi menghubungkannya dengan salah satu arus fikih terpenting Hauzah Qom pada periode itu.

Dan yang kedua adalah Ayatullah Sayid Muhammad Mohaqqiq Damad yang mana Shobeiri Zanjani dalam waktu lama memanfaatkan pelajarannya. Ia mengikuti hampir satu periode lengkap pelajaran ushul dan sekitar 21 tahun pelajaran fikih Mohaqqiq Damad. Pembahasan fikih yang dipelajarinya di hadapan guru ini mencakup bagian-bagian Kitab Al-Shalat serta Kitab Al-Thaharah, Kitab Al-Shaum, Kitab Al-Khums, dan Kitab Al-Hajj.

Periode panjang menjadi murid di hadapan Mohaqqiq Damad ini dianggap sebagai salah satu tahap terpenting pembentukan kepribadian ilmiah Shobeiri Zanjani.

Perjalanan Ilmiah ke Najaf Asyraf

Ayatullah Shobeiri Zanjani untuk memanfaatkan tradisi ilmiah Hauzah Najaf, dua kali melakukan perjalanan ke kota ini. Perjalanan pertamanya pada tahun 1373 Hijriah Qamariyah dan perjalanan kedua pada tahun 1374 Hijriah Qamariyah. Dalam perjalanan ini, ia hadir dalam pelajaran beberapa fakih terkemuka Najaf.

Di antara guru-gurunya di Najaf dapat disebutkan: Ayatullah Sayid Abdulhadi Shirazi dalam pelajaran fikih dan pembahasan terkait Kitab Al-Shalat, Ayatullah Sayid Mohsen Hakim dalam pembahasan fikih terkait Kitab Al-Hajj, Ayatullah Sayid Abulqasim Khoei dalam pelajaran ushul serta pembahasan "radha'" dalam fikih. Perjalanan ini menyebabkan Shobeiri Zanjani selain tradisi ilmiah Hauzah Qom, juga memanfaatkan metode ilmiah dan fikih Hauzah Najaf.

Ayatullah Shobeiri Zanjani setelah bertahun-tahun menuntut ilmu, sendiri masuk ke bidang pengajaran dan mengajar luar fikih dan ushul. Pelajaran luar fikihnya dimulai dengan Kitab Al-Hajj. Pengajaran ini dimulai pada masa hidup gurunya, Ayatullah Mohaqqiq Damad, dan berlanjut lebih dari 15 tahun.

Karya dan Tulisan

Dari Ayatullah Shobeiri Zanjani telah ditinggalkan karya dan penelitian yang banyak di berbagai bidang ilmu-ilmu Islam. Sebagian warisan ilmiahnya telah diterbitkan dalam bentuk takrir pelajaran fikih dan ushul dan sebagian lain mencakup penelitian dan komentarnya atas sumber-sumber hadis dan rijal.

Di antara karya dan kumpulan terkait aktivitas ilmiahnya dapat disebutkan "Jar'eh-ai az Darya". Kumpulan ini mencakup sebagian dari faidah, penelitian, pandangan, dan pembahasan ilmiahnya di berbagai bidang. Juga komentar dan penelitiannya di bidang sumber-sumber hadis dan rijal merupakan bagian lain dari warisan ilmiahnya. Dari dirinya telah ditinggalkan berbagai buku fikih yang dipisahkan berdasarkan topik yang merupakan hasil bertahun-tahun penelitian dan pengajarannya.

Marjaiyat

Setelah wafatnya Ayatullah Sayid Mohammad Reza Golpaygani dan Ayatullah Sayid Mohammad Ali Araki pada tahun 1373 Hijriah Syamsi [1994], nama Ayatullah Shobeiri Zanjani termasuk di antara fakih yang diperkenalkan oleh Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom sebagai yang memenuhi syarat untuk marjaiyat.

Sejak periode itu, kedudukannya sebagai salah satu marja' taklid Syiah ditetapkan dan aktivitas ilmiah, pengajaran, dan hauza hnya berlanjut dalam kedudukan sebagai marja' taklid.

Sirah dan Karakteristik Akhlak serta Perilaku

Di samping kedudukan ilmiah, sirah dan perilaku akhlak juga merupakan bagian penting dari kepribadian Ayatullah Shobeiri Zanjani. Berdasarkan informasi yang diberikan, kepribadian ilmiahnya dikenal dengan karakteristik seperti menghindari kedangkalan, ketelitian dalam mengkaji sumber, perhatian pada sanad riwayat, dan upaya dalam penelitian.

Dalam lingkungan keluarga juga ia berada di bawah pengaruh kepribadian akhlak ayahnya, ayah yang ketakwaan, zuhud, tawakal, keteraturan, menghormati orang lain, wawasan yang cerah, dan menjauhi kesalehan palsu disebutkan sebagai karakteristik menonjolnya. Dari perspektif ini, kehidupan Shobeiri Zanjani dapat dianggap sebagai perpaduan dari pendidikan yang berkelanjutan, penelitian, pengajaran, mendidik murid, dan kehadiran di bidang ilmiah dan sosial hauzah.

Mendidik Thalabah dan Murid

Salah satu aktivitas terpenting Ayatullah Shobeiri Zanjani setelah bertahun-tahun menuntut ilmu adalah mendidik thalabah dan murid-murid ilmu keagamaan. Ia selama beberapa dekade mengajar di Hauzah Ilmiah Qom dan banyak murid yang hadir dalam pelajaran fikih dan ushulnya. Pelajarannya selain mentransfer pembahasan fikih dan ushul, juga menyediakan landasan bagi thalabah untuk mengenal metode penelitian, pengkajian sumber, evaluasi riwayat, dan cara argumentasi fikih.

Aktivitas Ayatullah Shobeiri Zanjani tidak terbatas pada pengajaran langsung dan dukungan terhadap aktivitas ilmiah dan penelitian hauzah juga merupakan salah satu poros penting aktivitas yang terkait dengannya. Dalam kaitan ini, Pusat Fikih Imam Muhammad Baqir as dan beberapa pusat pendidikan dan penelitian yang terkait dengan baitnya telah beraktivitas. Pusat-pusat ini beraktivitas dalam rangka memperkuat pendidikan dan penelitian di bidang ilmu-ilmu Islam dan mendidik tenaga ilmiah."(Sail)