Hubungan Iran dan Uni Eropa, Tanpa Intervensi AS
Federica Mogherini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa di akhir lawatannya ke Tehran mengakui peran penting Iran dalam penyelesaian konflik Timur Tengah, dan Uni Eropa bertekad menjalin kerja sama dengan Republik Islam Iran.
Kerja sama Iran dan Uni Eropa secara umum mendukung tercapainya tujuan bersama, tapi menghadapi tantangan serius. Peningkatan hubungan Uni Eropa dengan Iran membutuhkan perubahan sikap organisasi negara-negara Eropa selama ini, terutama masalah independensi dan transparansinya dalam berbagai masalah yang berkaitan dengan Tehran.
Penerapan agenda kerja sama antara Uni Eropa dan Iran mengenai masalah perdamaian regional, dan kerja sama jangka panjang di bidang ekonomi pasca implementasi JCPOA ditentukan oleh seberapa besar independensi Uni Eropa.
Iran berkeyakinan bahwa JCPOA merupakan model yang tepat untuk meningkatkan kerja sama kedua pihak, sekaligus untuk menyelesaikan berbagai masalah internasional.
Tapi implementasi penuh JCPOA ditentukan oleh seberapa besar komitmen kedua belah pihak terhadap kesepakatan bersama tersebut.
Selama ini, Iran sudah menjalankan kewajibannya yang telah ditetapkan dalam koridor JCPOA. Kini, Uni Eropa juga dituntut melakukan hal yang sama.
Masalah tersebut juga ditegaskan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa dalam pertemuan dengan pejabat tinggi Iran di Tehran. Federica Mogherini mengatakan bahwa kesepakatan nuklir Iran dan kelompok 5+1 menciptakan situasi yang kondusif bagi perluasan kerja sama kedua pihak. Ditegaskannya, Uni Eropa berkeyakinan bahwa impelementasi kesepakatan JCPOA akan mendorong peningkatan kerja sama ekonomi dengan Iran demi kepentingan bersama.
Di arena global dewasa ini, kepentingan negara-negara independen bergantung kepada tingkat kerja sama di berbagai bidang. Tapi muncul hambatan yang menghadang. Sebab, negara-negara adi daya arogan global tidak pernah membiarkan terwujudnya solidaritas di antara negara-negara independen di dunia. Pasalnya, kerja sama tersebut akan merugikan kepentingan ilegal mereka. Oleh karena itu, negara arogan dunia dengan alasan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan berupaya menghalangi terwujudnya kerja sama yang baik antarbangsa dunia, termasuk menjegal terwujudnya peningkatan kerja sama antar Iran dan Uni Eropa.
Berbagai fakta di lapangan menunjukkan sepak terjang AS yang berupaya menghalangi implementasi JCPOA, dan Washington juga mendiktekan sikapnya tersebut kepada Uni Eropa supaya menjauhi Tehran. Terkait hal ini, juru bicara kementerian luar negeri Republik Islam Iran, Bahram Ghassemi dalam statemennya menyinggung kerja sama antara Iran dan Uni Eropa yang tidak boleh dipengaruhi oleh intervensi pihak lain.
Realitasnya, sejumlah negara Eropa saat ini berada dalam pengaruh AS. Masalah tersebut mempengaruhi hubungan mereka dengan Iran. Marietje Schaake, salah seorang pejabat parlemen Eropa mengatakan, "Eropa telah menjadi tawanan AS. kami berunding untuk mencapai kesepakatan nuklir, tapi kini AS menghalangi implementasinya,".
Kritik terhadap independensi negara-negara Eropa menjadi salah satu masalah yang disampaikan pejabat tinggi Iran kepada Mogherini selaku kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa yang mengunjungi Tehran baru-baru ini.