Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (6)
-
Imam Khomeini ra
Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!
Imam Khomeini selalu perhatian, bila salah satu anaknya, cucunya dan orang-orang ada di sekitar beliau sakit maka hendaknya dibawa ke dokter. Dalam hal ini beliau menyampaikan berkali-kali dan berkali-kali mengunjunginya. Bila saat beliau menyambangi ternyata yang sakit sedang tidur, maka beliau kembali dan setelah bangun beliau datang lagi. Suatu hari salah satu pembantu Imam Khomeini sakit. Dia orang desa dan tidak menyampaikan keinginannya. Imam Khomeini berkali-kali mengatakan agar dipanggilkan dokter untuk orang ini. Terkait urusan obat Imam Khomeini juga menanyakan. Dengan mata kepala saya sendiri, terkadang Imam Khomeini menanyakan kabarnya dari balik jendela dan terkadang harus melewati tangga dan menjenguk ke kamarnya dan menanyakan:
“Dokter untukmu sudah datang?”
Atau menanyakan:
“Sudah dibelikan obat? Engkau sudah meminumnya? Engkau mau makan apa? Bagaimana keadaanmu?”
Beliau tidak hanya menyampaikan saja dan mengatakan pada dirinya pasti yang sakit akan diurusi.
Imam Khomeini selain benar-benar penuh kasih sayang, beliau juga seorang yang tawadhu. Beliau berusaha keras untuk hidup sebagaimana masyarakat lainnya. Untuk membeli barang dan kebutuhan hidupnya, beliau memakai kupon sebagaimana yang lain. Sebagaimana di rumah kebanyakan masyarakat tidak bisa membeli sebagian barang karena kehabisan kupon, di rumah Imam Khomeini juga demikian, sebagian barang tidak bisa dibeli karena tidak punya kupon lebih.
Suatu hari Khanum Khazali mendengar karena kehabisan kupon, sabun deterjen tidak terbeli dan akibatnya baju Imam Khomeini tidak tercuci. Dia menceritakan kejadian yang ada kepada Agha Khazali. Akhirnya dikirim sabun deterjen satu kaleng dari rumah Agha Khazali untuk rumah Imam Khomeini. Kejadian ini juga terjadi tentang barang-barang seperti daging ayam. Suatu hari, untuk kesembuhan Imam Khomeini, para dokter memerintahkan agar Imam Khomeini dibuatkan sup ayam. Ibu mengatakan, “Kami tidak punya ayam. Kami tidak diberi kupon. Kemana perginya, saya tidak tahu.”
Akhirnya karena tidak ada ayam, maka tidak dibuatkan sup. Kabar ini sampai kepada salah satu sahabat dan dia sendiri kebetulan punya ayam. Dia mengirimkan beberapa ekor ayam untuk Imam Khomeini supaya dibuatkan sup.
Ketawadhuan dan partisipasi Imam Khomeini kepada masyarakat sedemikian rupa, sehingga beliau juga ikut dalam acara pembacaan takbir bersama di atas atap-atap rumah. Ketika acara pembacaan takbir jam sembilan malam diumumkan, beliau menuju ke balkon untuk ikut menyuarakan takbir bersama masyarakat. Dengan semua ini, bila dibandingkan dengan para ayatullah, beliau memiliki jadwal kehidupan yang berbeda. Kebanyakan bapak-bapak ini ketika masih hidup pergi ke masjid sebagai imam salat jamaah, di bulan Muharam dan Shafar sebagai penceramah. Tapi Imam Khomeini tidak punya acara-acara seperti ini. Yang dilakukan Imam Khomeini hanya membaca dan pentingnya masalah ini ditunjukkan kepada kami melalui amalnya dan kami tidak pernah melihat beliau sebagai imam salat jamaah. Tentunya bila ketika salat dan ada yang salat di belakang beliau [sebagai makmum] maka beliau tidak memprotesnya.
Saya masih ingat ketika saya berusia 10 sampai 11 tahun, karena kami masih kecil dan juga untuk ketenangan dalam mutalaah, pada musim panas kami dibawa ke Darakeh atau Mahallat. Sekalipun kami tidak pernah melihat beliau pergi bertamu atau ke jalan. Dari awal mulai dari terminal ke tempat kediamannya dan sampai akhir musim panas, beliau tinggal di dalam rumah. Pagi hari beliau menghamparkan karpet di halaman sebelah sini dan sibuk mengerjakan sesuatu sampai ketika matahari tergelincir. Ketika matahari tergelincir, beliau berwudhu dan mengerjakan salat kemudian makan siang dan istirahat. Ketika waktu Asar, beliau menghamparkan karpet di halaman sebelah lainnya dan sibuk mengerjakan sesuatu. Dengan demikian, melalui amal beliau menunjukkan kepada kami seberapa jauh kita harus bekerja dan berusaha. Mulai dari masa saya bisa mengingat, masa mutalaah Imam Khomeini berbeda dengan masa hiburan dan kerjanya. Mutalaah Imam Khomeini kami saksikan sejak kami masih kanak-kanak. Pagi ketika kami bangun tidur, kami melihat Imam Khomeini sedang mutalaah. Ibu kami mengatakan bahwa setelah salat Subuh, Imam Khomeini tidak tidur lagi karena mutalaah.
Imam Khomeini sangat menjaga adab Islam. Tapi reaksi beliau berbeda di hadapan berbagai masalah. Terkait hal-hal yang haram dan wajib, beliau sangat keras. Dalam hal-hal mustahab agak berkurang. Suatu hari saya melihat kemarahan Imam Khomeini terkait pelanggaran hal-hal yang haram. Bila kami melihat seseorang melanggar perbuatan haram, maka kami melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Tapi Imam Khomeini marah dan tampak dalam wajah dan pandangannya dan badannya menjadi gemetar.
Saya masih ingat, tidak mungkin setiap kali saya mendengar azan, lalu tidak dibarengi dengan salatnya Imam Khomeini [Imam Khomeini senantiasa salat di awal waktu] baik itu Subuh, Zuhur dan malam. Pada hakikatnya salatnya Imam Khomeini di awal waktu bagi kami merupakan hal yang biasa. Suatu malam jam tujuh, saya ke rumah Imam Khomeini. Setelah saya mendengarkan ringkasan berita, dengan tergesa-gesa saya katakan, “Aku mau mengerjakan salat.”
Saya kerjakan salat kemudian kembali lagi di sisi Imam Khomeini. Saat itu beliau berkata kepada saya:
“Aku merasa bila tidak kusampaikan padamu maka aku sebagai penanggung jawab.”
Kemudian menepukkan tangan ke dadanya dan berkata:
“Yakni aku berpikir, bila tidak kutakakan, maka aku menjadi penanggung jawab. Mengapa engkau begitu meremehkan dalam mengerjakan salatmu?”
Saya menjawab, “Saya di luar rumah di fakultas sains. Setelah dari situ saya pergi ada urusan lain dan saya baru sampai rumah.”
Imam Khomeini berkata:
“Tidak. Atur jadwalmu sedemikian rupa sehingga salatmu di awal waktu. Kamu tahu bahwa salat adalah tiang agama dan bila salat tidak diterima, maka tidak satu ibadahpun akan dilihat.”
Saya berkata, “Allah telah memberikan waktu yang luas untuk kita. Kita jangan sampai menyempitkannya. Saya berpikir bahwa meremehkan salat yakni terkadang mengerjakan salat dan terkadang tidak mengerjakan salat. Bukan misalnya salat harus di awal Maghrib, bukan pada jam tujuh atau delapan malam.” Tapi Imam Khomeini berkata:
“Tidak. Tidak meremehkan dan tidak mengentengkan yakni di mana saja kamu berada, kerjakan salatmu di awal waktu.”
Kemudian Imam Khomeini menceritakan seseorang dan saya lupa siapa namanya. Imam Khomeini berkata:
“Orang ini mengerjakan salatnya demikian, bila dia pergi ke jalan dan mendengarkan suara azan, maka dia akan turun dari mobil dan mengerjakan salatnya di tepi jalan.” (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh