Zarif: Iran Tidak Akan Komitmen Terhadap JCPOA Jika Dilanggar
-
Zarif
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, memperingatkan bahwa Republik Islam akan menghentikan pelaksanaan perjanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif antara Iran dan Kelompok 5+1, jika sanksi AS diperpanjang.
Zarif mengemukakan pernyataan itu ketika menggelar pertemuan dengan tokoh intelektual dan elit India di New Delhi pada Sabtu (312), setelah Senat AS sepakat pada hari Kamis memperpanjang Iran Sanction Act (ISA) selama 10 tahun.
Ditambahkannya, jika AS kembali memberlakukan sanksi, kami tidak akan berkomitmen pada perjanjian.
Dia menambahkan bahwa keputusan Senat AS itu "menunjukkan inkredibilitas pemerintah AS."
Iran menegaskan akan mengambil "tindakan yang tepat" terhadap perpanjangan ISA, dan menilainya sebagai pelanggaran terhadap JCPOA.
Presiden Iran, Hassan Rouhani, pada Sabtu mengatakan bahwa tidak ada pihak yang dapat melemahkan JCPOA yang ditandatangani menyusul upaya tujuh negara yang sejalan dengan perluasan perdamaian dan keamanan internasional.
Sementara itu pejabat tinggi nuklir Iran, Ali Akbar Salehi, yang memainkan peran utama dalam menyimpulkan JCPOA, mengatakan pada Jumat (2/12) bahwa langkah AS merupakan "pelanggaran nyata" terhadap JCPOA.
Salehi, sebagai ketua Organisasi Energi Atom Iran, menambahkan bahwa Republik Islam sepenuhnya siap merespon keputusan Senat AS untuk memperpanjang ISA namun akan bertindak bijaksana dan dengan penuh kehati-hatian.
Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB - Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Cina dan Rusia – ditambah Jerman mulai melaksanakan JCPOA pada tanggal 16 Januari.
Berdasarkan JCPOA, Iran bersedia membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi terkait program nuklir Tehran.(MZ)