AS Temui Pejabat Kuba di Havana; Minta Reformasi Besar-besaran
-
Donald Trump dan Kuba
Pars Today – Associated Press melaporkan bahwa dalam kerangka "tekanan diplomatik baru", pejabat AS dan Kuba baru-baru ini bertemu di Havana. Delegasi AS meminta perubahan fundamental dalam ekonomi dan tata kelola pemerintahan dari otoritas Havana.
Melaporkan dari AP, IRNA, Sabtu, 18 April 2026, delegasi AS bertemu dengan pejabat Kuba di ibu kota negara itu, menandakan upaya diplomatik baru. Meskipun Presiden Donald Trump mengancam Havana dengan intervensi militer, Presiden Miguel Diaz-Canel baru-baru ini menyatakan negaranya siap berperang jika hal itu terjadi.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS yang tidak berwenang berbicara kepada publik mengatakan bahwa seorang pejabat senior pemerintahan Trump, selama kunjungan pekan lalu, bertemu dengan Raul Guillermo Rodriguez Castro, cucu dari Raul Castro, pemimpin Kuba yang telah pensiun. Pertemuan dengan cucu Raul Castro terjadi sementara sang kakek, meskipun tidak memiliki jabatan resmi, diyakini memainkan peran efektif dalam pemerintahan Kuba.
Pejabat AS lainnya mengatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio tidak hadir dalam delegasi tersebut.
Pertemuan Sebelumnya di Saint Kitts dan Nevis
Pejabat AS sebelumnya mengklaim bahwa Rubio bertemu dengan Castro muda di pulau Saint Kitts dan Nevis di Karibia pada bulan Februari lalu.
Pejabat Departemen Luar Negeri tersebut mengatakan bahwa dalam upaya diplomatik luar biasa pekan lalu, yang sebelumnya dilaporkan oleh Axios, delegasi AS meminta perubahan fundamental dalam ekonomi dan tata kelola pemerintahan dari otoritas Havana.
Ini adalah penerbangan pertama pemerintah AS yang mendarat di Kuba (di luar pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo) sejak 2016.
Tukar Menukar: Pelonggaran Sanksi vs Reformasi
Sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi, tuntutan AS meliputi pengakhiran penindasan politik, pembebasan tahanan politik, dan liberalisasi ekonomi pulau yang kacau tersebut.
Di tengah meningkatnya tekanan AS terhadap Kuba, dan Trump pekan lalu mengatakan pemerintahannya dapat fokus pada Kuba setelah perang di Iran berakhir, laporan AP dan Axios tentang kontak pemerintahan Trump dengan cucu Raul Castro menjadi berita yang melampaui sekadar pengungkapan media. Ini bisa menjadi tanda perubahan dalam cara Washington menekan Havana.
Strategi Baru: Pendekatan ke Generasi Muda
Fokus kontak ini, menurut laporan, bukan pada negosiasi resmi dengan pemerintahan yang dipimpin Diaz-Canel, tetapi pada menjangkau generasi baru aktor ekonomi dan politik, pendekatan yang bertujuan memotong inti kekuasaan yang keras dan berinvestasi pada lapisan menengah struktur pemerintahan.
Berita ini muncul saat pemerintah Kuba berulang kali secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk berdialog dengan Washington dengan syarat pengakuan kedaulatan negara tersebut. Presiden Kuba akhir Maret lalu mengumumkan dimulainya dialog bilateral dengan AS untuk "menemukan solusi" terhadap lebih dari enam dekade sanksi sepihak.
"Peace Through Strength" yang Hanya Melahirkan Perang
Kuba mengumumkan dimulainya negosiasi dengan AS sementara kebijakan luar negeri AS, seperti yang dinyatakan Menteri Luar Negeri Rubio, adalah memaksakan "perdamaian melalui kekuatan" di mana pun di dunia, kebijakan yang sejauh ini hanya menghasilkan ekspor perang.
AS telah mempertahankan blokade dan sanksi ekonomi berat terhadap pulau itu sejak Revolusi Kuba, sanksi yang telah berlangsung lebih dari enam dekade.
Trump, dengan mencap Kuba sebagai "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa" bagi keamanan AS dan kawasan, menandatangani perintah eksekutif yang menyatakan "darurat nasional".
Berdasarkan tindakan ini, tarif diberlakukan pada negara-negara yang menjual minyak ke negara Karibia tersebut. Mereka yang melanggar perintah eksekutif diancam akan dibalas.
Krisis Terparah dalam Dekade
Tekanan AS yang meningkat telah mempengaruhi pulau itu di tengah krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade, negara yang bergulat dengan kekurangan barang esensial (makanan, bahan bakar, obat-obatan), inflasi tinggi, dollarisasi parsial, pemadaman listrik berkepanjangan setiap hari, runtuhnya produksi, defisit fiskal besar, dan emigrasi massal. Situasi ini kini memburuk dengan berbagai tindakan paksaan dan sepihak Gedung Putih.
AS mengancam Kuba dengan perang, tetapi di saat yang sama mengirim delegasi rahasia ke Havana, menemui cucu Raul Castro, bukan presiden yang sedang menjabat. Ini bukan diplomasi. Ini upaya merongrong dari dalam.
Mereka ingin reformasi ekonomi dan politik, tetapi dengan cara menghindari kekuasaan yang sah. Transparansi dikesampingkan, tekanan terus meningkat, dan rakyat Kuba yang sudah menderita selama enam dekade blokade kini harus menghadapi babak baru intervensi terselubung.
Trump bicara "perdamaian melalui kekuatan". Namun yang diekspor selama ini hanya perang, sanksi, dan kemiskinan. Kuba mungkin kecil, tetapi sejarah panjang perlawanannya terhadap tekanan asing bukanlah hal yang bisa diremehkan.(sl)