Kontrol Iran atas Hormuz Buka Kerapuhan Ekonomi AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i188654-kontrol_iran_atas_hormuz_buka_kerapuhan_ekonomi_as
Pars Today - Reuters, merujuk pada kegagalan tujuan-tujuan AS yang diklaim dalam agresi militer terhadap Iran, menulis bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz telah mengungkap kerentanan ekonomi Amerika Serikat.
(last modified 2026-04-18T08:25:46+00:00 )
Apr 18, 2026 15:13 Asia/Jakarta
  • Donald Trump dan Selat Hormuz
    Donald Trump dan Selat Hormuz

Pars Today - Reuters, merujuk pada kegagalan tujuan-tujuan AS yang diklaim dalam agresi militer terhadap Iran, menulis bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz telah mengungkap kerentanan ekonomi Amerika Serikat.

Melaporkan dari IRNA, Sabtu, 18 April 2026, kantor berita Reuters menulis bahwa bagi sekutu dan musuh AS, perang ini telah membuka salah satu titik kerentanan utama Trump: tekanan ekonomi.

Laporan itu menambahkan bahwa bahkan ketika Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz untuk pelayaran pada hari Jumat, krisis Timur Tengah menunjukkan bahwa kesediaan Trump untuk menanggung tekanan ekonomi di dalam negeri ternyata terbatas.

Iran Timbulkan Guncangan Energi Global Terburuk

Reuters, merujuk pada keterlibatan AS bersama rezim Zionis dalam agresi militer terhadap Iran, menulis bahwa Trump kini berupaya mencapai kesepakatan diplomatik untuk mencegah konsekuensi perang ini di dalam negerinya.

Media ini menulis bahwa para analis mengatakan Iran telah menunjukkan kemampuannya memaksakan biaya ekonomi yang diremehkan Trump dan asisten-asistennya, serta menimbulkan guncangan energi global terburuk.

Trump secara terbuka mengabaikan kekhawatiran ekonomi domestik akibat perang, tetapi sulit untuk menyangkal bahwa tekanan ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz telah mempengaruhi konsumen AS melalui kenaikan harga energi. Peringatan IMF tentang risiko resesi global menambah kekhawatiran ini.

Rusia dan Tiongkok Belajar dari Perang Ini

Reuters menambahkan bahwa para analis mengatakan pesaing AS seperti Rusia dan Tiongkok mungkin juga mengambil pelajaran dari perang ini: sementara Trump telah menunjukkan antusiasmenya menggunakan kekuatan militer pada periode kedua kepresidenannya, begitu tekanan ekonomi dalam negeri menjadi tidak nyaman, ia akan mencari jalan keluar diplomatik.

Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri AS di pemerintahan Barack Obama yang kini mengepalai firma konsultasi strategi Global Situation Room, mengatakan, "Trump merasakan tekanan ekonomi, itu adalah titik lemahnya dalam perang pilihannya ini."

Petani AS dan Harga Tiket Pesawat Terdampak

Reuters menambahkan bahwa sebagian masalah ekonomi di AS disebabkan oleh gangguan pengiriman pupuk kimia yang berdampak pada petani AS, salah satu basis pemilih kunci Trump, serta tercermin dalam kenaikan harga tiket pesawat akibat melonjaknya harga bahan bakar jet.

Media ini menulis bahwa menjelang berakhirnya gencatan senjata dua minggu, masih harus dilihat apakah presiden AS yang dikenal tidak terduga ini akan mencapai kesepakatan yang memenuhi tujuan perangnya, memperpanjang gencatan senjata, atau melanjutkan kampanye pengeboman.

Para ahli memperingatkan bahwa bahkan jika perang segera berakhir, pemulihan kerugian ekonomi dapat memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Kesalahan Perhitungan Trump

Reuters menulis bahwa Trump, seperti halnya salah menilai respons Beijing dalam perang dagang, tampaknya juga salah perhitungan tentang bagaimana Iran dapat merespons secara ekonomi dalam perang dagang, dengan menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan memblokir jalur air strategis di antara mereka.

Pejabat AS secara pribadi mengatakan bahwa Trump keliru percaya bahwa perang ini akan menjadi operasi terbatas, seperti serangan kilat AS ke Venezuela pada 3 Januari dan serangan Juni lalu ke situs nuklir Iran, tetapi kali ini konsekuensinya jauh lebih luas.

Pesan untuk Sekutu Asia dan Eropa

Pesan dari perang ini untuk sekutu Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mungkin bahwa Trump, yang ingin menjalin hubungan lebih hangat dengan Tiongkok, dapat mengejar tujuan regionalnya tanpa memperhatikan keamanan geopolitik dan ekonomi negara-negara tersebut.

Analis percaya bahwa pemerintahan ini akan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan, termasuk upaya Tiongkok merebut Taiwan, karena kekhawatiran tentang dapat diandalkannya Trump. Para analis juga mengatakan negara-negara Eropa, yang kesal menanggung beban ekonomi perang yang tidak pernah mereka minta, kemungkinan akan semakin kesal dengan komitmen Trump untuk terus membantu Ukraina dalam perang melawan Rusia.

Negara-negara Arab Teluk ingin perang segera berakhir, tetapi jika Trump mencapai kesepakatan tanpa jaminan keamanan bagi mereka, mereka juga akan kecewa.

Trump mengira ini akan menjadi operasi cepat. Ternyata Iran mampu mengubahnya menjadi ujian ekonomi yang menyakitkan bagi Amerika sendiri. Harga energi naik, petani terganggu, sekutu mulai meragukan komitmen AS.

Kendali Iran atas Hormuz tidak hanya mengganggu pasar global, tetapi juga menunjukkan bahwa tekanan ekonomi bisa menjadi pisau bermata dua. Dan di ujung yang lain, Trump merasa panas.

Dunia sedang belajar: agresi militer tanpa perhitungan matang hanya akan melukai penyerangnya sendiri. Dan Iran, dengan sabar, mengajarkan pelajaran itu dengan cara yang paling mahal.(sl)