Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (11)
-
Imam Khomeini ra
Apakah Imam Khomenei dibawa ke ruang operasi sebagaimana rencana yang Anda sebutkan?
Iya. Beliau dibawa ke dalam ruang operasi dan dilakukan sesuatu untuk beliau, [tentunya bukan operasi]. Melakukan sesuatu yang semaksimal mungkin demi menyelamatkan Imam Khomeini. Setelah itu bapak dokter Thabathabai lari dan berkata, “Alhamdulillah telah dilaksanakan dan berhasil dengan baik.” Kamipun gembira, pada akhirnya hal itu berhasil dengan baik. Imam Khomeini kembali dibawa ke kamarnya dan tampaknya masih dalam kondisi tidak sadar.
Kembali lagi kondisi beliau memburuk dan para dokter yang ada mulai melakukan sesuatu. Saya melihat kondisi beliau sangat parah. Sebagian dokter melakukan sesuatu dan dokter yang lainnya berada di sudut. Setiap orang di sebuah sudut sedang menangis. Seseorang menempelkan wajahnya ke dinding dan menangis. Saya melihat dokter Ansari memegang al-Quran dan membacanya. Dokter Pourmoghaddas berada di sebuah sudut dan duduk di lantai. Sedangkan saya berdiri di sebelah kiri Imam Khomeini menghadap ke monitor. Pandangan saya tertuju ke arah Imam Khomeini dan monitor. Terkadang monitor tandanya mulai lurus. Dan pandangan saya senantiasa menuju pada Imam Khomeini dan monitor. Ternyata tiba-tiba Imam membuka matanya dan memandang ke atap, sehingga semua yang hadir menangis dan memukul-mukul kepalanya. Pada saat itu bapak-bapak yang ada di halaman dan datang dari sejak pagi dan para pejabat, semuanya masuk ke dalam ruangan dan ruangan menjadi penuh. Suara tangisan menyeruak. Saya mendengar suara putra saya keras-keras berkata, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Asyhadu Alla Ilah Illallah.” Dengan sedih saya berkata, “Imam mendengar, jangan kau katakan! Demi Allah, Imam mendengar!” Pada saat itu saya melihat dua kali wajah Imam tampak lebih baik dan kondisinya membaik. Lalu saya terus menerus mengucapkan, “Amman Yujibu...” Kondisi Imam Khomeini membaik. Tampaknya alat-alat yang ada disambungkan ke Imam Khomeini. Bapak-bapak juga keluar dari ruangan, tapi saya tetap berada di ruangan itu. Dokter Arefi datang dan berkata, “Sebaiknya Anda keluar saja.” Saya katakan, “Mengapa Anda mengatakan hal itu kepadaku? Saya adalah orang dekat Imam. Suruh keluar saja bapak-bapak ini.”
Setelah beberapa saat, Imam Khomeini kembali dibawa ke ruang operasi. Sepertinya ada yang harus dilakukan pada leher atau di dada bagian atas dan saya melihatnya dari tv. Ketika beliau dikembalikan lagi ke kamarnya, mereka berkata, “Kondisi Imam Khomeini lebih baik.” Namun sudah jelas, semuanya tampak putus asa. Saya menemui dokter Pourmoghaddas dan berkata, “Bapak dokter, katakan yang sebenarnya kepada saya. Saya siap mendengarnya.” Dia mengatakan, “Sampai empat jam lagi, paling lama lima jam lagi.” Saya sama sekali tidak berharap mendengan ucapan ini. Dengan segala kekuatan, saya tidak berharap mendengarkan ucapan ini. Saya menunggu dan siap mendengarkan apa saja tapi tidak siap sama sekali mendengarkan ucapan ini. Saya bolak balik dan duduk di sudut tangga. Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Dikatakan, “Jangan katakan kepada keluarga, mereka tidak tahan, boleh jadi menyedihkan mereka.”
Anak-anak perempuan dan yang lainnya tidak tahu. Saya duduk di tepi halaman dan menunggu apa yang akan terjadi. Di halaman dihamparkan karpet dan bapak-bapak duduk di atasnya; sedang membahas tentang apa yang akan terjadi dan harus dibentuk sebuah pertemuan. Dalam pertemuan ini, hendaknya bapak-bapak yang dari kota-kota lain diberi tahu. Bagaimanapun juga semua tahu bahwa masalahnya sudah selesai dan mencari jalan jangan sampai spontan kaget. Saya keluar beberapa menit. Kemudian saya masuk lagi ke dalam. Sampai akhirnya dikabarkan bahwa bapak-bapak kembali ke kamar [Imam Khomeini]. Saya kembali melihat kondisi Imam Khomeini memburuk dan para dokter sibuk melakukan sesuatu. Namun usaha mereka tidak lagi berfaedah. Pandangan saya tertuju pada monitor dan angkanya menurun dan semakin menurun; 27, 17, 12...begitu sampai pada angka 12, tiba-tiba berhenti dan bergaris lurus. Saya melihat wajah Imam Khomeini dan kali ini wajah beliau begitu tenang.
Kabel-kabel yang menyambung ke tubuhnya dilepas. Orang-orang mengerubuti beliau. Beliau telah meninggal dunia. Saya pun berdiri di tepian dan hanya menjadi penonton. Saya tidak melakukan apa-apa sama sekali. Bahkan berpikirpun, tidak. Seakan-akan saya datang hanya untuk menonton. Sampai ketika ibu-ibu mengabarkan kepada saudari saya Seddighe Khanum, dia datang dan menjerit. Dia dituntun dan dibawa keluar dari sana. Yang lainnya menangis. Suara tangisan menyeruak keras dan saya berdiri di sebuah sudut dan menonton. Sampai ketika semuanya harus keluar dan ketika kami keluar dari ruangan, Agha Hashemi kepada saya berkata, “Kesinilah!” Tentunya waktu itu saya tidak punya kesiapan untuk berbicara. Saya katakan, “Agha Hashemi! Demi Allah sekarang bukan waktunya berbicara. Dia mengatakan, “Tidak. Apa yang ingin saya sampaikan terkait saat ini.” Ia kemudian berkata, “Saya melihat Anda lebih kuat dari yang lainnya dan kita punya banyak musuh. Menurut kami, masalah ini jangan diumumkan besok. Kami akan mengumpulkan semua imam salat Jumat dan wakil Imam dan kami meminta mereka untuk datang ke Tehran dan kita adakan pertemuan untuk menyampaikan seluruh masalah kemudian mereka kembali ke kotanya [masing-masing]. Kemudian kita umumkan pada hari berikutnya yakni lusa. Karena bila seandainya di kota-kota terjadi kerusuhan dan musuh ingin melakukan sesuatu, semuanya harus bersatu dan untuk mengetahui apa acara mereka dan apa reaksi kita. Saya meminta kepada Anda agar seseorang tidak menangis.” Kemudian dia menghadap ke arah bapak-bapak dan berkata, “Bapak-bapak! Kita punya musuh banyak. Saya meminta kepada kalian, agar seseorang suaranya tidak keras dan jangan sampai ada yang tahu.” Dan bapak-bapak pun tenang dan diam, masing-masing menundukkan kepalanya.
Kemudian saya kembali menemui dokter Arefi dan berkata, “Bapak dokter! Saya ingin pergi ke ayah saya.” Dia membuka pintu dan saya pergi ke dalam. Beliau tidur tenang. Saya memegang dahinya dan mencium wajahnya serta sedikit berbicara dengan beliau. beliau tidak menjawab apa-apa. Pada saat itu dokter Thabathabai [menantu saya] datang dan membangkitkan saya. Sampai sekarang, bila saya ingat tidak boleh lama-lama di sisi Imam, saya merasa sedih. Saya katakan, “Kondisiku tidak buruk. Saya sendiri tahu. Saya tidak akan sedih. Aku ingin tinggal di sini.” Dia mengatakan, “Anda sekarang tidak tahu.” Dan dia tidak mengizinkan saya tinggal di situ dan membawa saya keluar. Tentunya saya kembali yang kedua kalinya. Tapi saya tidak menemuinya dalam keadaan wajah terbuka. Saya ke rumah ibu. Sungguh saya teringat pada para imam [maksum as] bagaimana dikatakan jangan sampai suara mereka terdengar. Tentunya waktu itu musuh yang mengatakan suara mereka jangan sampai kedengaran dan di sini sahabat yang mengatakan. Saya masuk ke ruang bawah tanah rumah ibu, di sana ada khanum Hashemi dan khanum Tavassoli. Dikatakan jangan sampai ada yang tahu. Ibu juga awal malam menemui Imam Khomeini dan melihat kondisinya dan menurut beliau juga tidak buruk. Kemudian beliau pergi tidur. Sayapun memaksa ibu, “Ibu! Anda lelah! Tidurlah!”
Kami pergi ke ruang bawah tanah, kami tutup kordennya dan kami menangis pelan-pelan untuk diri kami sendiri. Sepakat suara tangisan kami tidak boleh terdengar. Setelah pukul dua atau tiga pagi, saya keluar menuju halaman kecil tempat jenazah Imam Khomeini dimandikan. Karena mereka non mahram, saya tidak bisa mendekat. Mereka sedang sibuk. Terkadang saya menjenguk dan kembali lagi. Di pagi hari saya berpikir, bagaimana masyarakat bisa bertahan dengan segala kecintaan mereka kepada Imam Khomeini. Saya memegang radio dan mendengarkan berita jam tujuh dan suara penyiarnya. Semuanya telah selesai. (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh