Tujuan Kunjungan Menlu Perancis ke Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i32045-tujuan_kunjungan_menlu_perancis_ke_iran
Menteri Luar Negeri Perancis mengunjungi Republik Islam Iran untuk bertemu para pejabat senior negara ini dan membicarakan perluasan hubungan bilateral antara Paris dan Tehran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 30, 2017 15:18 Asia/Jakarta
  • Tujuan Kunjungan Menlu Perancis ke Iran

Menteri Luar Negeri Perancis mengunjungi Republik Islam Iran untuk bertemu para pejabat senior negara ini dan membicarakan perluasan hubungan bilateral antara Paris dan Tehran.

Jean-Marc Ayrault menunjungi Tehran, ibukota Iran pada Senin, 30 Januari 2017. Menurut Kementerian Luar Negeri Perancis, dialog tentang cara pelaksanaan perjanjian nuklir yang disepakati pada 14 Juli 2015 merupakan poros terpenting kunjungan Ayrault ke Iran.

 

Kunjungan Menlu Perancis ke Iran dilakukan ditengah-tengah berbagai protes termasuk dari negara-negara Uni Eropa terhadap posisi Donald Trump, Presiden baru Amerika Serikat mengenai JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif).

 

Proses hubungan antara Iran dan Perancis pasca JCPOA tidak bisa dinilai sebagai hubungan yang 100 persen positif atau secara mutlak negatif. Mungkin dapat dikatakan bahwa hubungan tersebut hanya merupakan penyesuaian dengan kondisi baru pasca JCPOA.

 

Perbedaan politik dan kebijakan dalam pandangan makro mengenai berbagai isu regional dan global di antara berbagai negara adalah hal yang wajar, namun perbedaan ini biasanya akan menjadi penghalang atau mungkin saja justru memperlancar proses perkembangan hubungan bilateral.

 

Aspek terpenting dalam hubungan antara Iran dan Perancis adalah bidang ekonomi. Kunjungan perdana Hassan Rouhani, Presiden Iran ke Perancis tahun lalu dan pertemuan dengan para pejabat tinggi Paris telah menghasilkan berbagai kesepakatan dan Nota Kesepahaman (MoU) di sektor ekonomi.

 

Di antara kesepakatan antara Iran dan Perancis itu adalah pembelian hampir 100 unit pesawat penumpang dari perusahaan Airbus meskipun hingga sekarang semua perjanjian dan Mou tersebut belum terlaksana.

 

Turut sertanya perwakilan dari sekitar 60 perusahaan Perancis dalam kunjungan Ayrault keTehran menunjukkan bahwa pintu-pintu ekonomi Iran terbuka untuk kerjasama ekonomi dengan Perancis. Namun gerakan di sektor ini tampaknya menghadapi tantangan disebabkan kebijakan dan keputusan politik sepihak AS, di mana untuk melewati hal ini harus ditempuh jalan panjang.

 

Sejumlah pihak meyakini pandangan bahwa untuk mencapai perkembangan ekonomi, maka harus  memasuki jaringan global yang kompleks dan menyesuaikan dengan jaringan tersebut. Namun Iran sejak kemenangan Revolusi Islam telah membayar mahal untuk tetap berdiri di atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai Revolusi tersebut dan menghadapi tantangan dengan penuh ketegaran.

 

Kesabaran Iran dalam menghadapi perang yang dipaksakan rezim Saddam Irak selama delapan tahun dan sanksi-sanksi tidak adil Barat –di mana kontribusi Perancis dalam hal ini juga tidak kecil– menyiratkan bahwa Iran tidak akan membiarkan pandangan internal dan eksternal hubungannya dengan negara lain keluar dari prinsip dan standar Revolusi.

 

Landasan dan dasar kerjasama ekonomi Iran dengan negara-negara lain termasuk Perancis juga tidak terkecualikan dari prinsip tersebut. Perancis adalah termasuk dari negara yag secara langsung mengirimkan berbagai delegasi ekonomi ke Iran pasca penandatanganan JCPOA.

 

Delegasi-deleasi itu meliputi para direktur perusahaan-perusahaan besar mobil seperti Peugeot dan Citroen hingga direktur-direktur perusahaan yang bergerak di bidang operasi energi dan manufaktur kimia, terutama dalam bidang industri minyak dan gas, seperti Perusahaan Total. Selain itu, para investor Perancis juga mengunjungi Iran menyusul penawaran kerjasama di sektor pembangunan hotel dan pertanian.

 

Namun untuk menjalin kerjasama, Iran masih mempertimbangkan masa lalu pihak-pihak ekonomi dari negara yang ingin menjalin hubungan. Di masa lalu, kebijakan Perancis terhadap Iran mengalami pasang surut, dan hingga sekarang masih banyak protes terhadap kinerja Perancis terutama kebijakan standar ganda negara ini terkait dengan terorisme dan Hak Asasi Manusia. Contohnya adalah dukungan Paris kepada kelompok teroris Mujahidin-e Khalq yang telah membunuh belasan ribu warga Iran.

 

Dengan demikian, sejauh mana transparansi negara-negara asing dalam berinteraksi dengan Iran, maka sejauh itu pula cakrawala masa depan dalam hubungan mereka. Eropa mungkin sampai satu dekade yang lalu merupakan salah satu mitra besar perdagangan Iran, namun sekarang kondisi telah berubah dan berbeda dengan situasi di masa lalu.

 

Untuk mencapai kemajuan dan perkembangan, Iran telah menghancurkan berbagai monopoli, dan iklim saat ini menuntut pengembangan hubungan termasuk dengan Perancis dalam kerangka memperkuat infrastruktur dan menyiapkan kondisi untuk mencapai teknologi baru. (RA)