Hakikat AS Menurut Perspektif Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan dengan kepala tiga lembaga tinggi Republik Islam Iran, sejumlah pemimpin lembaga pemerintahan dan sekelompok aktivis politik, sosial dan budaya, pada Senin sore, 12 Juni 2017, menjelaskan sifat sejati Amerika Serikat.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya itu menyinggung langkah-langkah kotor AS pasca pemilu Presiden Iran. Rahbar mengatakan, kekuatan-kekuatan arogan menggunakan berbagai cara untuk memaksakan diktenya kepada pihak lain.
Ayatullah Khamenei menambahkan, salah satu cara mereka adalah mengejar kepentingannya dalam konteks "norma-norma internasional," di mana dengan cara ini, mereka menuding negara-negara independen dan penentang despotisme sebagai pelanggar norma internasional.
Rahbar menyinggung pernyataan terbaru para pejabat AS tentang Iran, dan menjelaskan, para pejabat Washington baru-baru ini dalam konteks norma internasional memperkenalkan Iran sebagai perusak stabilitas di Timur Tengah, di mana untuk merespon tuduhan ini, kita pertama-tama harus bertanya, "apa kaitannya kalian dengan Timur Tengah? Dan kedua, pemicu instabilitas regional adalah kalian dan para kaki tangan kalian."
Penjelasan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran itu mengungkap tujuan-tujuan AS dalam konteks "norma-norma internasional," di mana jika dipikirkan dengan benar tentang hal itu, maka penyebab utama berbagai persoalan akan menjadi jelas.
Noam Chomsky, kritikus sosial dan aktivis politik terkenal Amerika dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, menyinggung pernyataan para pejabat AS yang mengatakan bahwa Iran merupakan ancaman terbesar. Ia mengatakan, AS menganggap Iran sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian, namun berdasarkan survei di Amerika dan jajak pendapat Gallup, dunia meyakini bahwa AS adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dunia.
Chomsky bukan satu-satunya orang yang berbicara tentang fakta terkait tujuan-tujuan terbuka dan tersembunyi AS. Rand Paul, Senator dari Partai Republik Amerika dalam sidang Senat beberapa bulan lalu mengatakan, karena kekhawatiran besar tentang Iran hingga kami lupa peran ekstremis Wahhabi Arab Saudi dalam konflik regional dan terorisme global . Ia menegaskan, sebagian besar dukungan kepada ekstremisme dan terorisme berasal dari Arab Saudi, dan bukan dari Iran.
Peran AS dalam menyulut berbagai perang dan konflik internasional, pelanggaran perjanjian-perjanjian internasional dari Konvensi IklimTokyo (Protokol Kyoto) hingga Perjanjian Iklim Paris, pengabaian terhadap NPT, penggunaan senjata nuklir hingga memulai perang pre-emptive dengan dalih memerangi terorisme, menciptakan hambatan dalam perdagangan bebas internasional dan dukungan kepada kelompok-kelompok teroris Takfiri termasuk Daesh (ISIS) merupakan pelanggaran Amerika terhadap norma-norma di arena internasional.
Pelanggaran terhadap norma-norma internasional dan tindakan dekstruktif tersebut telah cukup bagi dunia untuk mengetahui hakikat dan peran sebenarnya AS di tingkat regional dan internasional, dan memahami pula apakah Amerika benar-benar mengejar penyelesaian persoalan dunia atau negara itu justru menjadi bagian dari persoalan itu dan bahkan pencipta ancaman, krisis dan perang.
Tidak diragukan lagi bahwa penjelasakan Pemimpin Besar Revolusi Islam kepada para pejabat pemerintah Iran memiliki multi dimensi yang penting, di mana salah satunya adalah mengenal dan memperhatikan hakikat sebenarnya AS. Namun yang lebih penting dari itu adalah strategi makro pemerintah Republik Islam dalam menghadapi ancaman dan perilaku AS terhadap Iran di tingkat internasional.
Ayatullah Khamenei menegaskan kembali pentingnya untuk memperkuat kemampuan militer dan keamanan serta pengeloalan peluang dan ancaman dalam menghadapi tekanan ekonomi dan inkonsistensi AS dalam melaksanakan perjanjian nuklir, JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif).
Mengingat fakta-fakta nyata dan tersembunyi dalam kebijakan dan perilaku AS yang telah dijelaskan oleh Rahbar, maka banyak persoalan tidak dapat diselesaikan dengan Amerika. Menurutnya, berdirinya pemerintah Islam di kawasan penting dan kaya seperti Iran dan pengambilan kebijakan independen merupakan faktor utama permusuhan AS terhadap Republik Islam Iran.
Rahbar mengatakan, ada banyak perkara dengan AS yang benar-benar tidak bisa dipecahkan, karena masalah AS dengan kita bukan karena isu-isu seperti energi nuklir dan Hak Asasi Manusia, tapi masalah mereka adalah prinsip Republik Islam.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, mereka menentang prinsip independensi Republik Islam Iran dan bahkan jika sebuah pemerintahan yang tidak agamis dan tidak revolusioner berdiri di negara ini, namun independen dalam mengambil kebijakan, maka penentangan itu akan tetap ada.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menilai isu-isu seperti HAM, terorisme dan klaim bahwa Iran adalah penyebab instabilitas di kawasan sebagai dalih AS untuk memusuhi Republik Islam. Ayatullah Khamenei menuturkan, AS adalah teroris dan pengembang biak teroris serta pendukung rezim seperti rezim Zionis yang merupakan otak terorisme, di mana rezim ini muncul dengan teror dan genosida.
Ayatullah Khamenei kemudian menyinggung peran AS dalam menciptakan Daesh dan menyediakan dukungan militer dan logistik kepada kelompok tersebut. Menurutnya, klaim pembentukan koalisi anti-Daesh adalah sebuah kebohongan, AS tentu saja menentang Daesh yang tidak bisa dikontrol. (RA)