Trump dan Ancamannya terhadap Iran Menurut Rahbar
https://parstoday.ir/id/news/iran-i39750-trump_dan_ancamannya_terhadap_iran_menurut_rahbar
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Ahad (18/6) sore saat bertemu dengan keluarga para syuhada pasukan penjaga perbatasan dan penjaga makam suci seraya menekankan bahwa para syuhada berhak hidup di negara ini, mengisyaratkan statemen konfrontatif dan acaman terbaru petinggi Amerika.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Jun 19, 2017 11:26 Asia/Jakarta

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Ahad (18/6) sore saat bertemu dengan keluarga para syuhada pasukan penjaga perbatasan dan penjaga makam suci seraya menekankan bahwa para syuhada berhak hidup di negara ini, mengisyaratkan statemen konfrontatif dan acaman terbaru petinggi Amerika.

Seraya menilai berlebih-lebihan statemen seperti ini, Rahbar mengatakan, "Pernyataan berlebih-lebihan Presiden AS itu bukan hal baru, karena pemerintah Islam sejak awal telah menghadapi berbagai makar, namun mereka yang menginginkan keburukan untuk bangsa Iran tidak dapat melakukan apa-apa."

Lebih lanjut Rahbar menjelaskan, "Ketika pemerintah Islam seperti tunas yang baru tumbuh dan rentan saja mereka tidak mampu mengusik, apalagi sekarang ketika pemerintah ini telah menjadi sebuah pohon yang kokoh."

Terkait pernyataan terbaru pejabat AS soal upaya mengubah pemerintah Islam, kepada mereka Rahbar mengatakan, "Selama 38 tahun terakhir, kapan kalian tidak pernah menginginkan perubahan pemerintah Islam, akan tetapi kalian selalu gagal dan selanjutnya juga akan demikian."

Ayatullah Khamenei menilai para pejabat baru Gedung Putih kurang pengalaman dan mengatakan, para pejabat AS sejak kemenangan Revolusi Islam berupaya menggulingkan pemerintah Republik Islam Iran, akan tetapi mereka yang menyimpan keinginan tersebut akan membawa mimpi itu hingga ke liang kubur mereka dan selanjutnya juga akan seperti itu.

Menurut Rahbar, keamanan saat ini di dalam negeri adalah berkat [pengorbanan] para pasukan penjaga perbatasan dan penjaga makam suci. Seraya memuji peran para syuhada penjaga makam suci, Rahbar menandaskan, jika bukan karena mereka, maka saat ini kita sedang berperang dengan anasir-anasir penebar fitnah, kejam dan musuh Ahlul Bait as di kota-kota Iran, karena mereka hendak menyusup Iran melalui perbatasan Irak, akan tetapi berhasil dicegah dan dimusnahkan, dan sekarang mereka sedang hancur di Irak dan Suriah.

Jika kita membuka lembaran sejarah sikap Amerika terhadap Iran selama setengah abad lalu, kita akan menyaksikan bahwa Washington senantiasa mengancam Tehran. Ancaman dalam bentuk perang lunak masih terus berlanjut dan mengindikasikan bahwa AS menggunakan seluruh metode untuk merusak revolusi dan pemerintahan Republik Islam Iran.

Republik Islam Iran dewasa ini dikenal sebagai negara yang berhadapan dengan Amerika Serikat dan kekuatan hegemoni dunia. Resistensi ini menunjukkan kesadaran bangsa dan pemerintah Iran atas esensi musuh. Musuh yang pernah mengacaukan kawasan dengan perang melalui dukungannya terhadap rezim Saddam Husein dan saat ini menyalahgunakan perang kontra terorisme untuk memajukan proyek mengubah peta politik di Timur Tengah.

Sejak kemenangan Revolusi Islam Iran dan Republik Islam berhasil mematahkan tangan Amerika, pemerintah Gedung Putih baik itu Republikan atau Demokrat berulang kali menggunakan retorika konfrontatif seperti ini. Dengan kemenangan Donald Trump di pemilu presiden 2016, muncul banyak pertanyaan bahwa apakah berkuasanya Trump akan ada perubahan perilaku permusuhan Washington terhadap Iran dan apakah Trump berbeda dengan Reagen, Bush atau Obama serta apakah perbedaan ini akan membawa proses permusuhan AS terhadap Iran memasuki fase baru?

Marie-Cécile Naves, sosiolog asal Perancis dan pengamat Amerika di analisanya terkait prilaku Trump meyakini, Donald Trump melalui konfrontasi dengan Iran ingin mengubah perimbangan Timur Tengah untuk kepentingan ekonomi bukan geopolitik dan hal ini selaras dengan kepribadian presiden baru Amerika.

Realitanya adalah kondisi kawasan saat ini dan munculnya fenomena seperti Trump, merupakan warisan dari elit politik Amerika Serikat. Kita jangan lupa bahwa tidak ada banyak perbedaan atas esensi perilaku antara Trump dengan elit politik AS sebelumnya. Hanya saja Trump tidak berpengalaman di banding dengan pendahulunya dan pada dasarnya ia tidak memahami akan strategi dan rasionalitas politik. Namun hingga Trump dan orang-orangnya memahami dengan benar apa yang tengah terjadi di Amerika dan dunia, bisa saja akan muncul beragam peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan AS sendiri atau negara lain.

Petinggi Amerika baik di masa lalu atau yang tengah berkuasa saat ini mengerahkan segenap upayanya untuk merusak Iran, namun mereka harus memahami siapa saja yang melanggar bangsa Iran maka tak diragukan lagi mereka akan terkena imbasnya sendiri.

Seperti yang ditekankan Rahbar, “Baik musuh, sahabat yang tulus atau sahabat yang terkadang hatinya goyah, mereka harus menyadari bahwa Republik Islam Iran sangat kuat dan berdiri dengan ototitas penuh serta musuh tidak akan mampu menampar bangsa Iran, tapi sebaliknya justru bangsa Iran yang akan menampar mereka...” (MF)