Menilik Strategi Rusia-Tehran Pasca Sanksi Baru AS
Beberapa hari ini, Tehran menjadi tuan rumah petinggi dari lima benua yang datang ke Iran menghadiri acara pelantikan presiden Republik Islam Iran ke-12, Hassan Rouhani. Acara pelantikan tersebut digelar Sabtu (5/8) sore di Gedung Parlemen Republik Islam. Peristiwa ini menjadi kesempatan lobi dan perundingan antara petinggi tuan rumah dan para tamu.
Dalam hal ini, Deputi perdana menteri sekaligus utusan khusus presiden Rusia Dmitry Rogozin bertemu dengan Menteri Pertahanan Republik Islam Iran, Hossein Dehghan. Pertemuan ini digelar di Departemen Pertahanan Iran dan kedua pihak selain membahas transformasi terbaru regional dan internasional, menekankan peningkatan hubungan pertahanan serta mempercepat pelaksanaan kesepakatan di antara kedua negara.
Rogozin menjelaskan, "Mengingat sanksi baru yang dijatuhkan Amerika Serikat kepada Iran dan Rusia, Moskow berencana mengkaji pengokohan kerja sama kedua negara dengan Tehran."
Penekanan ini sejatinya mengingatkan keputusan beberapa bulan lalu di pertemuan Presiden Hassan Rouhani dan sejawatnya dari Rusia, Vladimir Putin. Hassan Rouhani pada 28 Maret 2017 saat bertemu dengan Putin di Moskow menyebut hubungan kedua negara tengah mengarah ke hubungan strategis. Sementara itu, Putin di kesempatan tersebut menyebut Iran sebagai tetangga baik, mitra terpercaya dan stabil bagi Rusia.
Kini pertanyaannya adalah apakah kondisi telah tersedia bagi kedua untuk meningkatkan hubungan mereka ke level strategis?
Tehran dan Moskow dalam prakteknya menunjukkan bahwa keduanya menerapkan kebijakan kokoh dan efektif di transformasi regional dan internasional serta tidak membuang-buang peluang untuk mengalang kerja sama. Namun yang mempercepat proses ini adalah eskalasi permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran dan Rusia.
Sepertinya kebijakan sabar dan menunggu untuk kondisi saat ini tidak lagi mampu menjawab kendala Amerika yang semakin besar. Baik Iran maupun Rusia memiliki pengalaman bahwa Amerika ingin merusak stabilitas dan keamanan regional dan ancaman serta permusuhan ini tengah terjadi di wilayah tetangga Iran dan Rusia serta di kawasan. Statemen Rogozin membenarkan realita ini.
Sebelumnya Igor Shuvalov, deputi pertama perdana menteri Rusia pada Februari 2017 di sela-sela kunjungannya ke Tehran mengatakan, "...Penekanan Rusia untuk memperluas hubungan politik dan ekonomi dengan Republik Islam Iran membawa pesan kepada dunia bahwa Moskow menganggap Tehran sebagai mitra strategisnya."
Kini dapat dikatakan bahwa Iran dan Rusia dengan saling memahami ancaman yang ada di kawasan serta menyadari esensi serta tujuan Amerika di kawasan, mulai meniti hubungan dan kerja sama strategis.
Petinggi kedua negara di perundingan politik juga mengungkapkan hal ini serta menekankan bahwa mereka mengejar perluasan kerja sama bilateral yang efektif di isu-isu global dan regional termasuk perang kontra terorisme serta menyelesaikan krisis di kawasan. Namun begitu hal ini tidak berarti pandangan Iran dan Rusia di seluruh bidang harus sama. (MF)