Tehran Tuan Rumah Babak Baru Lobi Krisis Suriah
Pakar militer Rusia, Iran dan Turki pada 8-9 Agustus 2017 bertemu dan menggelar lobi di Tehran terkait krisis Suriah.
Sputnik Ahad (6/8) mengutip Sergei Lavrov, menteri luar negeri Rusia seraya memuat berita ini menambahkan, di sidang mendatang, perundingan terkait pengokohan zona aman dan tanpa bentrokan di Suriah terus berlanjut.
Hingga kini telah digelar lima babak perundingan yang dipimpin delegasi negara-negara ini dan dihadiri perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pemerintah Suriah, kubu oposisi dan negara pengawas. Babak terbaru perundingan Astana digelar 4-5 Juli lalu dan dibicarakan pembentukan empat zona aman di Suriah dan upaya memajukan rencana tersebut.
Di babak keempat perundingan Astana dicapai kesepakatan untuk menciptakan empat zona mini tensi yang mencakup Provinsi Idlib, wilayah utara Homs, Ghautah Timur dan Qunaitra di selatan Suriah.
Utusan khusus sekjen PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura menilai prestasi sidang ini di bawah upaya keras Iran, Rusia dan Turki sebagai langkah menjanjikan untuk mencapai kesepakatan mencegah meningkatnya bentrokan di Suriah.
Tujuan Iran adalah upaya bersama mengakhiri perang di Suriah, mengembalikan kehidupan normal di negara ini serta rakyat Suriah memiliki pemerintahan dengan kesatuan wilayah dan perbatasan yang aman.
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani di acara pelantikan dirinya sebagai presiden baru untuk empat tahun mendatang, setelah mengucapkan sumpat di pidatonya mengatakan, solusi krisis di kawasan seperti di Suriah dan Yaman hanya mungkin dengan diakhirinya perang dan kekerasan, pengiriman bantuan kepada warga, perang melawan radikalisme serta menerima suara dan pendapat warga di negara tersebut serta dialog Suriah-Suriah dan Yaman-Yaman.
Proses transformasi yang berlaku di Suriah dan khususnya kemajuan pesat mengusir teroris membenarkan realita ini bahwa skenario penumbangan pemerintah Suriah dan disintegrasi negara ini mengalami kegagalan. Selain itu, proyek AS-Israel yang dilancarkan sejak tahun 2006 untuk memisahkan Suriah dari poros muqawama mengalami kebuntuan.
Kini ada dua masalah penting di Suriah, pertama mempertahankan gencatan senjata menyeluruh dan memperluas zona aman di seluruh negara ini. Adapun yang kedua adalah menindaklanjuti perundingan Suriah-Suriah.
Kesepakatan sidang Astana dengan segala ketakutan dan harapannya, kini menciptakan peluang penting untuk menggapai perdamaian dan juga melawan teroris. Oleh karena itu, jika kita memandang perundingan ini dari segala sudut, kita akan menyaksikan indikasi pergerakan ke arah pencapaian solusi politik di krisis Suriah.
Seiring dengan perubahan penting di pentas politik dan militer serta medan tempur selama satu tahun terakhir di Suriah, isu Damaskus kini memasuki fase baru dan unsur terpentingya adalah terbentuknya dialog Suriah-Suriah dengan dengan dukungan PBB.
Penerapan gencatan senjata di Suriah adalah prestasi pertama kesepakatan trilateral Moskow dan kini prestasi terpenting dari kesepakatan ini adalah kemajuan dalam meredam kekerasan di berbagai wilayah Suriah. Meski demikian masih harus ditunggu langkah berikutnya dalam kasus ini di sidang Tehran. (MF)