Kerjasama Keamanan Iran dan Turki
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Baqeri bersama para pejabat tinggi politik dan militer melakukan kunjungan tiga hari ke Turki sejak Selasa lalu.
Mayjend Baqeri kepada wartawan IRIB pada Rabu (16/8/2017) malam, mengatakan kedua negara bertekad mempererat hubungan di semua bidang khususnya kerjasama militer dan pertahanan.
Hubungan pertahanan bilateral, perkembangan regional, perang melawan terorisme, dan kerjasama perbatasan merupakan isu-isu kunci yang dibahas Mayjend Baqeri dengan Jenderal Hulusi Akar, rekannya dari Turki.
Komandan senior militer Iran ini juga telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Menteri Pertahanan Nurettin Canikli dan beberapa pejabat tinggi Turki lainnya.
Meski Tehran dan Ankara berbeda pandangan dalam beberapa isu keamanan di wilayah Asia Barat dan bahkan saling berseberangan dalam kasus tertentu, tapi kedua pihak sepakat tentang perang melawan terorisme dan kebutuhan akan keamanan kolektif.
Seperti Iran dan Rusia, kedua negara memiliki perbedaan pandangan dalam banyak masalah, tapi mereka punya kesepahaman terkait isu-isu penting seperti menjaga stabilitas dan keamanan serta perang melawan terorisme.
Kesepahaman Tehran dan Moskow mengenai isu-isu keamanan telah mendorong kemajuan perundingan untuk memecahkan krisis Suriah dan dialog Astana terus mencatat kemajuan di samping kemenangan yang dicapai di lapangan dalam menumpas Daesh dan kelompok-kelompok teroris lainnya di Suriah.
Kesuksesan tersebut merupakan hasil dari sebuah inisiatif yang diprakarsai langsung oleh Iran, Rusia, dan keikutsertaan Turki.
Pemerintah Turki selama ini mendefinisikan pergantian penguasa di Suriah dalam konteks kepentingan keamanannya. Namun para pejabat Ankara tampaknya sudah menyadari kesalahan perhitungan itu.
Saat ini muncul kondisi baru untuk bekerjasama antar para tetangga. Selain itu, Iran dan Turki memiliki pandangan yang hampir sama mengenai isu-isu Irak terutama masalah pelaksanaan referendum di wilayah Kurdistan Irak.
"Isu referendum ini telah menyita perhatian tiga negara Irak, Turki, dan Iran. Oleh sebab itu, para pejabat Tehran dan Ankara menekankan bahwa hal semacam itu tidak mungkin dilakukan dan tidak boleh terjadi," ujar Mayjend Baqeri.
Para analis percaya bahwa perubahan politik dan keamanan di kawasan telah menjadi tantangan yang memprihatinkan. Mereka menilai kesepakatan dan perundingan militer Iran-Turki bertujuan untuk menciptakan perimbangan baru di kawasan dan melawan skenario-skenario Barat.
Samir Salih, dosen hubungan internasional di Universitas Istanbul dalam wawancara dengan Russia al-Youm mengatakan, "Saya percaya kunjungan dan perundingan tersebut merupakan sebuah langkah untuk mengkoordinasikan potensi terjadinya peristiwa yang tak terduga, di mana akan mengancam kepentingan Iran dan Turki terutama di Suriah dan Irak." (RM)