Khoshroo: AS Harus Ambil Pelajaran dari Kesalahan Masa Lalunya
-
Wakil Iran di PBB, Gholamali Khoshroo
Gholamali Khoshroo, wakil tetap Republik Islam Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seraya menekankan bahwa Tehran senantiasa mengejar perdamaian dan stabilitas menjelaskan, pemerintah Amerika Serikat harus mengambil pelajaran dari kesalahan masa lalunya.
IRIB melaporkan, Gholamali Khoshroo Jumat (18/8) saat menjawab klaim provokatif terbaru anti Iran oleh Nikki Haley, dubes AS di PBB di statemennya menjelaskan, pernyataan Haley pada 15 Agustus tidak memiliki kebenaran sama sekali.
Wakil tetap Iran di PBB menambahkan, ucapan pedas dan klaim palsu Nikki Haley terhadap Iran contoh tindakan provokatif, ancaman nyata dan aksi tak bertanggung jawab para petinggi Amerika dalam memburukkan citra Iran serta melemahkan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Ini bertentangan dengan komitmen Amerika Serikat terhadap kesepakatan nuklir tersebut.
Nikki Haley Selasa lalu mengklaim, Republik Islam Iran harus menjawab peluncuran rudal, dukungan terhadap teroris dan pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB.
Gholamali Khoshroo di statemennya mengingatkan, wakil tetap AS di PBB harus mengambil pelajaran dari sejarah dan belajar dari sejumlah petinggi Amerika sehingga tidak mengulang kesalahan serupa.
Berbeda dengan penandatangan JCPOA lainnya, Amerika senantiasa berusaha mensabotase kesepakatan nuklir.
Sabotase Amerika terhadap JCPOA dilakukan di saat menurut pengakuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), PBB dan Dewan keamanan, Republik Islam Iran senantiasa menjalankan seluruh komitmennya terhadap kesepakatan nuklir ini.
Amerika mengklaim bahwa uji coba rudal Iran bertentangan dengan resolusi 2231 Dewan Keamanan dan uji coba ini mencakup rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Sementara itu, Nabila Massrali, juru bicara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa baru-baru ini menyatakan, uji coba rudal Iran tidak melanggar JCPOA.
Republik Islam Iran sendiri berulang kali menyatakan bahwa rudal balistik negara ini tidak didesain untuk membawa hulu ledak nuklir dan Tehran tidak membutuhkan senjata atom, karena berdasarkan fatwa pemimpin besar revolusi Islam, penggunaan senjata pemusnah massal diharamkan. (MF)