Kemitraan Strategis Rusia dan Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i51083-kemitraan_strategis_rusia_dan_iran
Rusia ingin memperkuat kerjasama dengan Iran untuk mencegah kembalinya teroris ke Suriah dan Timur Tengah.
(last modified 2026-06-14T18:16:20+00:00 )
Feb 06, 2018 12:48 Asia/Jakarta
  • Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Tehran.
    Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Tehran.

Rusia ingin memperkuat kerjasama dengan Iran untuk mencegah kembalinya teroris ke Suriah dan Timur Tengah.

"Saya ingin mencatat bahwa Iran dan Rusia berada di Suriah dengan satu tujuan, yaitu memerangi terorisme, dan mereka datang atas undangan pemerintah sah Suriah," kata Duta Besar Rusia untuk Iran, Levan Jagarian dalam wawancara dengan Interfax, Senin (5/2/2018).

Dia menegaskan Iran dan Rusia adalah mitra strategis, dan Moskow akan mempertahankan pandangan ini dalam visi jangka panjang.

Duta Besar Rusia untuk Iran, Levan Jagarian.

"Kemitraan Rusia dengan Iran tidak akan terpengaruh oleh sanksi baru Amerika Serikat terhadap Tehran, terutama di bidang teknis dan militer," kata Jagarian.

Republik Islam Iran, Rusia, Suriah dan Irak telah membentuk sebuah koalisi untuk memerangi terorisme sejak tahun 2015.

Koalisi Iran, Rusia, Irak, Suriah dan Lebanon masih memimpin di Timur Tengah dan mereka memainkan peran kunci dalam menghancurkan terorisme, terutama Daesh. Kontribusi Tehran dalam membentuk koalisi ini jelas tidak bisa disangkal.

Rusia juga mengakui pentingnya peran Iran dan memahami bahwa tanpa partisipasi dan peran Tehran, tidak akan berhasil memajukan prakarsa perdamaian di Suriah dan perang melawan terorisme. Jadi, tindakan anti-Rusia oleh Presiden Donald Trump dan kebijakan mengisolasi Iran, seperti diyakini oleh sebagian analis, tidak akan mempengaruhi kemitraan strategis ini.

Alireza Nader, seorang analis kebijakan internasional di think tank Rand, mengatakan Rusia dan Iran telah membentuk aliansi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah. Ia percaya bahwa aliansi ini dibentuk atas dasar kebencian dan kemarahan terhadap pengaruh AS di kawasan.

Dalam masalah Suriah, kerjasama antara Tehran dan Moskow terbilang sangat sukses dalam beberapa tahun terakhir, Kerjasama ini bisa diperluas pada isu-isu regional lainnya.

Ali Akbar Velayati

Saat ini Republik Islam Iran dengan mengandalkan kapasitas regional dan kekuatannya, telah berubah menjadi kekuatan pertama di kawasan ini. Penasehat Rahbar untuk Urusan Internasional, Ali Akbar Velayati mengatakan, "Tidak ada keraguan bahwa kontribusi Iran dalam mempertahankan perimbangan regional dan menciptakan keamanan di wilayah ini lebih besar daripada negara adidaya dunia, dan Iran menentang proyek AS untuk memecah Irak dan Suriah."

Wakil Presiden Irak Osama al-Nujaifi juga membenarkan pendapat tersebut. Selama pertemuan dengan duta besar Iran di Baghdad pada Senin kemarin, Nujaifi mengatakan, kerjasama Iran – sebagai negara penting, tetangga dan sahabat – penting untuk menciptakan keamanan dan perdamaian di Irak.

"Pemerintah Irak berterimakasih kepada Iran atas bantuannya dalam menumpas Daesh," ujarnya.

Namun, Presiden Trump tidak ingin menerima realitas di Timur Tengah dan ia marah atas terbentuknya hubungan yang solid antara Iran dan negara-negara di kawasan. Oleh karena itu, Trump menggunakan berbagai instrumen, termasuk sanksi untuk merusak hubungan dan menghancurkan peran Iran. (RM)