Jawaban Iran Atas Klaim Usang Arab Saudi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i54950-jawaban_iran_atas_klaim_usang_arab_saudi
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi menolak tuduhan anti-Iran yang dikeluarkan oleh Komite Kuartet Arab di akhir pertemuan mereka di Dammam, Arab Saudi, dan menyebutnya tidak berdasar dan fiktif.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Apr 13, 2018 11:22 Asia/Jakarta
  • Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Israel selalu satu suara dalam melemparkan klaim usang terhadap Iran.
    Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Israel selalu satu suara dalam melemparkan klaim usang terhadap Iran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi menolak tuduhan anti-Iran yang dikeluarkan oleh Komite Kuartet Arab di akhir pertemuan mereka di Dammam, Arab Saudi, dan menyebutnya tidak berdasar dan fiktif.

Menurut Qasemi, beberapa negara di Timur Tengah sedang melanjutkan langkah kelirunya terhadap Iran dengan melupakan musuh bersama dan utama umat Islam.

Komite Kuartet Arab dalam statemennya menuduh Iran mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Arab. Komite ini terdiri dari empat negara Arab yaitu; Arab Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Qasemi berharap agar KTT Liga Arab di Dammam (15 April 2018) akan dapat mengenali faktor-faktor pemicu instabilitas di kawasan, yang jauh dari standar ganda, dan juga mengidentifikasi secara tepat akar krisis saat ini di Timur Tengah, serta mengambil langkah-langkah menuju konvergensi antara negara-negara Arab dan Muslim.

Pertemuan Komite Kuartet Arab dimulai sejak Kamis lalu di Dammam. Alih-alih membahas isu-isu penting di Timur Tengah, termasuk transformasi di Palestina dan Yaman, pertemuan itu telah berubah menjadi sebuah forum untuk melontarkan tuduhan usang dan tak berdasar terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir kembali menuduh Tehran mencampuri urusan negara-negara Arab dan mengklaim bahwa Iran masih mengirim senjata ke Ansarullah Yaman. Tuduhan seperti ini benar-benar sejalan dengan manuver Amerika-Zionis terhadap Iran.

Sebenarnya, ini bukan sebuah alur cerita yang baru dan juga tidak akan menjadi yang terakhir. Tujuan mengulang-ulang klaim anti-Iran adalah untuk menjustifikasi kebijakan Arab Saudi, UEA dan Bahrain. Dengan dukungan pemerintah AS dan berkompromi dengan rezim Zionis, Saudi Cs sedang memutarbalikkan fakta terkait aktor perusak stabilitas Timur Tengah.

Kebijakan Saudi saat ini dan brutalitas Israel, adalah dua faktor utama pemicu kekacauan dan konflik di kawasan. Dengan kata lain, para penguasa Saudi saat ini – dengan merangkul Israel – telah menjadi simbol agresi dan kejahatan di Timur Tengah.

Saat ini, kedua rezim tersebut membunuh orang-orang tertindas Palestina dan Yaman di bawah kebisuan masyarakat internasional dan "para pahlawan" hak asasi manusia.

Selain itu, Saudi – dengan mengabaikan cita-cita rakyat Palestina – bergerak ke arah pengakuan resmi rezim Zionis. Padahal, Israel adalah musuh nomor satu umat Islam, aktor ketidakstabilan di kawasan, dan selalu menggunakan segala cara untuk menyulut perpecahan di negara-negara Muslim.

Kerjasama Riyadh dengan Washington dan Tel Aviv untuk melaksanakan prakarsa "deal of the century,” adalah puncak pengkhianatan penguasa Arab Saudi terhadap masalah sejarah dan Islam Palestina.

Untungnya, ada poros perlawanan yang membendung skenario jahat trio Saudi-Zionis-Amerika dari Palestina sampai ke Yaman. Di sini, pengaruh kuat Republik Islam Iran telah menjadi penghalang utama bagi agenda-agenda mereka di kawasan.

Seorang ulama Suriah, Sheikh Muhammad Suleiman menuturkan, "Republik Islam Iran telah mampu menetralisir skenario jahat musuh dengan membentuk front perlawanan." (RM/PH)