Standar Ganda AS dan Barat Menurut Menteri Pertahanan Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i63117-standar_ganda_as_dan_barat_menurut_menteri_pertahanan_iran
Tehran sejak tanggal 12-15 Oktober menjadi tuan rumah Kongres Internasional Kedokteran Militer Asia Pasifik ke-4 (ICMM). Kongres ini memberikan kesempatan kesempatan untuk melihat sejarah penggunaan senjata kimia dalam perang Irak melawan Iran
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 16, 2018 15:42 Asia/Jakarta
  • Brigjen Amir Hatami, Menteri Pertahanan Republik Islam Iran
    Brigjen Amir Hatami, Menteri Pertahanan Republik Islam Iran

Tehran sejak tanggal 12-15 Oktober menjadi tuan rumah Kongres Internasional Kedokteran Militer Asia Pasifik ke-4 (ICMM). Kongres ini memberikan kesempatan kesempatan untuk melihat sejarah penggunaan senjata kimia dalam perang Irak melawan Iran

Brigjen Amir Hatami, Menteri Pertahanan Republik Islam Iran hari Selasa (15/10) di hari penutupan kongres ICMM menyinggung satu kenyataan pahit seraya mengatakan, Iran merupakan korban terbesar senjata kimia.

"Di tahun-tahun era Pertahanan Suci, rezim Saddam, diktator Irak melakukan pengeboman dengan menggunakan senjata kimia ke Iran sebanyak lebih dari 570 kali. Tapi organisasi-organisasi internasional tidak pernah bersidang walau sekali untuk mengecam aksi-aksi seperti ini," ujar Menhan Amir Hatami.

Brigjen Amir Hatami, Menteri Pertahanan Republik Islam Iran

Perang rezim Saddam terhadap Iran dimulai dengan dukungan dan lampu hijau dari Amerika Serikat. Salah satu kejahatan rezim Baath Irak adalah penggunaan senjata kimia besar-besaran dalam pemboman kota, termasuk Sardasht, di barat Iran pada Juni 1987.

Pada Maret 1988, Irak juga membombardir kota Halabche di Kurdistan Irak dengan bom kimia. Bukti-bukti dan dokumen yang ada menunjukkan bahwa bahan mentah untuk produksi senjata-senjata ini diserahkan kepada rezim Saddam oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

Liberation, surat kabar Perancis menulis dalam sebuah laporan berjudul "Ketika Irak mengebom Iran dengan bom kimia didepan mata Amerika Serikat", menulis, tidak ada yang bisa melupakan bagaimana pemerintah Irak dahulu menggunakan bahan kimia dalam perang terhadap Iran.

Liberation menambahkan dalam laporannya, Iran mengungkapkan standar ganda politik Amerika Serikat dan Eropa kepada dunia ketika warga Iran tewas di bawah pemboman kimia Irak.

Pidato Menteri Pertahanan Republik Islam Iran dengan tepat menyinggung poin ini.

Sebuah dokumen yang dirilis beberapa waktu lalu oleh Dinas Intelijen Amerika serikat (CIA) dari klasifikasi rahasia tertanggal 23 Maret 1984 menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat percaya bahwa serangan semacam itu dapat memaksa Iran menyerah.

Jason Von Meding, dosen senio di Universitas New Castle Australia yang membahas penggunaan senjata kimia dalam perang termasuk perang Vietnam mengatakan, Amerika Serikat dalam perang Vietnam menggunakan racun yang disebut Agent Orange yang menyebabkan kelahiran bayi cacat dan membuat manusia cacat. Tetapi sekarang mengklaim memiliki kewajiban moral untuk menghadapi pemerintah lain soal penggunaan senjata kimia.

Hari ini, jejak kaki Amerika juga dapat dilihat dalam perang berdarah Asia Barat dan kejahatan perang. Realitas pahit perang di Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, kemunculan al-Qaeda, Daesh dan kelompok teroris lainnya serta penjualan senjata non-konvensional ke Arab Saudi dan rezim Zionis. Ini menunjukkan bahwa Amerika menggunakan cara apa pun untuk mencapai tujuannya.

Gholamali Khoshroo, Wakil Tetap Iran untuk PBB

Gholamali Khoshroo, Wakil Tetap Iran untuk PBB, pada hari Senin (15/10) di Komite Keenam Majelis Umum PBB yang diselenggarakan dengan tema Piagam PBB, menggambarkan perilaku Amerika Serikat sebagai poin yang tak terbantahkan dan mengatakan, ancaman terhadap negara-negara lain telah menjadi instrumen kebijakan luar negeri AS. Washington telah kecanduan mengancam negara lin dan dan hasil dari proses ini adalah melemahnya PBB dan Piagam PBB.

Pada saat yang sama, ketika Amerika Serikat melihat kepentingannya di Iran hilang, berusaha mencari alasan dan merancang konspirasi serta sanksi terhadap Iran.

Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertahanan Iran, Amerika Serikat bahkan menghambat proses penyediaan obat-obatan dan kebutuhan dasar manusia bangsa-bangsa menggunakan terorisme ekonomi.