Trump Bimbang, Kredibilitas Amerika Tergerus
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Pernyataan kontradiktif Presiden Amerika Serikat mengenai waktu berakhirnya perang tidak hanya menciptakan kebingungan di Washington, tetapi juga menantang kredibilitas Amerika dalam negosiasi dengan Tehran.
Dilansir IRNA mengutip The Washington Post, 7 Mei 2026, sejak dimulainya konflik dengan Iran pada akhir Februari, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, telah menyampaikan pernyataan yang semakin bertentangan mengenai strategi Amerika Serikat. Salah satu contoh paling jelas dari pesan yang berubah-ubah ini adalah pergeseran terus-menerus dalam perkiraan waktu berakhirnya perang, yang memicu kebingungan dan berulang kali memaksa staf Gedung Putih untuk menjelaskan serta mengoreksi posisi resmi.
Sebelum Trump memperpanjang gencatan senjata yang rapuh secara tidak terbatas pada 21 April, ia berulang kali menyatakan bahwa perang akan segera berakhir. Namun, di saat yang sama, ia justru menyajikan peta jalan yang berbeda dan terkadang saling bertentangan.
Sebagai contoh, pada pagi 1 April ia mengatakan kepada wartawan bahwa perang akan berakhir dalam tiga hari. Namun, hanya beberapa jam kemudian, dalam sebuah pidato televisi, ia menjanjikan serangan sangat intensif terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, serangan yang tak pernah terlaksana.
Leon Panetta, mantan Menteri Pertahanan dan bekas Direktur CIA, menggambarkan pola komunikasi semacam ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menyatakan belum pernah melihat perubahan terus-menerus dalam alasan dan tujuan seorang pemimpin politik seperti ini.
Trump juga telah mengambil sikap yang saling bertentangan mengenai tujuan perang dan peran Amerika di Selat Hormuz. Pada pertengahan Maret, ia mengancam Iran dan menuntut pembukaan kembali selat tersebut. Namun, 10 hari kemudian, ia justru meremehkan kepentingan selat itu bagi Amerika dan menyatakan bahwa negara-negara yang bergantung pada minyak dari jalur ini harus membela diri sendiri. Dua minggu berselang, ancaman kembali digaungkan dan Amerika memberlakukan blokade yang diklaim terhadap kapal-kapal Iran.
Selat Hormuz telah berubah menjadi poros utama konfrontasi antara kedua negara. Penutupan praktis jalur ini memberikan tekanan lebih besar pada ekonomi global, tekanan yang melampaui perkiraan Amerika. Menurut para analis, tanpa pembukaan kembali jalur vital ini, pencapaian kesepakatan akan sulit terwujud.
Sementara itu, tujuan yang diumumkan untuk perang juga mengalami perubahan. Awalnya, Trump mengklaim ingin "menghilangkan ancaman yang berasal dari pemerintahan Iran". Namun, sebulan kemudian, ia menyatakan bahwa pergantian rezim bukanlah tujuan perang. Kontradiksi-kontradiksi ini, menurut para pakar, telah melemahkan kredibilitas pemerintahan Amerika dalam negosiasi dan mengurangi kepercayaan pihak Iran.
Sejumlah analis berpendapat bahwa salah satu penyebab kebingungan ini adalah kesalahan perhitungan Amerika dalam menilai kemampuan Iran memengaruhi ekonomi global. Menurut Susan Maloney dari Brookings Institution, Washington mengira Iran akan cepat runtuh dan perang akan berlangsung singkat. Namun, asumsi ini ternyata keliru.
Faktor lainnya adalah gaya penyampaian pernyataan Trump yang lebih sering dilakukan melalui media sosial dan secara spontan, bukan melalui mekanisme resmi perumusan kebijakan.
Para pakar menekankan bahwa solusi militer tidak dapat menyelesaikan krisis ini. Satu-satunya jalan nyata adalah mencapai kesepakatan diplomatik. Selain itu, keluar dari krisis ini tanpa kesepakatan dapat memberikan pukulan serius terhadap kredibilitas global Amerika Serikat.(Sail)