Politisasi OPCW; Runtuhnya Konvensi Internasional
https://parstoday.ir/id/news/iran-i64893-politisasi_opcw_runtuhnya_konvensi_internasional
Reza Najafi, Direktur Jenderal Perdamaian dan Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran, pada Konferensi Peninjauan Ulang Konvensi Senjata Kimia Ke-4, membantah tuduhan-tuduhan Amerika Serikat dan menyebut negara itu sebagai negara yang paling banyak menggunakan senjata pembunuh massal, pelanggar aturan internasional dan ia memprotes upaya Washington menggagalkan konferensi tersebut.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Des 02, 2018 14:00 Asia/Jakarta
  • Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW)
    Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW)

Reza Najafi, Direktur Jenderal Perdamaian dan Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran, pada Konferensi Peninjauan Ulang Konvensi Senjata Kimia Ke-4, membantah tuduhan-tuduhan Amerika Serikat dan menyebut negara itu sebagai negara yang paling banyak menggunakan senjata pembunuh massal, pelanggar aturan internasional dan ia memprotes upaya Washington menggagalkan konferensi tersebut.

Najafi menambahkan, "Amerika sebagai pengguna terbesar senjata pembunuh massal termasuk senjata kimia dan pendukung para pengguna senjata semacam ini khususnya rezim Saddam Hussein di Irak dan kelompok-kelompok teroris, tidak pada posisinya untuk berpendapat soal langkah anggota konvensi lain."

Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atau Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), sebuah badan inter-pemerintah yang didirikan pada tahun 1997.

Reza Najafi, Dirjen Perdamaian dan Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran

Iran berada di garis depan negara-negara yang menolak penggunaan senjata kimia karena dimensi kejahatan yang masif dan kerusakan yang tak dapat diperbaiki pada manusia.

Sementara Amerika Serikat telah melanggar semua komitmen dan kebijakan internasional dengan kebijakannya yang merusak.

Konferensi ke-4 peninjauan kembali senjata kimia yang diketuai oleh El Salvador dan dihadiri oleh negara-negara anggota di Markas Besar Konvensi Senjata Kimia di Belanda mengagendakan penyusunan rancangan dokumen akhir yang kemudian ditolak oleh Amerika Serikat dan membuat tertunda ratifikasi dokumen ini secara mufakat.

Republik Islam Iran menekankan bahwa organisasi ini tidak boleh digunakan untuk tujuan politik dari beberapa negara anggotanya.

Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia mengatakan, "Negara-negara Barat berusaha untuk mengubah Konvensi Senjata Kimia yang pada dasarnya instrumen hukum internasional, menjadi alat untuk menegakkan kebijakan mereka."

Tetapi bagaimana Konvensi Senjata Kimia dapat diselamatkan?

Meskipun ratifikasi perjanjian tentang pelarangan produksi dan penggunaan Senjata Pemusnah Massal, sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, sampai saat ini belum memenuhi kewajiban mereka di bawah konvensi ini dan dengan selalu mencari alasan untuk tidak melaksanakan kewajibannya, sehingga kredibilitas dan integritas konvensi ini telah beresiko.

Siamak Bagheri, analis masalah politik dan akademisi Iran mengatakan, "Sebagaimana negara-negara Barat adalah pengguna senjata kimia pertama yang mematikan, mereka juga merupakan eksportir pertama senjata kimia dan selama perang yang dipaksakan Irak terhadadap Iran, mereka memasok senjata kimianya dari 150 perusahaan Jerman, Amerika, dan Inggris."

DK-PBB dan penggunaan senjata kimia

Iran dan komunitas internasional telah membayar banyak untuk menyetujui Konvensi Senjata Kimia. Oleh karenanya, Republik Islam Iran telah menekankan tekadnya untuk memerangi senjata pemusnah massal dan penggunaannya serta meminta komunitas internasional dan opini publik di dunia agar menggunakan segala fasilitas dan kapasitas yang ada untuk memerangi produksi, proliferasi dan penggunaan senjata-senjata tersebut dan lebih sensitif dari sebelumnya soal ancaman penggunaan senjata-senjata ini oleh kelompok-kelompok teroris seperti Daes (ISIS) dan pendukung regional dan transnasional kelompok-kelompok ini.