Efektivitas Tekanan AS atas Iran dalam Perspektif Rahbar
-
Ayatullah Khamenei
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menekankan kembali bahwa Iran sama sekali tidak akan berunding dengan Amerika Serikat. Menurutnya, tidak berunding dengan Amerika disebabkan oleh, pertama, karena tidak bermanfaat, kedua, karena merugikan.
Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (29/5/2019) dalam pertemuan dengan para dosen, akademisi dan peneliti dari berbagai universitas serta pusat riset Iran menuturkan, Amerika biasanya punya satu strategi dan satu taktik untuk mencapai tujuannya. Strategi mereka adalah 'tekanan' untuk membuat target kelelahan, setelah itu digunakan 'perundingan' sebagai taktik yang menyempurnakan tekanan untuk meraih tujuannya.
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa Iran memiliki sejumlah instrumen tekanan yang diperlukan untuk menghadapi tekanan-tekanan Amerika.
"Instrumen-instrumen ini berbeda dengan apa yang dipropagandakan kepada mereka, bukan militer, namun jika suatu saat diperlukan, instrumen-instrumen itu tersedia," ujarnya.
Babak baru tekanan Amerika terhadap Iran dilakukan para pejabat pemerintah Amerika dengan menggunakan ancaman dan perang urat saraf. Kebijakan ini mencapai puncaknya setahun pasca keluarnya Amerika dari kesepakatan nuklir JCPOA, 8 Mei 2018 lalu.
Pada saat yang sama, Presiden Amerika Donald Trump berusaha menunjukkan strategi tekanan terhadap Iran dengan melakukan berbagai manuver yang tampak kontroversial, lalu disusul dengan taktik perundingan untuk meraih tujuan final.
Sebaliknya, Republik Islam Iran, dengan menggunakan berbagai senjata tekanannya, tidak terjebak masuk ke dalam permainan Amerika. Akan tetapi jika Eropa tidak memanfaatkan kesempatan yang ada, maka senjata tekanan Iran dalam kerangka JCPOA ini akan digunakan, dan akan ditambah jika diperlukan.
Sebagaimana disampaikan Rahbar, Iran saat ini sudah menurunkan sebagian komitmennya dalam kesepakatan nuklir JCPOA.
Menurut Ayatullah Khamenei, jika senjata tekanan tidak digunakan tepat waktu, pihak lawan akan melanjutkan langkahnya tanpa terburu-buru, karena mereka tahu tidak berhadapan dengan risiko biaya dan kerugian, tapi jika senjata ini digunakan tepat waktu, lawan akan dipaksa untuk berpikir melakukan sesuatu yang lain.
Situs berita Al Monitor menulis, Trump bersikeras atas hipotesis keliru bahwa berlanjutnya tekanan akan memaksa Iran duduk di meja perundingan, dan tanpa memperhatikan kondisi yang ada, ia akan bertahan di JCPOA, tapi Iran telah mengubah pandangan Trump karena menetapkan batas waktu.
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov mengatakan, jika Amerika membayangkan bisa memaksa Iran untuk menyerah, maka ia salah besar.
Kebijakan yang rasional dan terukur Iran telah melumpuhkan kebijakan tekanan maksimal Amerika, dan perubahan yang kerap terjadi dalam kebijakan Gedung Putih terkait Iran baru-baru ini, mulai dari Washington hingga Tokyo, juga dapat dibaca dalam kerangka ini.
Menurut keterangan pejabat militer Iran, negara ini sudah siap untuk menghadapi berbagai situasi, namun tidak menginginkan perang.
Sejarah 40 tahun Revolusi Islam Iran membuktikan bahwa Iran tidak pernah takluk pada tekanan maksimal Amerika, dan pada kondisi seperti sekarang, dengan kesadaran penuh atas jenis perundingan dan tekanan maksimal Amerika, Iran selalu menolak prinsip perundingan dengan Washington. (HS)