Ketika Zarif Menekankan Perlunya Multilateralisme
https://parstoday.ir/id/news/iran-i74962-ketika_zarif_menekankan_perlunya_multilateralisme
Multilateralisme dalam komunitas internasional telah menjadi kebutuhan.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Okt 22, 2019 15:02 Asia/Jakarta
  • Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran
    Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Multilateralisme dalam komunitas internasional telah menjadi kebutuhan.

Ini adalah fokus pidato Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di konferensi internasional tentang "Unilateralisme dan Hukum Internasional" di Tehran.

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Konferensi ini menekankan perlunya multilateralisme, tetapi apa alasan untuk pergeseran sikap terhadap multilateralisme di komunitas internasional dan apa konsekuensi dari unilateralisme?

Sekaitan dengan hal ini, Zarif menjelaskan bahwa negara-negara secara sepihak tidak dapat memutuskan bagi dunia seraya mengatakan, "Negara-negara telah sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri dan bahwa mereka sendiri tidak dapat menghalangi tindakan pelanggaran hukum negara lain. Itulah mengapa mereka mengarah pada multilateralisme."

Dalam konteks perkembangan global yang cepat saat ini dan dampaknya yang jelas terhadap komunitas internasional, ucapan Zarif penting dari perspektif hukum internasional. Masalah ini juga disorot dalam pidato Presiden Iran Hassan Rouhani di Majelis Umum PBB tahun ini.

Dalam pidatonya, Presiden Iran menegaskan kembali bahwa unilateralisme, bukan tanda kekuatan lengan, tetapi adalah tanda kelemahan pemikiran dan indikasi tidak mengenal dunia yang terjalin berkelindan dan kompleks.

Seyed Mohammad Bagher Nourbakhsh, pakar urusan internasional, menilai sikap-sikap yang saling bertentangan antara unilateralisme dengan multilateralisme, "Penekanan Iran pada pengembangan hubungan bertetangga dan membangun mekanisme bersama bagi kawasan Teluk Persia dengan kehadiran dan partisipasi semua negara di kawasan itu untuk menjaga keamanan Teluk Persia dan Selat Hormuz, melawan setiap upaya untuk merusak perairan vital ini tepat berada pada titik yang berseberangan dengan arogansi dan suka perang Trump."

Yang penting bagi komunitas internasional adalah kepatuhan terhadap komitmen, kepercayaan, dan dialog internasional. Pernyataan Zarif di konferensi Tehran sebenarnya merupakan ekspresi dari fakta-fakta ini.

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Zarif, merujuk pada pengeluaran militer AS, mengatakan, "Pemerintah AS menghabiskan miliaran dolar untuk militer setelah insiden 9/11, tetapi gagal untuk mengamankan keselamatan warganya."

Dalam kasus Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), juga Amerika Serikat telah membuat kesalahan besar.

Amerika Serikat, menurut Armin Gergen, pemimpin redaksi Divisi Internasional France 24, berada dalam isolasi dan berada di luar arus utama dengan keluarnya perjanjian nuklir JCPOA.

Unilateralisme dan, tentu saja, ketidakpedulian lembaga-lembaga internasional terhadapnya dapat menimbulkan ancaman bagi perdamaian dunia.

Duta Besar Iran untuk PBB, Eshaq Al Habib pada hari Senin, 21 Oktober, juga memperingatkan di pertemuan Majelis Umum Keempat PBB bahwa tindakan unilateral yang memalukan oleh pemerintah AS di tingkat internasional dapat memiliki konsekuensi besar bagi perdamaian, keamanan dan pengembangan internasional."

Tetapi bagaimana bisa menghadapi unilateralisme?

Pengalaman dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa kerja sama negara-negara independen dapat meningkatkan kekuatan mereka untuk mengatasi aliran satu arah unilateralisme.

Republik Islam Iran telah membuktikan multilateralisme dalam konteks pengalaman sukses dengan memainkan peran aktif dalam menangani krisis regional di Suriah dan Irak.

Tentu saja, bergerak di sepanjang jalan ini memiliki kesulitan. Kekuatan global tidak cenderung pada multilateralisme dan melihat kepentingan mereka sebagai monopoli. Perkembangan regional, tetapi menunjukkan bahwa kebijakan multilateralisme di sisi berlawanan dari unilateralisme dapat menciptakan kapasitas baru di luar kehendak kekuatan global. Sebagaimana diungkapkan Zarif, dunia tanpa Barat berarti bahwa tidak semua hal di Barat dapat terjadi, dan Barat juga tidak dapat membuat semua keputusan untuk perubahan global.