Respon Menlu Iran atas Serangan Balasan terhadap AS
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Irak adalah pertahanan diri yang sah bagi Iran dan merupakan tanggapan yang proporsional dan terukur terhadap serangan militer AS pada 3 Januari 2020.
Hal itu disampaikan Zarif kepada para wartawan di sela-sela sidang kabinet hari Rabu (8/1/2020) ketika menyinggung serangan balasan militer Iran terhadap pasukan AS di Irak.
Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menghujani pangkalan-pangkalan militer AS di Irak dengan rudal pada Rabu dini hari sebagai balasan atas serangan teror pasukan AS terhadap Komandan Pasukan al-Quds IRGC Letnan Jenderal Qassem Soleimani.
Letjen Soleimani dan Wakil Komandan Pasukan Relawan Irak Hashd al-Shaabi Abu Mahdi al-Muhandis gugur syahid dalam serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad, Jumat dini hari, 3 Januari 2020.
Empat anggota pasukan IRGC (Pasdaran) yang menyertai Letjen Soleimani dan empat anggota pasukan Hashd al-Shaabi yang menyertai Abu Mahdi al-Muhandis juga gugur syahid dalam serangan udara tersebut.
Menlu Iran mengucapkan selamat kepada Pasukan IRGC atas tindakan balasan mereka terhadap pasukan AS dan memperingatkan AS untuk tidak meningkatkan konflik.
"Kami telah mengatakan dengan jelas jika AS mengambil tindakan lebih lanjut, kami akan menanggapi secara proporsional dan tegas. Terserah AS untuk sadar dan memperlakukan rakyat Iran dengan hormat, dan bukan melalui sanksi dan aksi militer," ujarnya.
Menlu Iran menuturkan, tindakan militer Republik Islam telah terjadi, namun Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan bahwa itu adalah sebuah tamparan dan balas dendam Iran adalah penarikan AS dari kawasan.
"AS membuat akhir dari dirinya sendiri di kawasan, dan dengan kebencian publik terhadap AS, negara ini tidak akan memiliki masa depan di wilayah ini, dan ini adalah hasil nyata dari darah Syahid Soleimani yang akan memutuskan Amerika dari kawasan," jelasnya.
Zarif lebih lanjut mengatakan, ini terserah AS untuk sekarang sadar dan menghentikan petualangannya di kawasan. Kami tidak memulai proses ketegangan yang dilakukan AS dan perang ekonomi terhadap Iran.
Dia menyinggung partisipasi jutaan rakyat Iran dalam prosesi pemakaman Letjen Soleimani di berbagai kota Iran. Menurutnya, partisipasi masyarakaat Iran ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
"Lautan manusia harus membawa AS ke perasaan bahwa jika dia ingin berurusan dengan orang-orang ini, dia harus berurusan dengan orang-orang ini berdasarkan rasa hormat, bukan berdasarkan ancaman dan sanksi," tegas Zarif.
Menlu Iran menuturkan, Eropa dapat memainkan peran yang bermanfaat dengan memberi tahu AS tentang kesalahan serius dalam analisis mereka bahwa mereka harus berhenti mendengarkan pembanyol.
"Mereka harus mendasarkan kebijakan mereka berdasarkan realitas dan bukan ilusi beberapa badut untuk memiliki ambisi di tempat lain," pungkasnya. (RA)