Dampak Sanksi AS terhadap Perawatan Korban Senjata Kimia di Iran
-
Alireza Kazemi Abdi, Duta Besar dan Wakil Tetap Iran di OPCW
Duta Besar dan Wakil Tetap Iran untuk Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), mengutip dampak negatif dari sanksi AS terhadap pasokan dan perawatan korban senjata kimia di Iran seraya mengatakan, sanksi telah membuat proses perawatan korban sangat sulit.
Menurut laporan IRNA, Alireza Kazemi Abdi hari Rabu, 11 Maret, dalam pidatonya di sidang ke-93 Dewan Eksekutif OPCW menyinggung penerapan sanksi sepihak terhadap Republik Islam Iran dan menjelaskan, "Sanksi tidak manusiawi pada pasokan dan perawatan korban senjata kimia telah berdampak negatif pada para korban senjata kimia di Iran dan membuat proses merawat korban serangan bahan kimia menjadi sulit."
Pada pertemuan tersebut, merujuk pada inisiatif Direktur Jenderal Organisasi, Kazemi Abdi menyerukan partisipasi negara anggota dalam menghilangkan hambatan untuk mengakses, obat-obatan dan perawatan.
Duta Besar dan Wakil Tetap Iran untuk Organisasi Pelarangan Senjata Kimia telah menyerukan Konvensi PBB untuk sepenuhnya dilaksanakan, dan menekankan bahwa Amerika Serikat, sebagai pemegang tunggal senjata kimia, telah menghambat kemampuannya untuk menghancurkan persenjataan senjata kimianya. Itu telah mencapai tujuan Konvensi dan meminta negara untuk mematuhi kewajibannya di bawah Konvensi Senjata Kimia dengan menghancurkan senjata kimianya.
Kazemi Abdi, sementara menyampaikan kegembiraannya akan kerja sama Suriah dengan OPCW dan menyerukan kerja sama yang berkelanjutan sampai penghapusan terorisme kimia.
Abdi juga menekankan perlunya mencapai konsensus mengenai keputusan Dewan Eksekutif OPCW dan menyarankan bahwa beberapa negara Barat melarang dan membatasi penerapan bahan kimia tertentu yang tidak dilarang dalam Konvensi, serta memodifikasi prosedur administrasi dan penasihat keuangan organisasi dengan kebijakan politik dan politikm dimana ini tidak dapat diterima.
Sidang ke-93 Dewan Eksekutif Organisasi Pelarangan Senjata Kimia dimulai 10 Maret di markas besar organisasi ini di Den Haag, Belanda dan akan berlanjut hingga Jumat, 13 Maret.
Organisasi Pelarangan Senjata Kimia memiliki 193 negara anggota dan membahas perkembangan terbaru dan kebijakan internasional mengenai penggunaan senjata kimia pada pertemuan Dewan Eksekutif.
Republik Islam Iran adalah Wakil Presiden Dewan Eksekutif Organisasi Pelarangan Senjata Kimia.