Menyorot Perilaku Ganda Eropa terhadap Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i82137-menyorot_perilaku_ganda_eropa_terhadap_iran
Sejumlah negara Eropa bukan saja menolak bekerja sama dengan Iran terkait ekstradisi kriminal keamanan dan ekonomi, bahkan memberi suaka kepada penjahat tersebut.
(last modified 2026-04-05T11:58:22+00:00 )
Jun 09, 2020 08:27 Asia/Jakarta
  • Ali Bagheri Kani
    Ali Bagheri Kani

Sejumlah negara Eropa bukan saja menolak bekerja sama dengan Iran terkait ekstradisi kriminal keamanan dan ekonomi, bahkan memberi suaka kepada penjahat tersebut.

Deputi Mahkamah Agung Iran bidang internasional dan hukum, Ali Bagheri Kani Senin (8/6/2020) seraya menjelaskan poin ini mengkritik perilaku ganda negara-negara Eropa. Seraya mengisyaratkan agitasi propaganda dan dikte media pemerintah Inggris, Ali Bagheri Kani mengatakan, London harus menjawab seluruh bangsa termasuk Iran dengan alasan apa mereka berubah menjadi tempat perlindungan utama kriminal dan penjahat hak-hak bangsa Iran ketimbang meneteskan air mata buaya bagi pelarian kriminal ekonomi ini.

Perlawanan terhadap koruptor bukan hal baru. Berbagai negara dunia telah menerapkan beragam metode dan undang-undang di masalah ini. Praktek korupsi memiliki banyak faktor dan di antaranya akibat tidak efektifnya badan pengawas, ketidakjelasan hukum dan undang-undang, struktur administrasi yang usang dan maraknya monopoli yang disertai dengan manajemen keliru.

Studi statistik menunjukkan bahwa meski posisi Iran di Indeks Persepsi Korupsi tahun 2017 lembaga internasional tidak transparan, tapi selama beberapa tahun terakhir kondisi ini semakin membaik. Namun demikian berlanjutnya tekad tegas memerangi praktek korupsi di Iran di seluruh bidang masih merupakan hal yang sangat penting.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait hal ini di arahan strategisnya langkah kedua Revolusi Islam menekankan, keadilan dan perlawanan terhadap korupsi, keduanya saling terkait. Korupsi dan kerusakan moral serta politik tumpukan kotoran bagi negara dan pemerintah. Kotoran ini jika mengotori pemerintah maka akan merusak legalitasnya. Hal ini lebih serius dan fundamental bagi pemerintah Iran ketimbang pemerintah lain. Pasalnya pemerintah Republik Islam Iran membutuhkan legalitas lebih tinggi dari legalitas yang ada dan sendi-sendi lebih besar dari sekedar penerimaan sosial.

Upaya perlawanan efektif terhadap arus ini, selain membutuhkan tekad dan keseriusan badan hukum dalam menghadapi pelaku, juga membutuhkan interaksi di tingkat internasional. Sementara di bidang ini, tidak terlihat adanya transparansi dari sejumlah negara lain.

Di Iran sampai saat ini puluhan koruptor telah diadili dan hukumannya mulai dari eksekusi mati hingga kurungan jangka panjang serta hukuman berat pun dikenakan kepada para koruptor.

Di antara list koruptor ada nama seperti Shahram Jazayeri, Babak Morteza Zanjani dan Mahmoud Reza Khavari. Khavari, salah satu koruptor dengan dakwaan terlibat dalam penggelapan tiga ribu miliar toman melarikan diri ke Kanada tahun 2001. Ia memiliki kewarganegaraan Kanada. Realitanya adalah Iran kini di perang ekonomi menghadapi sanksi dan sabotase ekonomi. Di kondisi sensitif seperti ini, wajar jika setiap rintangan di perang pemberantasan korupsi atau dukungan sejumlah negara terhadap koruptor dapat dianggap sebagai bagian dari perang ekonomi.

Statemen deputi bindang internasional dan hukum Mahkamah Agung Iran sejatinya sebuah isyarat atas poin ini ketika ia mengatakan, sejumlah negara Barat bukan hanya tempat suaka para teroris yang tangannya berlumuran darah rakyat Iran, bahkan tempat aman bagi koruptor yang tangannya mengeruk saku-saku rakyat Iran. (MF)