Iran Aktualita, 18 Juli 2020
https://parstoday.ir/id/news/iran-i83317-iran_aktualita_18_juli_2020
Perkembangan di Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu seperti pertemuan virtual Rahbar Ayatullah Khamenei dengan anggota parlemen ke-11.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 18, 2020 08:41 Asia/Jakarta
  • Dialog virtual Rahbar dengan anggota parlemen ke-11
    Dialog virtual Rahbar dengan anggota parlemen ke-11

Perkembangan di Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu seperti pertemuan virtual Rahbar Ayatullah Khamenei dengan anggota parlemen ke-11.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti upaya Iran gugat komitmen Eropa di komisi bersama JCPOA, statemen Mousavi terkait langkah ilegal AS di JCPOA, respon Ghaani terkait terbakarnya kapal induk AS, upaya Iran ambil asetnya di luar negeri, Rouhani tegaskan Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan AS. Dan Iran capai kemajuan di produksi vaksin Corona.

Rahbar: Musuh Gagal Raih Ambisi anti Irannya, meski Gunakan Sanksi

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei seraya menjelaskan bahwa bangsa Iran membuat musuh putus asa menekankan, seperti yang diakui musuh saat ini, meski ada sanksi paling keras dan represi total, mereka tidak mampu meraih ambisi anti Irannya.

Pertemuan virtual Rahbar dengan anggota parlemen ke-11

Ayatullah Khamenei Ahad (12/7/2020) pagi di pertemuan virtual dengan anggota parlemen Republik Islam Iran dengan bersandar pada kekuatan dan kapasitas material negara yang kuat serta kemampuan spiritual dan iman bangsa, mengingatkan, "Kami yakin bahwa seluruh kendala yang ada dapat diselesaikan dan parlemen melalui penyusunan prioritas masalah, menghindari marjinalisasi serta dengan melakukan tugas secara ikhlas untuk rakyat akan ada dampak nyata di proses penyelesaian kesulitan ini."

Ayatullah Khamenei di kesempatan ini menyebut parlemen ke-11 sebagai parlemen terkuat dan paling revolusioner pasca Revolusi Islam serta menambahkan, "Partisipasi pemuda penuh motivasi, iman, berkemampuan, berpendidikan serta efektif di samping sejumlah pemimpin revolusioner dan memiliki pengalaman memimpin serta sejumlah tokoh lainnya yang berpengalaman di parlemen membuat parlemen ke-11 menjadi parlemen sangat baik dan menjanjikan."

Lebih lanjut Rahbar menyamakan kesulitan ekonomi di negara ini seperti penyakit dan juga menekankan, mengingat landasan yang kuat dan kekuatan defensif, maka tak diragukan lagi negara akan memiliki kemampuan mengalahkan penyakit ini.

Ayatullah Khamenei ketika menjelaskan sejumlah kapasitas nasional menambahkan, "Pembangunan ribuan perusahaan berbasis pengetahuan, ratusan program infrastruktur, pemanfaatan berkelanjutan program bau, kemajuan mencengangkan di sektor industri militer dan kesuksesan yang layak diapresiasi di isu luar angkasa merupakan hasul pemanfaatan sebagian kapasitas kuat dan luas nasional.

Di kesempatan tersebut Rahbar juga memuji partisipasi tepat waktu dan pengorbanan rakyat dalam melawan gelombang pertama Corona, menilai pelayanan besar rakyat di gerakan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan serta partisipasi luas mereka di acara tasyi jenazah Syahid Qasem Soleimani sebagai contoh dari kapasitas spiritual mendalam bangsa Iran.

"Rakyat dalam menghormati manifestasi kekuatan nasional dan jihad bangsa Iran yakni Syahid Soleimani telah menunjukkan bahwa mereka memiliki keyakinan kuat dalam melawan dan menghadapi kubu arogan dunia," tegas Ayatullah Khamenei.

Iran Gugat Komitmen Eropa terhadap JCPOA di Komisi Bersama

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi menyikapi ketidakpatuhan Jerman, Inggris dan Perancis terhadap JCPOA dengan mengatakan bahwa pelanggaran ketiga negara Eropa ini akan diselidiki di komisi bersama JCPOA.

Sayid Abbas Araqchi

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif dalam suratnya baru-baru ini kepada Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dan Koordinator JCPOA, menegaskan kembali ketidakpatuhan negara-negara Eropa terhadap Pasal 36 JCPOA dan akan melimpahkan masalah ini ke komisi bersama.

Araqchi mengungkapkan bahwa Borrell selaku koordinator Komisi bersama JCPOA sedang berkonsultasi dengan anggota komisi bersama lainnya untuk membahas mekanisme penyelenggaraan pertemuan ini yang digelar atas permintaan dari Tehran.

"Tehran sedang menunggu hasil konsultasi kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa  dengan anggota lain," tegasnya.

Jika anggota JCPOA gagal memenuhi komitmennya atau melanggar kewajibannya berdasarkan perjanjian ini, maka pihak lain dapat mengajukan keluhan kepada Komisi Bersama berdasarkan mekanisme penyelesaian sengketa.

Sebelumnya, dalam dua tahap, kasus-kasus ketidakpatuhan oleh Amerika Serikat dan tiga negara Eropa diajukan ke Komisi Bersama oleh Republik Islam Iran sesuai dengan Pasal 36 JCPOA.

Mousavi: Dunia Berubah, AS Tidak Bisa Paksakan kebijakan Ilegalnya

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Mousavi mengatakan rezim AS tidak dapat mengejar kebijakan ilegal dengan dominasinya terhadap lembaga internasional, sebab aturan hukum internasional yang berlaku saat ini belum dihapuskan, dan konstelasi global telah berubah.

Jubir Kemenlu Iran Sayid Abbas Mousavi

Mengenai JCPOA pada 14 Juli 2015, jubir kemenlu Iran dalam konferensi pers hari Senin (13/7/2020) mengatakan, "Sebelum Presiden AS Donald Trump berkuasa, beberapa masalah di JCPOA berada dalam posisi seimbang, tetapi setelah Trump menjabat, AS secara tidak bertanggung jawab menarik diri dari JCPOA dan menjatuhkan sanksi terhadap Iran dalam dua tahapan,".

"Implementasi JCPOA yang tidak seimbang di satu sisi, dan sanksi AS di sisi lain dan tekanan terhadapa bank dan perusahaan asing supaya tidak bekerja sama dengan Tehran menyebabkan Dewan Tinggi Keamanan Nasional  Iran setahun setelah Washington mengumumkan AS keluar dari JCPOA akhirnya menyetujui keputusan untuk mengurangi komitmennya pada 8 Mei 2020, dan memberikan tenggat waktu selama 60 hari kepada pihak lain mematuhi komitmennya," ujar Mousavi.

Berkaitan dengan langkah Iran untuk mengurangi komitmen nuklirnya, Mousavi mengungkapkan, "Berdasarkan langkah kelima yang merupakan langkah terakhir dalam pengurangan komitmennya, pembatasan terakhir pada jumlah sentrifugal di IAEA dicabut dan program nuklir Iran tidak lagi dibatasi sesuai kebutuhan teknis Organisasi Energi Atom Iran.”

Komandan Pasukan Qods IRGC soal Terbakarnya Kapal Induk AS

Komandan Pasukan Qods, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC mengatakan, hari-hari mendatang akan lebih sulit bagi Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel.

Fars News (14/7/2020) mengutip stasiun televisi Alalam melaporkan, Brigjend Esmail Ghaani merespon kebakaran di kapal induk Amerika, USS Bon Homme Richard dan menuturkan, apa yang terjadi di Amerika hari ini terutama kebakaran kapal induk, adalah buah dari perilaku dan kejahatan pemerintah Amerika, ini adalah janji Tuhan, barangsiapa berbuat zalim dan jahat, maka akan mendapatkan azab Ilahi. Karena mereka mengubah firman Tuhan, dan berbuat zalim serta kejahatan, maka mereka menerima murka dan azab Tuhan.

Brigjend Ghaani menambahkan, Amerika jangan mencari-cari kambing hitam dalam insiden ini, lalu menuduh orang lain, api ini mereka nyalakan sendiri, dan sekarang sedang melahap tuannya. Harus kami katakan kepada mereka, kejadian ini adalah balasan atas kejahatan kalian, peristiwa ini dilakukan oleh orang-orang kalian sendiri, Tuhan menghukum kalian dengan tangan kalian sendiri. 

Komandan Pasukan Qods menegaskan, sampai detik ini, hari-hari gembira Anda akan sangat sulit, Anda dan rezim Zionis akan menghadapi peristiwa-peristiwa sulit.

"Kenyataannya, militer Amerika sudah lelah, dan usang, peralatan tempur mereka sudah jadi rongsokan. Sejak lama para komandan pasukan angkatan laut Amerika mengatakan bahwa kapal perang mereka tidak lebih dari seonggok besi usang. Amerika harus menerima kenyataan kondisi buruk ini, dan tidak lagi berbuat zalim kepada umat manusia dan rakyatnya sendiri," pungkas Ghaani.

Rouhani: Segitiga Kejahatan Dorong AS Keluar dari JCPOA

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan Republik Islam tidak akan pernah tunduk pada arogansi dan tekanan kekuatan besar khususnya Amerika Serikat.

Presiden Iran Hassan Rouhani

"Para pejabat AS perlu mengetahui mereka tidak akan mencapai tujuannya meskipun melakukan tindakan destruktif terhadap kepentingan bangsa Iran," tegasnya dalam rapat kabinet hari Rabu (15/7/2020) di Tehran.

Rouhani menekankan Iran tidak terkucil dalam menghadapi tindakan AS dan proses pertumbuhan ekonominya juga tidak terhenti.

Bertepatan dengan peringatan tahun kelima dicapainya perjanjian nuklir JCPOA, Presiden Iran menuturkan bahwa keluarnya pemerintah AS secara ilegal dari JCPOA merupakan hasil dari upaya segitiga kejahatan yaitu Zionis, para pemimpin reaksioner kawasan, dan kelompok radikal AS.

"Di antara prestasi JCPOA adalah terbuktinya Iran sebagai pencari perdamaian, gagalnya propaganda anti-Iran selama beberapa tahun, gagalnya upaya musuh dalam merusak keamanan nasional Iran, dan berakhirnya resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Tehran," jelasnya.

Dia menilai berakhirnya embargo senjata terhadap Iran sebagai sebuah langkah untuk melindungi hukum internasional dan multilateralisme. Tehran, tegas Rouhani, akan mengawasi setiap manuver dalam hal ini dengan seksama.

"Anggota yang tersisa dalam JCPOA plus Uni Eropa perlu mengetahui bahwa saat ini persoalannya bukan tentang hubungan Iran dengan mereka atau negara-negara regional. Jika mereka tidak bertindak secara cermat, ini akan menjadi pukulan besar bagi multilateralisme dan semua akan merugi," pungkasnya.

Iran Capai Kemajuan di Produksi Vaksin Corona

Menteri Kesehatan Republik Islam Iran mengkonfirmasi kemajuan sejumlah tim riset Iran di produksi vaksin COVID-19.

Seperti dilaporkan IRIB Jumat (17/7/2020), Saeed Namaki seraya mengisyaratkan aktivitas 57 tim riset untuk memproduksi obat COVID-19 menambahkan, di riset global dan internasional, Iran sebagai salah satu negara yang aktif terlibat riset ini dan dengan turut berpartisipasi dengan tingginya hasil riset yang dicapai.

"Sangat menggembirakan bahwa telah dicapai hasil yang baik di uji coba vaksin terhadap hewan dan dalam waktu dekat vaksin produksi ilmuwan Iran akan diuji coba terhadap manusia," papar Namaki.

Jumlah penderita Corona di dunia mencapai sekitar 14 juta orang dan di antara jumlah tersebut sekitar 593 ribu meninggal dunia dan lebih dari 8.294.000 ribu orang sembuh dan telah meninggalkan rumah sakit.