Analis Arab: Mengapa Iran tak Lempar "Tali Penyelamat" ke Trump?
-
Abdul Bari Atwan
Pars Today - Seorang analis hubungan internasional, merujuk pada kesulitan yang diciptakan sendiri oleh Presiden AS terkait Iran, menyatakan bahwa kesalahan terbesar Trump adalah ketidaktahuannya akan sejarah dan geografi.
Melaporkan dari Rai Al-Youm, Selasa (28/4/2026), Abdul Bari Atwan menjawab pertanyaan mengapa Iran tidak melemparkan "tali penyelamat" kepada Trump untuk keluar dari rawa perang, serta memaparkan 6 indikator yang mengonfirmasi kejatuhan Trump yang akan segera terjadi.
Trump Ingin Keluar, Tetapi Juga Takut Kalah Muka
Atwan menyebut bahwa dari ketenangan yang rapuh di front agresi Amerika-Zionis terhadap Iran, terlihat jelas bahwa Trump ingin menyelamatkan dirinya dari perang yang ia dan Netanyahu mulai.
Perang berkepanjangan, korban jiwa dan kerugian ekonomi terus membengkak. Beberapa poin memperkuat analisis ini:
Pernyataan Melembut, Trump mulai menjauh dari retorika ancaman "neraka" dan "zaman batu" setelah delegasi Iran dalam negosiasi 21 jam di Islamabad menolak berunding di bawah tekanan.
Kekecewaan di Islamabad, Gedung Putih sangat berharap Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, akan menemui perwakilan AS. Namun Araghchi tegaskan kunjungannya ke Pakistan, Oman, dan Rusia tak ada kaitannya dengan negosiasi langsung.
"Teori Perpecahan" Hancur, Trump berhenti bicara soal "ekstrim vs moderat" setelah sadar bahwa semua itu hanya khayalan Washington.
Iran Tak Mundur Soal Nuklir, Iran tidak mengubah posisi: hak pengayaan, menolak pengiriman uranium 60 persen ke luar negeri, dan tetap mempertahankannya di dalam negeri.
Aksi Bukan Retorika, Iran tidak hanya bicara. Mereka langsung menutup Selat Hormuz sebagai respons atas blokade AS.
Gencatan Sepihak, Memperpanjang gencatan tanpa diminta Iran. Sementara itu, Iran tetap siaga penuh secara militer.
Guncangan di Tubuh Militer AS
Atwan menambahkan bahwa sikap Trump ini memicu ketegangan dengan pejabat militer. Lima jenderal mengundurkan diri, termasuk Menteri Angkatan Laut, Kepala Staf Angkatan Darat, dan kepala unit intelijen kontra-terorisme.
"Perpecahan bukan di tubuh Iran, tetapi di tubuh kepemimpinan militer AS," tulis Atwan.
Iran Tak Terburu-buru
Di akhir analisisnya, Atwan menegaskan: Iran tidak terburu-buru. Berbeda dengan pemerintahan AS, Iran membela tanah, kedaulatan, dan martabatnya. Untuk ketiga kalinya, agresi AS-Zionis gagal, baik mengalahkan maupun menundukkan Tehran.
Atwan melihat jelas: Trump butuh "tali penyelamat", tetapi Iran tidak punya kewajiban melemparkannya. Mengapa? Karena perang ini bukan salah Iran. Setiap kali Trump mencoba menggertak, ia berakhir dengan memperpanjang gencatan, sendirian.
Lima jenderal mundur. Pangkalan militer AS di kawasan tidak aman. Selat Hormuz di tangan Iran. Dan Trump, yang dulu berjanji "kemenangan total", kini hanya bisa berharap agar keluar dari rawa tanpa kehilangan muka.
Iran tidak terburu-buru. Waktu, medan, dan moral, semua berpihak pada mereka yang bertahan, bukan yang memulai agresi.(sl)