Iran Aktualita, 25 Juli 2020
-
Ayatullah Khamenei dan PM Irak
Perkembangan di Iran pekan ini diwarnai sejumlah isu seperti kunjungan PM Irak ke Iran dan pertemuannya dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Khamenei.
Isu lainnya yang terjadi di Republik Islam pekan ini adalah statemen jubir kemenlu terkait pemilu di Suriah, kinerja MA Iran menurut ketua lembaga ini, komandan AU Iran tegaskan kesiapan penuh militer negara ini, statemen menlu Zarif terkait hubungan Iran-Arab Saudi.
Presiden Iran Sambut Kunjungan PM Irak
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani secara resmi menyambut kedatangan Perdana Menteri Irak, Mostafa Al-Kadhimi di Tehran pada hari Selasa.
Pada upacara penyambutan resmi, lagu kebangsaan Iran dan Irak dikumandangkan, dan pertemuan dilanjutkan dengan pembicaraan antara pemimpin kedua negara bertetangga ini.
Penguatan kerja sama bilateral di berbagai dari bidang politik, ekonomi hingga budaya, serta bertukar pandangan tentang masalah regional dan internasional menjadi agenda pembicaraan antara Rouhani dan Al-Kadhimi.
Menteri luar negeri, minyak, listrik, keuangan, pertahanan, kesehatan dan pejabat tinggi keamanan nasional Irak mendampingi Mostafa Al-Kadhimi dalam kunjungannya ke Tehran.
Rahbar: Iran Menentang Pelemahan Irak, dan akan Pukul Balik AS
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, Iran menginginkan Irak yang terhormat dengan tetap mempertahankan integritas teritorial, persatuan dan solidaritas internal. Menurutnya, Amerika Serikat adalah sebenar-benarnya musuh, dan ia tidak menginginkan Irak yang independen, kuat dan memiliki pemerintah hasil suara mayoritas.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Selasa (21/7/2020) dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Irak Mustafa Al Kadhimi, menegaskan penentangan Iran atas segala bentuk upaya untuk melemahkan pemerintah Irak.
Rahbar menuturkan, apa yang sangat penting dalam hubungan bilateral bagi Republik Islam Iran adalah kepentingan, kemaslahatan, keamanan, kehormatan, kekuatan regional, dan pemulihan kondisi Irak.
Menurut Ayatullah Khamenei, pandangan Amerika tentang Irak, sepenuhnya bersebarangan dengan Iran.
"Iran terkait hubungan Irak dan Amerika tidak mau ikut campur, tapi berharap sahabat kami Irak, mau mengenal Amerika, dan ketahuilah kehadiran Amerika di negara manapun selalu menjadi sumber kerusakan, dan kehancuran," imbuhnya.
Rahbar menyebut teror Jenderal Syahid Qassem Soleimani, dan Syahid Abu Mahdi Al Muhandis sebagai bukti hasil kehadiran Amerika.
Ia menegaskan, Republik Islam Iran tidak akan pernah melupakan teror ini, dan pasti akan memberikan pukulan balasan kepada Amerika.
Ayatullah Khamenei menambahkan, perluasan hubungan Iran dan Irak mendapat penentangan dari sejumlah pihak terutama Amerika, tapi jangan pernah takut pada Amerika, karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Rahbar juga menyebut Marjaiyat dan pribadi Ayatullah Sistani sebagai sebuah nikmat besar bagi Irak.
"Hashd Al Shaabi adalah nikmat besar lainnya di Irak yang harus dipertahankan," ujar Rahbar.
Sementara itu, PM Irak menganggap pertemuannya dengan Rahbar sebagai sebuah kebahagiaan besar, dan berterimakasih atas sikap serta dukungan Iran dalam berbagai kesempatan terutama di masa perang melawan Daesh dan Takfiri.
Ia menjelaskan, rakyat Irak tidak akan pernah melupakan bantuan Iran, dan kenyataannya adalah darah rakyat Irak dan Iran bercampur dalam perang melawan Takfiri.
Mustafa Al Kadhimi menegaskan, hubungan Iran dan Irak adalah hubungan sejarah, budaya dan mazhab yang dalam dan panjang dengan bersandar pada kecintaan terhadap Ahlul Bait as.
Kepada Rahbar, PM Irak menuturkan, arahan dan nasihat Anda laksana kunci yang menyelesaikan berbagai permasalahan, dan saya berterimakasih serta b bersyukur atas bimbingan ini.
Mousavi: Pemilu Legislatif Suriah Langkah Positif Menciptakan Perdamaian dan Stabilitas
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam menyatakan harapannya bahwa hasil pemilihan legislatif Suriah akan menjadi langkah positif menuju perdamaian, stabilitas dan kemajuan proses dialog politik Suriah-Suriah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Sayid Abbas Mousavi pada hari Senin (20/07/2020) menyatakan kepuasan dengan keberhasilan pelaksanaan pemilu legislatif Suriah seraya mengatakan, "Pemiliu legislatif ini diadakan dalam situasi di mana orang-orang Suriah karena konflik dan kehancuran yang disebabkan oleh kelompok-kelompok teroris, kehadiran pasukan pendudukan asing dan sanksi sepihak yang tidak adil telah menyebabkan banyak penderitaan dan kesulitan."
"Republik Islam Iran berharap bahwa pemilu legislatif Suriah akan menjadi langkah positif menuju perdamaian, stabilitas dan kemajuan proses dialog politik Suriah-Suriah dan mengurangi penderitaan rakyat Suriah," ungkap Mousavi.
Putaran ketiga pemilu parlemen di Suriah sejak amandemen konstitusi 2012 diadakan pada hari Minggu di 14 provinsi untuk memilih 250 anggota parlemen Suriah.
Raeisi: Agitasi Musuh Tidak Mempengaruhi Kinerja Mahkamah Agung Iran
Ketua Mahkamah Agung menjelaskan bahwa agitasi musuh tidak akan mempengaruhi kinerja lembaga ini seraya mengatakan, "Dasar peradilan Iran untuk mengeluarkan putusan berlandaskan syariat dan hukum."
Sayid Ebrahim Raeisi, Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran hari Senin (20/07/2020) mengumumkan bahwa para pejabat pengadilan Republik Islam membedakan antara protes dan kerusuhan lalu menambahkan, "Protes harus didengar, tetapi garis merah pejabat pengadilan Iran adalah kekacauan, rasa tidak aman dan disintegrasi negara."
"Sistem peradilan di pengadilan Iran didasarkan pada bukti dan perlunya hak dan keadilan serta kapasitas hukum dan proses peradilan menjamin hak-hak publik dan menjamin hak-hak orang yang berperkara dan terdakwa," ungkap Raeisi.
Selama beberapa hari terakhir, media asing telah melancarkan serangan sebagai tanggapan terhadap hukuman mati tiga perusuh bersenjata di Iran, yang berusaha untuk mengalihkan opini publik dari kejahatan mereka.
Selain perampokan bersenjata, menyerang warga biasa, termasuk seorang wanita, membuat kerusuhan dan membakar bank dan bus, para penjahat ini memfilmkan kejahatan mereka dan mengirimkannya ke beberapa media yang memusuhi Iran.
Brigjen Sahabi Fard: Angkatan Bersenjata Iran dalam Kondisi Siaga Penuh !
Komandan angkatan udara militer Iran, Brigjen Alireza Sahabi Fard mengatakan angkatan bersenjata Iran dalam kesiagaan penuh menghadapi setiap potensi serangan musuh di berbagai kondisi.
"Musuh tahu betul kesiapan tempur angkatan bersenjata Republik Islam Iran saat ini,sehingga tidak akan main-main," ujar Brigjen Sahabi Fard.
Brigadir Jenderal Sahabi Fard dalam inspeksi ke unit pertahanan udara Khondab di wilayah tengah Iran hari Selasa (21/7/2020) mengatakan, "Kekuatan pertahanan udara Iran memantau setiap gerak-gerik musuh dan mengeluarkan peringatan tepat waktu terhadap setiap ancaman yang menghadang,".
Selama kunjungan ini, Brigadir Jenderal Sabahi Fard meninjau langsung kesiapan operasional alutsista Iran, dan menyatakan kepuasannya menyaksikan kesiapan semua unit tempur yang dipimpinnya.
Soal Hubungan dengan Arab Saudi, Ini Kata Menlu Iran
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan Iran punya kesiapan membangun hubungan yang baik dengan Arab Saudi, tetapi sayangnya pemerintah Riyadh tidak menginginkan hubungan yang setara dengan Tehran.
Hal itu disampaikan dalam konferensi pers bersama dengan mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov di Moskow pada hari Selasa (21/7/2020) seperti dilansir IRNA.
Iran, lanjut Zarif, selalu menginginkan hubungan yang baik dengan negara-negara tetangganya. Memiliki hubungan baik dengan para tetangga merupakan prioritas kebijakan luar negeri Iran.
Dia menekankan tekad Iran untuk mengembangkan hubungan dengan para tetangganya termasuk di wilayah Teluk Persia dan mengumumkan kesiapan Iran untuk menjalin hubungan dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab atas dasar sikap saling menghormati.
Berbicara tentang proposal keamanan Rusia untuk Teluk Persia, Zarif mengingatakan bahwa Iran juga telah menawarkan proposal perdamaian Hormuz yang sebenarnya sejalan dengan usulan Moskow.
"Irak juga ingin menjalin kerja sama dalam menciptakan keamanan kawasan dan Baghdad dapat memainkan peran penting dalam memastikan keamanan dan stabilitas regional," pungkasnya.
Zarif Tekankan Pentingnya Hubungan dengan Tetangga untuk Lawan Sanksi
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menilai penting hubungan dengan tetangga untuk melawan sanksi ilegal Amerika Serikat dan menjaga keamanan kawasan.
Mohammad Javad Zarif di sidang kabinet Rabu (22/7/2020) menambahkan, tetangga memainkan peran pertama di kebijakan luar negeri setiap negara, hari ini ketika Amerika melalui kebijakan represi maksimum, menjatuhkan beragam sanksi zalim kepada bangsa Iran, maka tetangga memiliki urgensitas khusus dan istimewa.
Menlu Iran saat merespon desas desus terkait mediasi perdana menteri Irak antara Tehran dan Riyadh mengatakan, Republik Islam Iran senantiasa siap menjalin hubungan dengan Arab Saudi, namun Riyadh bergantung kepada sejumlah kekuatan asing yakni AS, Inggris dan Israel ketimbang para tetangga yang senantiasa ada di sekitarnya.
Seraya mengisyaratkan kunjungan terbarunya ke Rusia, Zarif menilai bermanfaat perundingannya dengan petinggi Moskow dan mengkonfirmasi pembaruan kontrak strategis komprehensif jangka panjang antara Iran dan Rusia.
Menlu Iran juga menilai kunjungan perdana menteri Irak ke Iran sebagai sebuah transformasi penting diplomatik dan menambahkan, "Pembicaraan Rahbar dengan perdana menteri Irak terkait dukungan terhadap pemerintah dan kedaulatan Irak sangat jelas dan dapat menjadi fasilitator bagi perdana menteri Irak."
"Perdana menteri Irak mampu memanfaatkan arahan Rahbar ini untuk membentuk sebuah pemerintahan yang sangat solid di Irak," ungkap Zarif.
Menlu Iran: Hentikan AS Sebelum Terjadi Bencana!
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menyerukan perlawanan masyarakat internasional terhadap arogansi Amerika Serikat di wilayah Asia Barat.
Hal itu disampaikan pada hari Jumat (24/7/2020) setelah dua jet tempur Amerika menganggu penerbangan pesawat penumpang Mahan Air di zona udara Suriah. Tindakan berbahaya ini menyebabkan sejumlah penumbang Mahan Air terluka.
"AS menduduki wilayah negara lain secara ilegal dan kemudian mengganggu sebuah penerbangan sipil terjadwal dan membahayakan keselamatan penumpang sipil yang tidak bersalah," tulis Zarif via akun Twitternya.
"Tindakan Amerika ini tampaknya bertujuan untuk melindungi pasukan pendudukannya. Arogansi menyebabkan AS terus melanggar hukum dan pelanggar hukum ini harus dihentikan sebelum terjadi bencana," imbuhnya.
Maskapai Mahan Air dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, menyampaikan bahwa 12 penumpang terluka akibat gangguan yang diciptakan oleh jet tempur Amerika.
"Penerbangan Mahan Air di rute tersebut telah beroperasi selama lebih dari satu dekata secara terjadwal. Maskapai ini selalu tunduk pada peraturan penerbangan, dan insiden ini dapat dianggap sebagai contoh lain dari pelanggaran hukum oleh rezim yang berkuasa di AS," tegasnya.
Sementara itu, Menteri Jalan Raya dan Pembangunan Perkotaan Iran, Mohammad Eslami menyebut ulah jet tempur Amerika sebagai tindakan terorisme.
"Tindakan Amerika ini tidak dapat diterima oleh logika apapun dan Iran mengharapkan adanya investigasi segera dan kecaman,"