Iran Aktualita; 31 Agustus 2020
-
Rahbar di peringatan duka Imam Husein as
Perkembangan di Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti peringatan duka Imam Husein selama bulan Muharram di tengah pandemi Corona.
Selain itu, ada berbagai isu lainnya seperti tanggapan Iran mengenai kesepakatan normalisasi hubungan Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel, kunjungan Dirjen IAEA ke Tehran dan masih banyak lagi isu lainnya.
Bulan Muharram dan peringatan kesyahidan Imam Husein as tahun ini bertepatan dengan pandemi Corona. Rahbar menyeru peringatan ini digelar secara hati-hati dan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Badan Penanggulanan Wabah Corona.
Acara duka malam Asyura digelar di Husseiniyah Imam Khomeini dengan dihadiri Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
Menurut laporan pusat penerangan Kantor Rahbar, acara ini digelar tanpa kehadiran masyarakat mengingat pandemi Corona dan penekanan Rahbar untuk menjaga instruksi Badan Nasional Penanggulangan Corona.
Ahad (30 Agustus 2020) bertepatan dengan 10 Muharram 1442 H adalah hari Asyura.
Acara duka memperingati gugurnya Imam Husein bin Ali as, Imam ketiga Syiah digelar selama enam hari mulai dari 26-31 Agustus 2020 di Husseiniyah Imam Khomeini di Tehran.
Imam ketiga Syiah dan sahabat setianya gugur syahid di Padang Karbala pada 10 Muharram 61 H.
Khatibzadeh: Kesepakatan UEA-Zionis Melukai Dunia Islam
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, "Kesepakatan antara Uni Emirat Arab dan rezim Zionis adalah luka bagi dunia Islam dan umat Islam di dunia tidak akan pernah melupakan pengkhianatan terhadap Quds Syarif."
Saeed Khatibzadeh, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam pertemuan pertamanya pada hari Senin (24/08/2020) setelah menjabat, merujuk pada dimulainya hubungan Abu Dhabi-Tel Aviv, mengatakan bahwa jika ancaman di Asia Barat dari rezim pendudukan Quds mengarah pada kawasan, maka Uni Emirat Arab yang akan bertanggung jawab.
Khatibzadeh menekankan bahwa dalam doktrin pertahanan dan keamanan Iran, Teluk Persia adalah wilayah di mana Zionis Israel tidak dianggap sebagai ancaman, selain itu, rezim Zionis terlalu kecil untuk menjadi ancaman bagi Iran.
Sekaitan dengan hubungan Tehran dengan negara-negara Arab dan Islam, menyusul normalisasi hubungan antara beberapa penguasa Arab dan rezim Zionis, Jubir Kemenlu Iran menambahkan, "Zionis Israel telah menunjukkan bahwa ia tidak dapat menjamin keamanannya dan tidak ada perjanjian yang belum dilanggar serta tidak ada teror yang belum dilakukan olehnya. Ini adalah realitas dunia dan realitas ini tidak berubah."
Mengenai kunjungan Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional ke Tehran, Khatibzadeh hari ini mengatakan bahwa hubungan Iran-IAEA selalu sangat penting dan mengalami pasang surut dalam beberapa tahun terakhir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa menurut Badan Energi Atom Internasional, kunjungan dan akses terbanyak terjadi di Iran selama sejarah Badan Energi Atom Internasional ini, dan selama IAEA bertindak tidak memihak dan jauh dari tekanan politik dan pihak ketiga, secara teknis, tidak akan ada masalah antara Iran dan IAEA.
"Irak memiliki tempat khusus dalam kebijakan luar negeri Iran, dan selama kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Baghdad baru-baru ini, masalah dokumen strategis antara kedua negara menjadi agenda dan akan diinformasikan setelah final," kata Khatibzadeh, mengumumkan kesiapan Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein untuk mengadakan pembicaraan strategis dengan Iran dan negara-negara di kawasan.
Jubir Kemenlu Iran juga menyatakan kepuasan atas kesepakatan yang dicapai di Libya antara kedua belah pihak, seraya mengatakan bahwa awal pembicaraan antara kelompok Libya adalah untuk kepentingan perdamaian dan stabilitas di Afrika.
Parlemen Iran: Kesepakatan UEA-Israel, Khianati Perjuangan Palestina !
Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran menilai perjanjian perdamaian antara Uni Emirat Arab (UEA) dengan rezim Zionis sebagai ancaman serius bagi keamanan Asia barat.
"Ketika pemerintahan teroris AS mengusung program Kesepakatan Abad yang gagal demi menghancurkan Palestina yang masih tersisa, penguasa Abu Dhabi justru mengabaikan kepentingan bangsa Palestina juga umat Islam dan bangsa Arab, melalui pengumuman perjanjian damai dengan musuh Zionis. Langkah mereka ini jelas memberikan pukulan lain bagi perjuangan Palestina, sekaligus menorehkan aib sejarah baru," kata komisi keamanan nasional dan kebijakan luar negeri parlemen Iran dalam statemennya yang dikeluarkan hari Minggu (23/8/2020).
"Tindakan Abu Dhabi sebagai bentuk pengkhianatan lain terhadap cita-cita umat Islam, khususnya bangsa Palestina. Negara-negara merdeka di kawasan tidak akan diam menyikapinya", tegasnya.
Komisi strategis di parlemen Iran ini memandang langkah UEA demi mengamini dikte Presiden AS Donald Trump.
Zarif: Kunjungan Dirjen IAEA Tidak Berkaitan dengan Mekanisme Pemicu
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan kunjungan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke Tehran tidak ada hubungannya dengan mekanisme pemicu.
Mohammad Javad Zarif kepada wartawan hari Senin (24/8/2020) mengatakan, kerja sama antara Iran dengan IAEA didasarkan pada prinsip transparansi.
"Kunjungan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional ke Tehran merupakan kelanjutan dari pembicaraan sebelumnya antara Tehran dan Badan Energi Atom Internasional." ujar Zarif.
Mengenai tuduhan Iran berambisi membuat senjata nuklir, Zarif mengungkapkan, "Di masa lalu, Iran telah menjadi korban senjata kimia, dan tidak akan pernah menggunakan senjata kimia dan nuklir. Iran juga siap untuk bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional di bidang energi nuklir sipil," tegas menlu Iran.
Di bagian lain, Menteri Luar Negeri Iran menekankan, "Tehran tidak akan mengizinkan pihak yang menentang tujuan IAEA dan memiliki senjata nuklir seperti AS dan rezim Zionis untuk menggunakan senjata nuklir demi mengganggu perdamaian dan keamanan di Timur Tengah,".
Rafael Mariano Grossi Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional akan melakukan perjalanan ke Iran hari ini dan akan bertemu dengan pejabat Republik Islam Iran pada hari Selasa dan Rabu.
Zarif: Kami Menginginkan Hubungan Normal dengan IAEA
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran dalam sebuah twitt, merujuk pada pertemuan "sangat konstruktif" dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, menekankan kesiapan Tehran untuk hubungan normal dengan IAEA dan memperingatkan beberapa sabotase.
Menurut laporan IRNA, Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran melanjutkan twittnya, "Iran telah sepenuhnya transparan. Lebih dari 92% inspeksi pada kasus global serupa telah dilakukan di Iran."
"Beberapa berusaha menghilangkan transparansi ini dengan mendorong dibukanya kembali masalah-masalah yang telah selesai," ujar Zarif memperingatkan.
Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tiba di Tehran pada hari Senin (24/08/2020) sebagai kepala delegasi untuk pertemuan dua hari dengan para pejabat Iran.
Grossi, yang memimpin delegasi dari Badan Energi Atom Internasional ke Tehran, juga bertemu dengan Ali Akbar Salehi, kepala Organisasi Energi Atom Iran, Selasa (25/08).
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, dalam pertemuan dengan kepala Organisasi Energi Atom Iran, menyatakan, "Tidak ada pengaruh di IAEA, tetapi ada tekanan, yang juga merupakan bagian dari politik dunia."
Rahbar: Ekonomi Nasional tidak Boleh Dikaitkan dengan Transformasi Asing
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei seraya menjelaskan bahwa program ekonomi nasional tidak boleh tertunda dengan pencabutan sanksi atau hasil pemilu negara tertentu, menekankan, ekonomi nasional sama sekali tidak boleh dikaitkan dengan transformasi asing, karena ini sebuah kesalahan strategis.
Ayatullah Khamenei Ahad (23/8/2020) bertepatan dengan Pekan Pemerintah di konferensi video dengan presiden serta anggota kabinet menjelaskan, Harus diasumsikan bahwa sanksi, misalnya, akan berlanjut selama sepuluh tahun ke depan, dengan demikian harus fokus pasa kapasitas dan fasilitas dalam negeri serta ekonomi negara tidak harus bergantung pada transformasi asing.
Lebih lanjut Rahbar kepada seluruh pejabat negara mengingatkan, "Memberi pelayanan kepada Republik Islam memiliki nilai ganda dan kalian harus menghargainya, karena pelayanan ini membantu menampilkan teladan Islam guna membangun sebuah masyarakat dan mengelolanya. Oleh karena itu, nilanya pun ganda."
Rahbar juga mengisyaratkan kegagalan berbagai aliran kemanusiaan untuk mengelola masyarakat, dan menyebutkan Amerika sebagai teladan kegagalan ini. "Nilai-nilai kemanusiaan seperti kesehatan, keselamatan, keadilan dan keamanan banyak dilanggar di Amerika," papar Rahbar.
Ayatullah Khamenei mengatakan, "Selain kendala dalam negeri dan manajemen, pembunuhan, pengobaran perang dan pengobaran instabilitas merupakan pekerjaan umum Amerika di Suriah, Palestina, Yaman dan sebelumnya di Irak, Afghanistan serta berbagai wilayah lain seperti Vietnam dan Herosima."
Rahbar juga menyebut berkuasanya sosok yang membuat AS dilecehkan sebuah indikasi akan kegagalan teladan kemanusiaan dan kemunduran mereka yang kebarat-baratan. "Teladan independen Islam untuk membangun pemerintah dan masyarakat bertumpu pada tiga hal, Iman, Ilmu dan Keadilan," tegas Ayatullah Khamenei.
Ayatullah Khamenei di bagian akhir pidatonya seraya mengisyaratkan sepenggal khutban Imam Ali bin Abi Thalib as terkait bahwa jika umat mukmin menolak membantu orang lain, maka mereka akan kalah, menambahkan, ini merupakan pelajaran bagi manusia dan seluruh orang mukmin serta dewasa ini ketika musuh senantiasa merangcang konspirasi, maka harus disusun program untuk melawannya.
Rouhani: Jaringan Pasokan Gas Iran Unik di dunia
Presiden Republik Islam Iran menyebut jaringan pasokan gas Iran unik di dunia dan mengatakan bahwa 17.000 desa terhubung ke jaringan gas nasional dan bahan bakar 89 pembangkit listrik di negara itu disuplai dengan gas.
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani menekankan pentingnya industri gas di negara itu selama konferensi video pada hari Senin (24/08/2020) di acara Pengoperasian Rencana Nasional Kementerian Perminyakan seraya menambahkan, "Gas adalah industri besar yang menghasilkan energi bersih, akan mengembangkan negara, dan merupakan industri infrastruktur yang menggerakkan industri yang lebih besar seperti petrokimia dan menghubungkan Iran dengan negara-negara tetangganya."
Presiden Republik Islam Iran menjelaskan bahwa gas Iran diekspor dari barat negara itu ke Turki dan Irak, dan kemungkinan ekspor ke negara-negara timur telah disediakan serta dalam hal ini pipa gas telah diperpanjang hingga ke perbatasan dengan Pakistan.
Rouhani mengatakan, industri gas merupakan industri infrastruktur dan menjadi faktor pembangunan negara dengan produksi energi bersih, seraya menambahkan bahwa produksi gas dari 600 juta meter kubik telah mencapai hampir seribu juta meter kubik.
Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran pada hari Senin (24/08/2020) dalam hubungannya dengan Pekan Pemerintah, pada konferensi video, telah diresmikan rencana untuk mengembangkan dan meningkatkan pusat pengiriman gas dan saluran transmisi gas nasional keenam dan kesembilan, fase pertama Petrokimia Bushehr dan Pembangkit Listrik Siklus Gabungan 500 MW Barat Karun dan jalur transmisi. serta gardu Induknya.