‎Kesucian sebagai Syarat Gerakan
https://parstoday.ir/id/news/opini-i191434-kesucian_sebagai_syarat_gerakan
‎Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
(last modified 2026-06-14T03:46:28+00:00 )
Jun 14, 2026 10:23 Asia/Jakarta
  • Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
    Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin

‎Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin

‎‎Tampaknya, ada penyebab banyak gerakan lahir dengan gegap gempita, tetapi berakhir amburadul di tengah jalan. Bukan karena kekurangan massa. Bukan karena kekurangan slogan. Bahkan bukan karena kekurangan keberanian. Melainkan karena kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: kesucian.

‎‎Tadi pagi tubuh saya sebenarnya belum sepenuhnya pulih. Flu masih menyisakan berat di kepala dan tenggorokan. Namun karena ada janji yang harus ditunaikan, saya tetap hadir dalam sebuah pengaderan untuk menyampaikan materi tentang dua pusaka yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepada umatnya: Al-Qur'an dan Ahlul Bait.

‎‎Saya menyampaikan bahwa dalam banyak riwayat, hadis Tsaqalain memiliki kedudukan yang sangat kuat. Dari sudut logika pun menarik untuk direnungkan. Bagaimana mungkin kitab suci yang menjadi standar kebenaran justru dijelaskan secara final oleh sesuatu yang derajat epistemiknya berada di bawahnya? Bukankah penjelas Al-Qur'an semestinya adalah manusia-manusia yang memiliki kualifikasi khusus, yang tidak hanya berilmu tetapi juga terjaga kesuciannya? Dalam tradisi Ahlul Bait, mereka adalah dua belas imam yang dimulai dari Imam Ali bin Abi Thalib AS.

‎‎Seusai acara, saya berdiskusi dengan beberapa teman mengenai berbagai gerakan sosial, politik, dan keagamaan di Indonesia maupun dunia. Kami membicarakan sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, ketidakadilan, dan berbagai bentuk kezaliman.

‎‎Di Indonesia, banyak gerakan lahir dengan niat yang mulia. Namun jika dilihat dari kontinuitas sejarahnya, tidak sedikit yang kehilangan arah ketika berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, atau godaan dunia. Sementara di belahan dunia lain, seperti Iran, kita menyaksikan bagaimana sebuah gerakan perlawanan mampu bertahan melewati tekanan yang luar biasa dahsyatnya hingga akhirnya mengubah sejarah.

‎‎Malam hari, setelah shalat Isya, saya pulang ke rumah. Dalam keheningan, saya mencoba mengulang kembali apa yang saya sampaikan siang tadi. Pikiran saya kemudian tertuju kepada Imam Khomeini.

‎‎Apa yang membuat beliau begitu yakin? Yakin yang bukan sekadar optimisme politik, melainkan keyakinan yang tak tergoyahkan oleh ruang dan waktu.

‎‎Padahal beliau tidak hanya berhadapan dengan penguasa yang represif. Beliau juga menghadapi penolakan dari sebagian kalangan ulama, tekanan politik internasional, pengasingan, ancaman, dan berbagai bentuk kesulitan yang bagi kebanyakan manusia cukup untuk membuat langkah terhenti.

‎Namun Imam Khomeini terus berjalan.

‎‎Tidak mundur.

‎‎Tidak berbelok.

‎Tidak menawar prinsip.

‎‎Mengapa?

‎‎Saya kemudian menduga, barangkali karena beliau sejak awal tidak membangun gerakan di atas fondasi kekuasaan, melainkan di atas fondasi penyucian diri. Kesucian bagi beliau bukan utopia. Bukan sekadar tema ceramah. Bukan pula slogan spiritual yang indah didengar tetapi mustahil dicapai. Kesucian adalah realitas ontologis. Sebuah keadaan jiwa yang harus diperjuangkan.

‎‎Mungkin karena itulah beliau mencapai maqam yang sulit diraih banyak orang: kebahagiaan dalam kesederhanaan.

‎‎Ketika seseorang telah menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan, maka tarikan dunia mulai kehilangan daya gravitasinya. Jabatan tidak lagi  mempesona. Kekayaan tidak lagi  memabukkan. Pujian tidak lagi membuat mabuk, dan cacian tidak lagi membuat runtuh.

‎‎Yang tersisa hanyalah kerinduan untuk terikat kepada Cahaya Yang Maha Suci.

‎‎Bukankah salah satu doa para arif adalah memohon agar kebahagiaan mereka hanya bergantung kepada kedekatan dengan Allah, bukan kepada apa pun selain-Nya?

‎‎Mungkin di situlah letak rahasia keteguhan Imam Khomeini.

‎‎Rasulullah SAW meninggalkan dua pusaka: Al-Qur'an yang suci dan Ahlul Bait yang suci. Mewarisi keduanya bukan sekadar mengaku mencintainya. Bukan sekadar menghapal riwayat-riwayat tentangnya. Yang lebih penting adalah menempuh jalan yang mereka tempuh: jalan penyucian diri.

‎‎Sebab Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan hukum. Ia mengajarkan kesucian. Ahlul Bait tidak hanya mengajarkan pengetahuan. Mereka mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang tidak diperbudak oleh dunia.

‎‎Ketika kesucian menjadi fondasi, maka gerakan tidak lagi sekadar menjadi perebutan kekuasaan. Ia berubah menjadi ibadah. Perlawanan terhadap kezaliman tidak lagi lahir dari kebencian, melainkan dari kecintaan kepada kebenaran.

‎‎Dan mungkin itulah yang sering hilang dari banyak gerakan kita hari ini.

‎‎Kita ingin memenangkan dunia sebelum memenangkan diri sendiri.

‎‎Kita ingin mengalahkan musuh di luar sana, tetapi belum selesai menghadapi musuh yang bersemayam di dalam dada.

‎‎Padahal sejarah para nabi, para wali, dan orang-orang saleh menunjukkan bahwa kemenangan besar selalu dimulai dari penaklukan terhadap diri sendiri.

‎‎Maka malam ini, di tengah segala hiruk-pikuk dunia yang semakin bising, saya hanya bisa berdoa:

‎‎"Ya Allah, jangan biarkan kami memperjuangkan kebenaran dengan hati yang masih mencintai kebatilan. Jangan biarkan kami berbicara tentang kesucian sementara jiwa kami masih sibuk mengumpulkan dunia. Ikatlah hati kami kepada cahaya Al-Qur'an dan keluarga Nabi-Mu yang suci. Sebab hanya dengan ikatan itu, perlawanan terhadap kezaliman dapat tetap suci, dan perjalanan menuju-Mu tidak kehilangan arah."

‎‎Duh Gusti, maafkan kami. Anugerahkan kepada kami KhomeiniMu.