Duka Husaini dalam Kegelapan Oseanografi
https://parstoday.ir/id/news/opini-i193068-duka_husaini_dalam_kegelapan_oseanografi
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
(last modified 2026-07-13T04:51:19+00:00 )
Jul 13, 2026 11:46 Asia/Jakarta
  • Duka Husaini dalam Kegelapan Oseanografi

Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin

 

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ ۚ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi ombak, yang di atasnya ombak pula, di atasnya lagi awan. Gelap gulita yang bertumpuk-tumpuk. Apabila seseorang mengeluarkan tangannya, hampir ia tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah ia mempunyai cahaya sedikit pun."(QS. An-Nur [24]: 40)

Laut selalu menyimpan rahasia yang baru dipahami manusia setelah perjalanan ilmu yang panjang. Selama berabad-abad, manusia hanya mengenal wajah permukaannya: ombak yang berkejaran, angin yang meniup layar, dan buih yang memecah di tepian. Laut tampak sederhana, seolah seluruh dinamika yang dimilikinya berhenti pada cakrawala yang sanggup dijangkau mata.

Namun ilmu pengetahuan mengubah cara kita memandang samudra.

Kapal selam, sensor akustik, satelit, dan berbagai instrumen oseanografi memperlihatkan bahwa laut bukanlah ruang yang datar, melainkan dunia yang bertingkat-tingkat. Semakin dalam seseorang menyelam, semakin sedikit cahaya yang mampu bertahan. Warna merah menghilang lebih dahulu, disusul jingga, kuning, hijau, hingga akhirnya hanya tersisa biru yang redup sebelum seluruh cahaya lenyap sama sekali. Di bawah zona fotik terbentang wilayah afotik—sebuah dunia yang tidak pernah mengenal siang karena cahaya matahari tak lagi mampu mencapainya.

Pada kedalaman itu tekanan air mencapai ratusan kali tekanan atmosfer. Setiap meter menambah beban yang nyaris mustahil dibayangkan manusia daratan. Akan tetapi, justru di sanalah para oseanografer menemukan salah satu fenomena paling menakjubkan: internal wave, gelombang raksasa yang tidak bergulung di permukaan, melainkan bergerak di antara lapisan-lapisan air yang berbeda suhu dan massa jenis. Tingginya dapat mencapai ratusan meter. Laut ternyata memiliki ombak yang tak kasatmata—ombak di bawah ombak.

Penemuan ini membuat deskripsi Al-Qur'an terasa begitu menggetarkan. Ketika langit tertutup awan, permukaan laut bergelombang, sementara jauh di bawahnya masih terdapat gelombang-gelombang lain yang bergerak dalam kegelapan, maka tergambarlah susunan yang diisyaratkan ayat: "ombak, di atasnya ombak lagi, di atasnya lagi awan."

Namun Al-Qur'an tidak sedang mengajarkan oseanografi semata. Ia menggunakan alam sebagai bahasa untuk menjelaskan manusia.

Yang paling menarik justru bukan lautnya, melainkan kata ẓulumāt—kegelapan-kegelapan. Bentuk jamak. Bertumpuk. Saling menindih.

Kegelapan ternyata tidak datang sekaligus. Sebagaimana cahaya menghilang sedikit demi sedikit ketika menembus kedalaman samudra, demikian pula hati dan akal kehilangan kejernihannya secara perlahan. Mula-mula nurani mulai tumpul, kemudian akal mencari pembenaran, setelah itu kebiasaan mengalahkan kepekaan, hingga akhirnya manusia tidak lagi mampu mengenali dirinya sendiri. Itulah makna yang begitu kuat dalam firman Allah: ketika seseorang mengulurkan tangannya, ia hampir tidak dapat melihatnya.

Barangkali inilah salah satu cara paling jernih untuk memahami tragedi Karbala.

Masyarakat yang hidup sezaman dengan Imam Husain bukanlah masyarakat yang asing terhadap Islam. Mereka membaca Al-Qur'an, menghafal hadis, menunaikan salat, dan menghadap kiblat yang sama. Akan tetapi, pengetahuan ternyata tidak selalu melahirkan cahaya. Sebab ada sesuatu yang lebih kuat daripada pengetahuan yang tidak disertai ketulusan: ambisi kekuasaan, kerakusan terhadap dunia, ketakutan kehilangan kedudukan, dan kesediaan menjual nurani demi keselamatan sesaat.

Semua itu tergambar secara tragis pada sosok Umar bin Sa'ad dan mereka yang memilih berdiri di pihak pembunuh cucu Rasulullah.

Gelombang pertama adalah ambisi politik yang mengaburkan batas antara amanah dan kekuasaan.

Gelombang kedua adalah propaganda yang mengubah kebenaran menjadi ancaman dan kebatilan menjadi kewajaran.

Gelombang berikutnya adalah budaya takut yang membuat manusia memilih diam ketika kezaliman berdiri di depan mata.

Di atas semuanya masih ada awan kepentingan dunia yang menutupi langit moral masyarakat, sehingga cahaya kebenaran tidak lagi mampu menembus hati mereka.

Maka Karbala tidak lahir di ruang yang terang.

Ia lahir di dasar samudra sejarah, ketika masyarakat telah tenggelam ke dalam lapisan-lapisan kegelapan yang begitu rapat sehingga mereka gagal membedakan siapa pewaris cahaya kenabian dan siapa pembawanya menuju kegelapan.

Mereka melihat Husain, tetapi tidak mengenali cahayanya.

Mereka mendengar suaranya, tetapi tidak menangkap kebenarannya.

Mereka memiliki mata, tetapi kehilangan kemampuan melihat.

Di situlah letak tragedi yang sesungguhnya.

Yang gugur di Karbala bukan hanya Imam Husain. Jauh sebelum pedang dihunus dan darah tertumpah, yang lebih dahulu mati adalah cahaya di dalam hati manusia. Ketika cahaya batin padam, tangan dapat mengayunkan pedang atas nama agama, sementara nurani telah lama kehilangan arah.

Karena itu, penutup ayat tersebut terasa demikian mengguncang:

"Barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah ia mempunyai cahaya sedikit pun."

Di kedalaman samudra, Allah juga memperlihatkan pelajaran yang lain. Ketika cahaya matahari tak lagi menjangkau dasar laut, sebagian makhluk diciptakan dengan kemampuan menghasilkan cahaya sendiri melalui bioluminesensi. Cahaya kecil itu menjadi penunjuk arah, sarana bertahan hidup, bahkan penentu keselamatan di tengah kegelapan yang nyaris absolut.

Demikian pula cahaya Ilahi bagi manusia.

Ia bukan sekadar banyaknya pengetahuan, melainkan kemampuan hati dan akal untuk mengenali kebenaran ketika kebenaran berdiri tepat di hadapannya.

Dalam tradisi Islam, Imam Husain merupakan salah satu pancaran cahaya Ilahi itu. Beliau bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan penunjuk arah bagi setiap zaman. Karena itu, mengingat Husain bukan hanya mengenang masa silam, melainkan terus menghidupkan orientasi menuju jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Sebagaimana cahaya bioluminesensi memungkinkan makhluk laut bertahan hidup di kedalaman tanpa matahari, demikian pula cahaya Husaini memungkinkan manusia tetap mengenali jalan Allah ketika zaman dipenuhi gelombang fitnah dan lapisan-lapisan kegelapan.

Mungkin karena itulah Karbala tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Sebab setiap zaman memiliki lautnya sendiri.

Setiap masyarakat memiliki gelombangnya sendiri.

Dan setiap manusia, pada akhirnya, harus menjawab pertanyaan yang sama: apakah ia sedang berenang menuju Cahaya bersama Husain pada zamannya, atau tanpa disadari telah tenggelam ke dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk, hingga ketika mengulurkan tangannya sendiri, ia pun tak lagi mampu melihatnya.