Transformasi Timur Tengah, 15 Juni 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i71079-transformasi_timur_tengah_15_juni_2019
Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya mengenai serangan balasan Yaman terhadap bandara koalisi Arab Saudi.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 15, 2019 19:39 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi kejahatan Arab Saudi di Yaman.
    Ilustrasi kejahatan Arab Saudi di Yaman.

Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya mengenai serangan balasan Yaman terhadap bandara koalisi Arab Saudi.

Isu lainnya mengenai penolakan banyak negara Arab untuk terlibat dalam Konferensi Ekonomi Bahrain. Selain itu, Qatar meminta negara-negara Arab di Teluk Persia tidak perlu mematuhi Saudi dan Emirat lagi, dan isu terakhir 10 ribu situs bersejarah Suriah dijarah teroris.

Yaman Ancam Serang Bandara Udara Koalisi Arab

Anggota Biro Politik Gerakan Ansarullah Yaman, Ali al-Qahum mengatakan, jika penutupan bandara udara di Yaman terus berlanjut, maka bandara udara negara-negara agresor akan menjadi target dan dipaksa tutup.

Ali al-Qahum saat diwawancarai televisi al-Mayadeen, Selasa (11/6/2019) malam  menambahkan, para agresor harus mengakhiri perang di Yaman, jika tidak militer negara ini akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap pusat dan lokasi strategis koalisi pimpinan Arab Saudi.

Satuan rudal militer dan pasukan relawan rakyat Yaman pada Rabu lalu, menembakkan sebuah rudal ke bandara udara Abha di selatan Arab Saudi. Serangan tersebut memaksa aktivitas bandara udara ini diliburkan.

Pemerintah Saudi mengkonfirmasi serangan rudal balasan oleh pasukan Yaman di Bandara Internasional Abha. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Rabu, juru bicara koalisi Saudi, Turki al-Maliki mengatakan sebuah rudal Yaman telah mengenai terminal kedatangan bandara, menyebabkan kerusakan material.

Dia juga mencatat bahwa serangan itu telah melukai 26 warga sipil dari berbagai negara. Pasukan Saudi sedang bekerja untuk menentukan jenis proyektil dan akan memberikan respon tegas terhadap serangan itu.

Militer Yaman sebelumnya mengumumkan, bandara internasional Abha diserang oleh sejumlah drone Qasef K-2 sehingga terpaksa berhenti beroperasi untuk sekian lama.

Sementara itu, juru bicara militer Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree mengatakan bahwa dalam serangan drone ke bandara Abha, yang menjadi target adalah radar kontrol navigasi.

"Selama agresi militer Saudi ke Yaman masih berlanjut, serangan ke bandara-bandara dan pangkalan militer negara itu akan terus ditingkatkan. Kami juga menghimbau perusahaan-perusahaan penerbangan sipil untuk menjauh dari bandara dan pangkalan udara militer Saudi," tambahnya.

Ilustrasi Kesepakatan Abad.

Banyak Negara Arab Tolak Hadiri Konferensi Ekonomi Bahrain

Menteri Luar Negeri Lebanon, Gebran Bassil mengatakan negaranya memboikot konferensi yang akan dipimpin AS di Bahrain untuk mendukung prakarsa kontroversial Presiden Donald Trump, yang disebut Kesepakatan Abad.

"Kami tidak akan berpartisipasi dalam konferensi Bahrain (25-26 Juni), karena Palestina tidak berpartisipasi dan kami lebih suka memiliki gagasan yang jelas tentang rencana perdamaian yang diusulkan. Kami tidak diajak berkonsultasi mengenai (prakarsa itu),” kata Bassil pada hari Selasa (11/6/2019).

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Gerakan Perlawanan Hamas telah menyerukan aksi boikot terhadap pertemuan Bahrain. Palestina juga mendesak Mesir dan Yordania untuk mempertimbangkan kembali kehadiran mereka dalam pertemuan Bahrain.

"Otoritas Palestina mendesak Mesir dan Yordania untuk tidak menghadiri konferensi Bahrain," kata Ibrahim Melhem, juru bicara pemerintah Otorita Ramallah setelah pejabat AS mengumumkan kedua negara itu bersama dengan Maroko, akan hadir.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Irak, Ahmad Sahhaf mengatakan pemerintahnya tidak akan berpartisipasi pada konferensi Bahrain. "Baghdad tidak tertarik dalam pertemuan itu, yang agendanya termasuk presentasi prakarsa perdamaian Timur Tengah yang disebut Washington sebagai Kesepakatan Abad Ini," tambahnya.

"Irak mempertahankan posisi prinsipnya dalam membela tujuan rakyat Palestina dan hak-hak mereka," tegas Sahhaf.

Sementara itu, Ketua Persatuan Ulama Palestina, Marwan Abu Ras mengatakan konferensi ekonomi Bahrain bertujuan untuk menghapus isu Palestina dan menghancurkan perjuangan bangsa ini. Dia mengungkapkan hal itu dalam sebuah seminar dengan tema "Ulama Palestina dalam Melawan Prakarsa Kesepakatan Abad Trump" yang digelar di Jalur Gaza, Rabu (12/6/2019) malam.

Abu Ras, seperti dilaporkan televisi al-Alam, menyeru masyarakat negara-negara Arab dan Muslim untuk mendukung perlawanan dan membela rakyat Palestina. "Kesepakatan Abad merupakan sebuah kejahatan politik terhadap agama, rakyat dan kemanusiaan. Kesepakatan ini melanggar hak-hak rakyat Palestina dan menghapus isu Palestina dengan alasan kesejahteraan ekonomi," ungkapnya.

Lolwah Al Khater.

Qatar: Negara Teluk tak Perlu Patuhi Saudi dan Emirat Lagi

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) tidak bisa membatasi masalah-masalah dunia Arab dan Muslim hanya dari sudut pandangnya saja.

Seperti dilansir IRNA, Rabu (12/6/2019), jubir Kemenlu Qatar, Lolwah Al Khater dalam wawancara dengan radio Monte Carlo Doualiya (MCD) menuturkan, Qatar tidak pernah memalingkan muka dari negara-negara Teluk Persia dan sikap negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) tidak diwakili Riyadh, Abu Dhabi atau Manama.

"Negara-negara pemboikot Qatar tidak berhasil mengajak negara dunia lain untuk bergabung mengucilkan Doha, dan negara ini telah menjalin hubungan terbaik dengan negara dunia lain. Tidak diragukan keretakan yang terjadi di tubuh P-GCC berpengaruh pada soliditas negara-negara Teluk Persia dan generasi mendatang tidak akan pernah tahu soal persatuan negara-negara Teluk Persia," ujarnya.

10 Ribu Situs Bersejarah Suriah Dijarah Teroris

Dinas Museum dan Peninggalan Bersejarah Suriah mengumumkan, sedikitnya 10.000 situs bersejarah negara ini terancam musnah dan dijarah. Seperti dikutip laman Fars News, Selasa (11/6/2019), Kepala Dinas Museum dan Peninggalan Bersejarah Suriah, Mahmoud Hammoud mengatakan penggalian ilegal telah menghancurkan peradaban Suriah.

Menurut Hammoud, lebih dari 6.000 peninggalan sejarah dicuri dari museum Raqqa, yang merupakan markas teroris Daesh. "Akibat ulah kelompok-kelompok teroris, peninggalan sejarah Suriah berada di ambang kehancuran. Sedikitnya satu juta peninggalan bersejarah Suriah dilarikan oleh teroris ke luar negara ini melalui perbatasan Turki, Yordania dan Palestina pendudukan," ungkapnya.

Hamoud juga mengatakan bahwa pasukan pendudukan Turki memainkan peran penting dalam penghancuran dan penjarahan barang-barang antik di berbagai daerah yang diduduki oleh mereka, termasuk Jandaris. (RM)