AS Tinjauan dari Dalam, 26 September 2020
-
Joe Biden unggul dari Donald Trump dalam berbagai polling yang dilakukan akhir-akhir ini.
Perkembangan di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti, kelalaian Trump dalam menangani penyebaran virus Corona di AS, dan serangan verbal Trump terhadap Cina pada sidang Majelis Umum PBB.
Isu lain dari Amerika; Washington memandang Rusia dan sekutunya sebagai ancaman bagi pilpres AS, dan terakhir mengenai perang verbal antara Biden dan Trump menjelang Ppilpres AS.
Kongres AS Diminta Mengusut Kelalaian Trump Tangani Corona
Gubernur New York dan Michigan dalam sebuah surat kepada Kongres AS, menyerukan penyelidikan atas kinerja Presiden Donald Trump dalam menangani wabah virus Corona.
Seperti dikutip majalah mingguan AS, Newsweek, Gubernur New York Andrew Cuomo dan Gubernur Michigan Gretchen Whitmer, dalam sebuah surat kepada Kongres, menyatakan Presiden Trump dengan egoisme politik dan memprioritaskan kampanye pemilunya, telah mengabaikan arahan para pakar mengenai metode penanganan virus Corona.
"Kematian 200 ribu orang di Amerika akibat terinfeksi virus Corona merupakan sebuah tragedi dan kami meminta Kongres membuka penyelidikan," tulis mereka.
Cuomo dan Whitmer juga menyinggung laporan surat kabar The Washington Post bahwa Gedung Putih memblokir distribusi 650 juta masker melalui kantor pos ke seluruh wilayah Amerika.
Pekan lalu, Trump mengklaim ratusan dosis vaksin siap dibagikan kepada warga Amerika setiap bulan. Namun, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular AS, Robert R. Redfield dalam rapat dengan Senat, mengatakan hanya jumlah terbatas dari warga Amerika termasuk tenaga medis kemungkinan akan memperoleh vaksin Corona mulai bulan November atau Desember mendatang.
Survei bersama yang dilakukan Ipsos dan televisi ABC baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir 70 persen warga Amerika tidak mempercayai komentar-komentar Trump mengenai vaksin Corona.
Motif Trump Serang Cina di KTT Majelis Umum PBB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya yang disampaikan di sidang Majelis Umum PBB menyinggung berbagai isu penting, termasuk menyerang Cina dalam masalah pandemi global.
Presiden Amerika paling kontroversial ini dalam statemennya menyebut Covid-19 sebagai "virus Cina". Trump mengatakan, "AS sedang memerangi musuh yang tidak terlihat (virus Cina), dan Cina sebagai negara pertama yang menyebarkan virus Corona harus mempertanggungjawabkannya." Ia juga meminta PBB segera meminta pertanggungjawaban Beijing atas penyebaran Covid-19 di seluruh penjuru dunia, terutama di AS.”
Presiden AS berulangkali melancarkan perang kata-kata terhadap pejabat Cina dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam masalah Covid-19. Di tengah gencarnya kritik dari opini publik dan banyak elit serta pakar negaranya, Trump justru semakin berusaha untuk membenarkan dirinya sendiri dan menyalahkan Cina menjelang pemilu presiden AS. Trump menuduh Beijing menunda-nunda pengumuman penyebaran virus Corona dan gagal memberikan data statistik yang akurat.
Buruknya kinerja pemerintahan Trump dalam penanganan Covid-19 menjadikan popularitasnya terus tergerus menjelang penyelenggaraan pemilu presiden. Dalam keadaan seperti ini, Trump masih berusaha menyalahkan Cina atas penyebaran wabah Corona.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berulangkali membantah klaim Trump tersebut. Mike Ryan pejabat senior WHO mengatakan, "Organisasi Kesehatan Dunia belum menerima informasi apa pun dari AS yang menunjukkan bahwa tuduhan itu benar." Bahkan komunitas intelijen Amerika menyatakan bahwa virus Corona bukanlah buatan manusia atau hasil rekayasa genetika.
Di dalam negeri, Trump juga berusaha menekan pihak-pihak yang terlibat dalam produksi vaksin Corona dan mengeksploitasinya secara politis demi menyisihkan rivalnya dari Partai Demokrat Joe Biden.
Washington Anggap Rusia Cs Sebagai Ancaman bagi Pilpres AS
Kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, Chad Wolf menuding Iran, Rusia dan Cina sebagai ancaman terhadap pemilu presiden di Amerika. Hal itu disampaikan dalam sidang dengar pendapat dengan Kongres yang dilaksanakan hari Rabu (23/9/2020), seperti dikutip kantor berita IRIB.
Namun, Wolf mengatakan bahwa sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa negara asing benar-benar mencampuri masalah pemilu AS. Para pejabat keamanan AS termasuk penasihat keamanan nasional Gedung Putih selalu menuding Iran, Rusia dan Cina berusaha mempengeruhi pemilu presiden AS.
Pilpres AS akan diselenggarakan pada 3 November 2020. Wabah virus Corona telah menciptakan kendala tertentu bagi pelaksanaan pemilu. Sebagian pihak mengusulkan agar pilpres di AS diadakan lewat pos, tetapi Presiden Donald Trump menentang mekanisme ini dan menganggap cara itu rawan kecurangan.
Polling terbaru menunjukkan bahwa Joe Biden berada di posisi yang lebih baik dibandingkan rivalnya, Trump.
Perang Verbal antara Biden dan Trump Menjelang Pilpres AS
Calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden mengecam Presiden Donald Trump karena serangan yang tidak bertanggung jawab terhadap pemungutan suara, dan menyebut penolakannya untuk mentransfer kekuasaan secara damai sebagai "tipikal khas Trump."
Dalam sebuah wawancara dengan MSNBC pada hari Jumat (25/9/2020), Biden meramalkan bahwa Trump akan mundur jika dia kalah dalam pemilu pada November mendatang.
Pernyataan Biden muncul setelah Trump dua kali menolak untuk berkomitmen pada transfer kekuasaan secara damai dan melepaskan jabatannya jika ia kalah dalam pemilu November.
Pada Rabu lalu, Trump mengatakan dia tidak akan berkomitmen untuk transisi kekuasaan yang damai jika dia dikalahkan oleh Biden. Trump berkata akan "melihat apa yang terjadi" dengan surat suara yang masuk.
“Ya, kita akan melihat apa yang terjadi. Kalian tahu itu. Saya telah sangat kuat mengeluhkan tentang surat suara dan surat suara adalah bencana,” kata Trump.
Isu tentang surat suara kerap diangkat Trump yang merujuk kepada pemungutan lewat surat. Pandemi virus corona memaksa para pemilih AS untuk mengirimkan surat suara mereka. Trump, tanpa bukti, menuding praktik itu rentan akan penipuan.
“Singkirkan surat suara dan Anda akan sangat damai, tidak akan ada peralihan, sejujurnya, akan ada kelanjutan,” kata Trump, merespons reporter yang juga bertanya tentang kerusuhan di AS. (RM)