May 29, 2024 11:12 Asia/Jakarta
  • Iblis dan Setan
    Iblis dan Setan

Al-Quran mengatakan kepada kita bahwa iblis congkak dan menolak perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam, dan kemudian diusir dari hadapan Tuhan. Namun karena telah beribadah dan menyembah Tuhan selama bertahun-tahun, Tuhan berdasarkan keadilan dan hikmah-Nya menyetujuai permintaan iblis untuk diberi kekekalan.

Menurut al-Quran, iblis salah satu dari jenis setan jin. Setan adalah setiap makhluk yang mengganggu dan menyesatkan, serta pemberontak, baik itu manusia atau non-manusia. Dan iblis adalah nama setan teresbut yang menipu Adam dan kini bersama tentaranya menjebak manusia.

 

Namun mengapa iblis diciptakan, dan apakah sesuai dengan keadilan dan hikmah Tuhan bahwa makhluk seperti ini diciptakan dan membuat manusia tersesat? Artikel ini akan menjawab pertanyaan ini:

 

Perdebatan Setan dengan Tuhan

 

Satu: Tuhan tidak menciptakan iblis sebagai setan; tapi menurut penjelasan al-Quran termasuk dari jenis jin, dan seperti manusia, mereka memiliki kebebasan dalam berbuat dan bertindak: «كانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّه». Oleh karena itu, penciptaan setan tidak dimaksudkan untuk menyestkan, tapi seperti yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam khutbahnya ke 192 di kitab Nahjul Balaghah, Iblis beribadah selama enam ribu tahun, tahun-tahun yang tidak diketahui apakah itu tahun dunia atau akhirat, tapi ini hancur dalam sekejab karena kesombongan sesaat.

 

Iblis menyalahgunakan kebebasannya, dan berdasarkan analogi yang tidak benar (Qiyas batil), ia mengatakan bahwa Tuhan menciptakannya dari api dan manusia dari tanah, serta api lebih unggul dari tanah; «أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِى مِنْ نارٍ وَ خَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ». Oleh karena itu, ia sombong dan congkak serta menolak perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam, dan kemudian ia diusir dari sisi Tuhan. Namun karena ia telah beribadah bertahun-tahun, maka Tuhan menurut keadilan dan hikmahnya mengabulkan permintaannya untuk tetap tinggal dan bertahan (diberi umur panjang). Iblis juga menyatakan bahwa dia akan menggunakan kesempatan ini untuk menantang dan mencoba menyesatkan orang. Tuhan juga ingin Iblis tidak mempunyai alasan karena diusir dari surga meskipun telah melakukan semua ibadah dan penghambaan, dan menjadi alat untuk menguji manusia, yang merupakan salah satu tujuan Tuhan.

 

Pentingnya Kontradiksi bagi Pertumbuhan

 

Kedua: Dari sudut pandang sistem penciptaan, kehadiran setan tidak merugikan orang beriman dan orang yang mau menempuh jalan kebenaran. Melainkan sarana kemajuan dan perkembangan mereka, karena kemajuan dan kesempurnaan selalu terjadi di tengah kontradiksi.

 

Lebih jelasnya, manusia tidak akan pernah mengerahkan dan menggunakan kekuatan dan kejeniusannya sampai ia menghadapi musuh yang kuat. Keberadaan musuh yang kuat ini telah mendorong manusia bergerak lebih banyak, dan hasilnya adalah ia mencapai kesempurnaan dan ketinggian.

 

Salah satu filsuf besar sejarah kontemporer Toynbee mengatakan:

 

"Tidak ada peradaban cemerlang yang ditemukan di dunia, kecuali suatu bangsa diserang oleh kekuatan asing dan sebagai akibat dari invasi ini, ia menggunakan kejeniusan dan bakatnya untuk membangun peradaban yang cemerlang.”

 

Perlu diketahui juga bahwa manusia memahami makna kebaikan dan memilihnya ketika ia melihat keburukan serta menyadarinya. Oleh karena itu, menurut teori, keberadaan iblis merupakan salah satu pilar sistem dunia manusia, dan hanya dengan demikian keberadaan iblis dapat dianggap jahat jika seseorang mengikutinya; Namun menentang dan melawannya adalah hal yang baik dan merupakan sumber kekuatan, pertumbuhan dan keagungan.

 

Menerima Setan

 

Ketiga: Iblis tidak pernah menyerang jiwa dan raga kita, dan dia tidak melewati batas negara jiwa kita tanpa paspor, serangannya tidak pernah mengejutkan, dia masuk dengan izin kita sendiri. Dan kitalah yang membukakan pintu untuknya. Seperti yang dijelaskan al-Quran Surah an-Nahl ayat 99-100 yang mengatakan:

«إنّهُ لَيسَ لَهُ سُلطان عَلى الّذينَ آمَنوُا وَ عَلى رَبِّهِم يَتَوكّلُون * إنّمَا سُلطانَه عَلى الّذينَ يَتولّونَهُ وَ الّذينَ هُم بِهِ مُشرِكُون»

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

Selain itu, dalam Surah al-Hijr ayat 42 disebutkan:

«إِنَ‏ عِبادِي‏ لَيْسَ‏ لَكَ‏ عَلَيْهِمْ‏ سُلْطانٌ‏ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغاوِينَ»؛

 Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.

 

Berdasarkan ayat ini, iblis dan seluruh setan tidak pernah diijinkan memasuki area jiwa dan hati manusia, kecuali manusia sendiri yang mengijinkannya, dan itu dengan mengikuti setan dan iblis.

 

Hal lainnya adalah benar bahwa kita tidak melihat setan dan kawan-kawannya, tetapi kita dapat melihat jejak kaki mereka; Di mana digelar pesta dosa dan di setiap titik instrumen-instrumen dosa telah siap, dan kapan pun kemegahan dunia dan pemujaan terhadap kemewahan muncul, dan pada saat pemberontakan naluri, dan pada saat ketika api amarah dan murka berkobar, kehadiran setan adalah kepastian. Seolah-olah dalam kasus seperti itu, seseorang mendengar suara godaannya dengan hatinya dan melihat jejak kakinya dengan matanya.

 

Pada akhirnya adalah manusia tidak pernah terpaksa dalam setiap perbuatannya. Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi bebas dan memiliki hak untuk memilih, sehingga dengan ia akan berkembang dengan terbaik dan dekat dengan Tuhan. Dan Tuhan membantunya melawan setan dan kebodohan dengan rahmat-Nya dan dengan bantuan rasul, kitab suci, akal, fitrah dan pengingat sehari-hari. (MF)

 

Tags