Peringatan Suriah kepada Negara-negara Pendukung Teroris
Serangan mortir kelompok-kelompok bersenjata dan teroris di Suriah yang memperoleh dukungan dari Barat khususnya Amerika Serikat ke kawasan pemukiman penduduk di utara negara Arab itu meningkat. Serangan terbaru di Aleppo menyebabkan 48 warga Suriah tewas dan 331 lainnya terluka.
Kementerian Luar Negeri Suriah pada Sabtu, 9 Juli 2016, segera mereaksi serangan kelompok-kelompok teroris ke pemukiman penduduk di Aleppo dengan mengirim surat protes terpisah kepada Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) dan Sekretaris Jenderal PBB.
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa para teroris yang menarget warga sipil di rumah-rumah mereka, jalan, pasar dan perkantoran memperoleh dukungan finansial dan senjata dari negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Perancis, Inggris dan Amerika Serikat.
Kemlu Suriah menuntut Dewan Keamanan PBB dan Sekjen PBB untuk mengecam serangan teroris di negara ini dan mengambil langkah-langkah untuk menindak negara-negara yang mendukung terorisme terutama Arab Saudi, Qatar dan Turki berdasarkan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB terkait masalah ini.
Serangan mortir kelompok-kelompok bersenjata dan teroris ke berbagai kawasan pemukiman penduduk di Aleppo hingga sekarang berlanjut. Padahal, berdasarkan kesepakatan antara Rusia dan AS, gencatan senjata di Suriah telah dimulai sejak tanggal 27 Februari lalu. Gencatan senjata ini tidak melibatkan kelompok-kelompok teroris seperti Daesh dan Front al-Nusra.
Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham adalah dua kelompok bersenjata yang aktif di Suriah utara dan memperoleh bantuan finansial dan senjata dari al-Qaeda dan kelompok-kelompok teroris lainnya termasuk Front al-Nusra. Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham menurut pandangan Arab Saudi, Turki, Qatar dan negara-negara Barat termasuk AS adalah kelompok bersenjata moderat, namun tindakan-tindakan kedua kelompok tersebut di bawah dukungan kelompok-kelompok teroris lainnya yang aktif di Suriah.
Kelanjutan kejahatan kelompok-kelompok bersenjata dan teroris Front al-Nusra, Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham –yang dianggap Barat dan sekutunya sebagai kelompok moderat– menunjukkan kemunafikan negara-negara yang mengklaim memerangi terorisme seperti Perancis, Inggris dan AS, di mana negara-negara ini adalah anggota tetap DK-PBB. Selain itu, hal itu juga membuktikan kebijakan standar ganda negara-negara tersebut dalam memerangi terorisme.
Pembagian kelompok-kelompok teroris menjadi kelompok yang baik dan buruk menjadi "arteri" keberlangsungan hidup bagi para teroris di Suriah dan kawasan, di mana pemisahan tersebut merupakan dukungan nyata kepada berbagai kelompok teroris untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kebijakan seperti ini tentunya tidak hanya mengancam nyawa warga Suriah, namun juga membahayakan perdamaian dan keamanan di kawasan dan dunia.
Penolakan Barat terutama AS, Perancis dan Inggris untuk memasukkan kelompok teroris Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham ke dalam daftar teroris DK-PBB merupakan bukti nyata atas ketidakseriusan negara-negara yang mengklaim memerangi terorisme. Pendekatan ini memberikan angin segar kepada kedua kelompok teroris tersebut untuk melakukan kejahatan mengerikan di Aleppo dan membantai warga Suriah khususnya perempuan dan anak-anak.
Kebijakan Barat saat ini terkait terorisme bukan lagi menjadi penjamin bagi keamanan dunia. Kelompok-kelompok bersenjata yang disebut Barat dan sekutunya sebagai kelompok moderat di Suriah dan saat ini sedang membantai warga negara ini, di masa mendatang mereka akan kembali ke negara mereka dan akan berubah menjadi sumber instabilitas bagi Barat. Salah satu contohnya adalah serangan teror terbaru di jantung Eropa dan Paris, ibukota Perancis. (RA)