Kelaparan dan Kemiskinan Ancam Afganistan; OCHA Minta Dunia Bergerak
-
Anak Afganistan
Pars Today - Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa meskipun terjadi perbaikan relatif dalam situasi keamanan di sebagian wilayah Afganistan, krisis kemanusiaan di negara ini, akibat kemiskinan meluas, kekeringan, dan bencana alam, semakin memburuk setiap hari.
Sebagaimana dilaporkan Mehr News mengutip Al-Quds Al-Arabi, Rabu, 5 Agustus 2026, Olga Cherevko, Juru Bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di Afghanistan, dalam konferensi pers terbarunya, dengan merujuk pada hasil kunjungan lapangan di berbagai provinsi, melaporkan situasi kritis yang dihadapi jutaan warga Afganistan.
Dengan merujuk pada dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, dan gempa bumi yang terus-menerus, ia menyatakan bahwa bencana-bencana ini telah menghancurkan infrastruktur dan mata pencaharian keluarga-keluarga rentan. Menurut Cherevko, banyak warga Afganistan tidak hanya membutuhkan bantuan pangan, tetapi juga menuntut terciptanya lapangan kerja dan sumber pendapatan berkelanjutan untuk mencapai kemandirian.
Jubir OCHA menekankan bahwa peningkatan situasi keamanan belum tentu berarti peningkatan "keamanan manusia", dan menambahkan bahwa pembatasan yang diberlakukan terhadap perempuan dan anak perempuan telah sangat membatasi akses mereka terhadap pendidikan, pekerjaan, dan perawatan kesehatan. Ia juga memperingatkan tentang peningkatan mengkhawatirkan kasus malnutrisi akut di kalangan anak-anak Afganistan.
Pejabat PBB ini, dengan merujuk pada statistik korban konflik, mengumumkan bahwa antara Oktober 2025 dan akhir Juni 2026, lebih dari 1.700 warga sipil menjadi korban dalam insiden terkait konflik, di mana sekitar 500 orang tewas dan lebih dari 1.200 lainnya luka-luka.
Ia juga mencatat bahwa Afganistan berada di peringkat ketiga dunia dalam hal jumlah korban akibat "sisa-sisa bahan peledak dari perang", dan karena kekurangan dana, program penjinakan ranjau serta kampanye kesadaran sangat berkurang, yang mengancam jiwa banyak anak-anak dan petani.
Menjawab pertanyaan tentang dampak pengurangan dana internasional terhadap program-program kemanusiaan, Cherevko mengatakan bahwa situasi ini memaksa PBB dan mitranya untuk "melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit", yang berdampak negatif pada semua sektor bantuan, termasuk kesehatan, nutrisi, dan pendidikan.
Terkait akar krisis di Afganistan, juru bicara OCHA menekankan bahwa PBB tidak bertujuan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan melaporkan realitas di lapangan.
Ia menekankan bahwa Afganistan saat ini menghadapi serangkaian krisis yang terakumulasi, termasuk kemiskinan kronis dan lemahnya akses terhadap layanan dasar, yang memerlukan mobilisasi segera dari komunitas internasional untuk mencegah situasi semakin memburuk.(Sail)