Kontradiksi Strategis Koalisi Internasional Anti-Daesh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i15385-kontradiksi_strategis_koalisi_internasional_anti_daesh
Konferensi kedua Koalisi Internasional Anti-Daesh berlangsung di Washington di saat pernyataan para pejabat peserta pada pertemuan itu menunjukkan kontradiksi strategis di dalam koalisi besutan Amerika Serikat itu.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 23, 2016 09:45 Asia/Jakarta
  • Ibrahim Al-Jafari
    Ibrahim Al-Jafari

Konferensi kedua Koalisi Internasional Anti-Daesh berlangsung di Washington di saat pernyataan para pejabat peserta pada pertemuan itu menunjukkan kontradiksi strategis di dalam koalisi besutan Amerika Serikat itu.

Negara-negara anggota Koalisi Internasional Anti-Daesh pimpinan Amerika Serikat pada Kamis (21/7), menggelar konferensi di Washington, membahas hasil serangan terbaru terhadap kelompok teroris Takfiri di Irak dan Suriah.

 

Pernyataan sejumlah pejabat pada konferensi tersebut merefleksikan tekad negara-negara seperti Irak untuk memberantas terorisme khususnya dari jenis Daesh, namun dengan tidak adanya kekompakan dari kubu Amerika Serikat untuk memberantas fenomena tersebut.

 

Menteri Luar Negeri Irak, Ibrahim Jafari,  pada Jumat (22/7) dalam sidang tersebut menuntut semua negara berpartisipasi mencerabut sumber-sumber terorisme dan mengatakan, "Tanpa menghentikan akar pemikiran terorisme, perdamaian global tidak akan terwujud." Dia juga berharap semua negara dunia bersatu menghancurkan ideologi distorsif terorisme yang mencoreng citra Islam.

 

Pernyataan Jafari memiliki dua poin penting. Mengacu pemberantasan ideologi terorisme dan persatuan masyarakat dunia melawan terorisme. Irak sebagai satu dari dua korban utama terorisme bersama dengan Suriah, benar-benar memahami ancaman global terorisme dan menyadari mekanisme untuk mengantisipasi bahaya tersebut.

 

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, yang negaranya memegang komando Koalisi Internasional Anti-Daesh, pada Kamis (21/7), mengutarakan pernyataan kontradiktif dan tidak masuk akal. Seraya menekankan pentingnya pertukaran intelijen di sektor pemberantasan terorisme, dia juga menandaskan peran pro-aktif dalam perang melawan Daesh. Namun pada saat yang sama, Kerry menegaskan bahwa pasukan Koalisi Internasional Anti-Daesh akan berkurang sepertiga dari jumlah terkini.

 

Pertanyaannya adalah, dengan pengurangan sepertiga dari pasukan koalisi anti-Daesh itu, bagaimana Amerika Serikat akan memainkan peran pro-aktif di bidang ini? Apakah Amerika Serikat hanya akan membatasi perannya hanya dalam serangan udara?

 

Fakta lapangan di Irak dan Suriah dengan jelas menunjukkan bahwa perang melawan Daesh justru lebih membutuhkan kehadiran pasukan darat ketimbang mengandalkan serangan udara. Sampai saat ini, serangan udara hanya akan mengakibatkan jatuhnya korban sipil lebih banyak.

 

Dalam hal ini, Pengawas HAM Suriah menyatakan, serangan udara Amerika Serikat sejak September 2014 hingga kini telah menelan 600 nyawa warga sipil Suriah, sementara bombardir oleh kelompok teroris ke wilayah permukiman Aleppo juga telah menewaskan 350 warga termasuk di antaranya 170 anak-anak.

 

Masalah lain yang cukup penting direnungkan dalam pernyataan Kerry adalah penekannya atas penghapusan hambatan struktural dalam perang melawan teroris Takfiri Daesh, akan tetapi  Menlu AS itu tidak memberikan keterangan lebih lanjut soal apa yang dimaksud dengan hambatan struktural itu. (MZ)