Pro dan Kontra Kehadiran Militer AS di Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i15724-pro_dan_kontra_kehadiran_militer_as_di_irak
Sejumlah tokoh dan kelompok Irak menentang keras pengiriman gelombang baru pasukan Amerika Serikat ke Irak, namun juru bicara pemerintah Baghdad menyatakan bahwa ratusan militer AS akan segera tiba di Irak.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 26, 2016 07:32 Asia/Jakarta
  • tentara AS
    tentara AS

Sejumlah tokoh dan kelompok Irak menentang keras pengiriman gelombang baru pasukan Amerika Serikat ke Irak, namun juru bicara pemerintah Baghdad menyatakan bahwa ratusan militer AS akan segera tiba di Irak.

Saad Al-Haditsi, juru bicara Perdana Menteri Irak, menyinggung perundingan para pejabat negara dan Amerika Serikat soal pengiriman ratusan tentara AS ke Irak dengan tujuan pengoperasian kembali pangkalan udara Al-Qayarah, di utara Irak, seraya mengatakan, “Irak berada di front terdepat dalam pemberantasan terorisme, dan oleh karena itu akan menguntungkan Irak untuk memanfaatkan pengalaman pasukan asing dalam hal ini.”

 

Tanpa menyinggung penentangan para tokoh dan kelompok politik negara ini atas peningkatan kehadiran pasukan AS di Irak, Al-Haditsi mengatakan, “Akan menguntungkan Baghdad untuk memanfaatkan segala bentuk bantuan selama tidak bertentangan dengan kedaulatan nasional, khususnya bila dukungan itu dalam rangka mempercepat operasi pembebasan Mosul, pusat provinsi Nainawa.”

 

Setelah pernyataan Ashton Carter, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, dua pekan lalu soal pengiriman secara gradual 560 tentara AS tambahan ke Irak untuk membantu pembebasan Mosul, para ulama, kelompok dan berbagai organisasi Irak seperti Sadr dan Badr, menentang keputusan itu dan menyatakan, karena kenangan buruk selama bertahun-tahun kehadiran militer AS, warga Irak menentang kembalinya pasukan AS ke Irak. Para tokoh dan kelompok-kelompok Irak menilai langkah tersebut sebagai upaya Amerika Serikat untuk kembali bercokol di Irak dan menilainya sebagai invasi AS ke Irak secara gradual.

 

Menurut keterangan para pejabat Amerika Serikat, jika rencana itu terealisasi maka jumlah pasukan AS di Irak akan meningkat menjadi 4.647 personil.

 

Upaya Amerika Serikat memperkuat pasukannya di Irak dilakukan setelah pada 2011 atas kesepakatan dengan pemerintah Irak, Amerika Serikat terpaksa menarik mundur sebagian besar pasukannya dari Irak. Adapun pasukan yang tersisa menurut klaim AS dipertahankan “demi melatih dan merekonstruksi militer Irak.” Akan tetapi pasca serangan kelompok teroris Takfiri Daesh dan pendudukan cepat seluruh wilayah negara itu, terungkap fakta bahwa kehadiran AS di Irak selama bertahun-tahun tidak menghasilkan apapun bagi bangsa Irak khususnya militer negara ini.

 

Pasca penarikan mundur resmi Amerika Serikat dari Irak pada 2011, Washington berniat menjustifikasi kehadirannya di kawasan khususnya di Irak. Kali ini, kelompok teroris Takfiri Daesh dijadikan alasan.

 

Sejarah membuktikan Amerika Serikat selalu ingin kembali ke negara-negara yang pernah menjadi korban intervensi militernya. Pengalaman itu sedang terjadi di Irak. Akan tetapi melalui persatuan kelompok-kelompok Irak dengan pemerintah dan juga berkat pengalaman getir kehadiran pasukan AS di Irak selama bertahun-tahun, rakyat dan pejabat Irak tidak akan menyerah di hadapan tuntutan Washington, paling tidak kali ini mereka diharapkan akan lebih berhati-hati. (MZ)