Irak di Ambang Keruntuhan Benteng Terakhir Daesh
-
Palang Merah Internaisonal
Bersamaan dengan pengumuman kesiapan militer Irak untuk memulai operasi pembebasan kota strategis Mosul, pusat provinsi Nainawa, di utara negara ini, Palang Merah Internasional (ICRC), memperingatkan dampak dari operasi tersebut bagi warga sipil yang tinggal di kawasan tersebut.
ICRC pada Jumat (29/7), merilis pernyataan menyinggung kesiapan militer Irak untuk memulai operasi pembebasan kota Mosul, benteng terakhir kelompok teroris Takfiri Daesh di utara negara itu, dan menyebutkan bahwa pelaksanaan operasi tersebut dapat menimbulkan dampak yang berbahaya bagi sekitar satu juga warga sipil di wilayah operasi. ICRC mendesak pemerintah Irak untuk melakukan perencanaan matang sebelum melaksanakan operasinya.
Disebutkan pula bahwa kondisi provinsi Nainawa khususnya Mosul tidak dapat diprediksi setelah dimulainya pembebasan wilayah itu, akan tetapi Palang Merah Internasional dan juga pemerintah Irak harus mempersiapkan semua opsi agar warga sipil tidak menjadi korban.
Sebelumnya, UNICEF juga menyinggung kondisi anak-anak Irak pasca pendudukan sebagian wilayah Irak oleh kelompok teroris Takfiri Daesh seraya menyebutkan, dua tahun pasca pendudukan sebagian besar provinsi Nainawa, Salahuddin dan Al-Anbar, di utara dan barat Irak oleh Daesh, sekitar 3,6 juta anak Irak terancam kematian, kekerasan seksual dan penculikan.
Berdasarkan berbagai laporan, setelah pengumuman kesiapan militer Irak memulai operasi militer di provinsi Nainawa, ribuan warga berusaha meninggalkan wilayah itu. Namun upaya mereka itu dihadang dengan aksi-aksi kekerasan dari Daesh.
Para pejabat tinggi Irak termasuk menteri pertahanan negara ini dalam beberapa hari terakhir menekankan pelaksanaan operasi pembebasan Mosul di utara negara itu dan menegaskan bahwa dimulainya operasi itu selain akan membebaskan 10 persen wilayah yang masih dikontrol Daesh, juga akan mereduksi volume teror oleh kelompok tersebut.
Kelompok teroris Takfiri Daesh menduduki sebagian besar wilayah utara dan Barat Irak sejak Juni 2014. Kelompok teroris itu telah melakukan berbagai kejahatan mengerikan di Irak.
Pembunuhan 1.700 taruna angkatan udara, perusakan berbagai peninggalan bersejarah, pemaksaan anak-anak yatim Irak untuk terjun ke medan pertempuran, pelatihan serangan teror serta penyanderaan ribuan gadis dan perempuan etnis Kurdi Izadi, adalah di antara kejahatan brutal teroris Takfiri.
Pemerintah dan militer Irak diharapkan menyusun perencanaan matang dalam operasi pembebasan Mosul, sehingga dapat menjaga keselamatan warga sipil dalam proses pembebasan kota strategis itu.
Di lain pihak, sejumlah negara dan lembaga dalam beberapa bulan terakhir berusaha menuding pasukan Irak telah melakukan kekerasan dalam pembebasan Tikrit, Al-Ramadi dan Mosul. Tujuan tuduhan tersebut adalah menjegal upaya pembebasan Mosul oleh militer dan pasukan relawan rakyat Irak. (MZ)