Di Balik Terjunnya Militer AS dalam Tahap Akhir Pemberantasan Daesh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i16381-di_balik_terjunnya_militer_as_dalam_tahap_akhir_pemberantasan_daesh
Menjelang dimulainya operasi pembebasan Mosul, benteng terakhir kelompok teroris Takfiri Daesh di utara Irak, perdana menteri negara ini mengharapkan dukungan masyarakat internasional demi kesuksesan operasi tersebut.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 01, 2016 10:47 Asia/Jakarta
  • Dunford dan Al-Abadi
    Dunford dan Al-Abadi

Menjelang dimulainya operasi pembebasan Mosul, benteng terakhir kelompok teroris Takfiri Daesh di utara Irak, perdana menteri negara ini mengharapkan dukungan masyarakat internasional demi kesuksesan operasi tersebut.

Haider Al-Abadi, Ahad (31/7), dalam pertemuan dengan Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan Militer AS, di Baghdad, menekankan kesiapan pasukan Irak untuk memulai operasi pembebasan kota Mosul di pusat provinsi Nainawa. Dikatakannya, meski demikian dukungan global untuk Irak akan sangat penting bagi kesuksesan operasi tersebut.

 

Perdana Menteri Irak menjelaskan, dalam kondisi politik, ekonomi dan keamanan sulit yang dihadapi Irak, dukungan masyarakat dunia terhadap Baghdad dapat membantu mempercepat proses pemberantasan teroris Daesh.

 

Pertemuan PM Irak dengan Kepala Staf Gabungan Militer AS itu dilakukan menjelang dimulainya operasi pembebasan Mosul, setelah Ashton Carter, Menteri Pertahanan AS, bulan lalu berkunjung ke Baghdad dan membahas kondisi keamanan dengan para pejabat Irak.

 

Usai kunjungannya ke Irak, Carter membeberkan rencana pengiriman ratusan pasukan tambahan AS ke Irak dengan alasan pemberantasan terorisme. Namun rencana tersebut mendapat penentangan keras dari berbagai tokoh, kelompok dan partai politik Irak. Pemerintah Baghdad diperingatkan mewaspadai makar baru Amerika Serikat untuk memperkuat pasukan militernya di Irak.  

 

Meski sejumlah pejabat Irak menilai kunjungan para pejabat militer Amerika Serikat adalah membicarakan mekanisme peningkatan efektivitas pemberantasan terorisme, akan tetapi banyak kelompok dan tokoh politik Irak yang berpendapat bahwa tujuan langkah tersebut adalah pengokohan pasukan militer AS di Irak dan watak oportunis AS untuk ikut berbagi kemenangan dalam pemberantasan kelompok teroris Daesh.

 

Prasangka buruk para pejabat dan partai politik Irak terhadap niat Amerika Serikat itu karena Washington hingga kini tidak memenuhi komitmennya dalam kesepakatan pengiriman senjata yang telah dibeli Baghdad, meski mengetahui masalah persenjataan yang dihadapi militer Irak dalam memberantas terorisme.

 

Menurut perspektit ini, AS setelah keluar dari Irak pada 2011 berencana menjustifikasi kehadiran militernya di kawasan dan kali ini dengan kedok menjalin kerjasama keamanan dengan pemerintah Irak untuk memberantas terorisme Daesh, Washington sedang mempersiapkan kembalinya pasukannya di Irak dan kawasan.

 

Tampaknya para pejabat Irak memahami dengan baik kondisi sensitif serta mewaspadai pengalaman getir akibat kehadiran dan intervensi militer Amerika Serikat di Irak, sehingga diharapkan mereka dapat mematahkan propaganda Amerika Serikat dengan mengandalkan kekuatan dalam negeri. (MZ)