Kisah Persahabatan, Perlawanan dan Kesyahidan Soleimani dan Abu Mahdi
Jan 02, 2025 14:17 Asia/Jakarta
-
Syahid Soleimani dan Syahid Abu Mahdi
Parstoday – Kisah hidup Letjen Qassem Soleimani dan Abu Mahdi Al Muhandis, adalah kisah manusia-manusia yang berperang di luar perbatasan demi keamanan dan kebebasan Asia Barat.
Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi Al Muhandis, adalah dua tokoh terkemuka yang hidupnya dikenal sebagai simbol perlawanan dan pejuangan menghadapi penindasan serta terorisme.
Kedua tokoh ini, meskipun berbeda suku bangsa, telah menempuh jalan yang sama dalam membela nilai-nilai kemanusiaan, perang melawan terorisme, dan menjaga keamanan kawasan Asia Barat.
Cerita kehidupan mereka mulai dari lahir hingga gugur, sarat dengan pengorbanan dan altruisme. Berikut ini adalah sekilas pandang tentang jalan sama yang ditempuh kedua tokoh besar Asia Barat itu.
Fase Pertama: Akar
Pada dekade 50-an dua anak laki-laki dilahirkan ke dunia di dua tempat berbeda di kawasan Asia Barat. Qassem, adalah putra dari keluarga petani religius dari sebuah desa miskin di Ghanat Malek, Provinsi Kerman, selatan Iran.
Kehidupan sederhana di antara gunung-gunung kering Kerman, telah mengajarkan kerja keras, dan tidak mudah menyerah kepadanya. Di masa itu, Jamal Jafar, yang di kemudian hari dikenal dengan Abu Mahdi Al Muhandis, tumbuh di tengah keluarga Syiah dan religius di kota Basrah, Irak.
Jamal dibesarkan di tengah kondisi yang penuh dengan kezaliman dan tekanan Rezim Baath. Di saat Qassem, di masa mudanya bekerja sebagai buruh bangunan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Jamal, menempuh studi di salah satu perguruan tinggi teknik di kota Basrah. Akan tetapi keduanya punya titik kesamaan yaitu berjuang demi keamanan.
Fase Kedua: Lahirnya Para Komandan
Jenderal Soleimani pada tahun 1980 bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, dan di sanalah figur militernya terbentuk. Perang Iran dan Rezim Baath, menjadi peluang baginya untuk menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memimpin operasi sebagai Komandan Divisi 41 Sarallah.
Ia berubah menjadi seorang ahli strategi unggul dari perbatasan-perbatasan di barat Iran, sampai ke garda depan perang-perang besar kawasan. Di sisi lain Abu Mahdi Al Muhandis, setelah masuk Partai Dawa Islam Irak, bangkit melawan rezim diktator Saddam Hussein.
Seiring dengan meningkatnya penumpasan orang-orang Syiah di Irak, Abu Mahdi, terpaksa hijrah ke Iran. Abu Mahdi Al Muhandis, berubah menjadi salah satu tokoh kunci dalam pengorganisasian oposisi Irak, dan membangun jaringan para pejuang untuk melawan Rezim Baath.
Fase Ketiga: Di Tengah Kobaran Api
Beberapa tahun kemudian, kedua komandan ini bertemu dalam perang-perang melawan musuh bersama yaitu kelompok teroris ISIS. Kelompok ini atas nama agama melakukan berbagai macam kejahatan paling kejam, dan pada tahun 2014 menduduki sejumlah besar wilayah Irak dan Suriah.
Baghdad hampir jatuh, dan jutaan orang terancam dibunuh secara massal. Saat itu, Jenderal Soleimani, dengan pengalaman perang puluhan tahun, dan memiliki hubungan erat dengan poros perlawanan, datang ke Irak.
Di kota Baghdad, ia bertemu Abu Mahdi Al Muhandis, Wakil Komandan Hashd Al Shaabi Irak, yang sebelumnya sempat bekerja sama, dan menjalin persahabatan. Persahabatan mereka yang dibangun di atas kepercayaan, penghormatan dua arah, dan tujuan bersama, telah mengubah sejarah kawasan.
Fase Keempat: Perang-Perang Determinan
Di medan-medan perang, Jenderal Soleimani, bukan hanya seorang komandan, tapi juga pemimpin yang menginspirasi. Ia mempersatukan pasukan-pasukan dari berbagai suku dan agama berbeda. Di sisi lain, Al Muhandis, yang punya kemampuan luar biasa dalam mengorganisasi pasukan, memainkan peran kunci dalam memobilisasi masyarakat.
Operasi-operasi pembebasan Tikrit, Fallujah, Mosul, dan kota-kota Irak lain yang diduduki ISIS, menjadi bukti kerja sama erat kedua komandan ini. Dalam setiap pertempuran, Jenderal Soleimani selalu berada di garis depan, dengan sepatu berlumpur, dan tulisan-tulisan tangannya yang membangkitkan semangat para pejuang.
Al Muhandis, dengan manajemen yang teliti, berhasil mendorong secara maksimal logistik dan dukungan masyarakat. Salah satu momen yang tak terlupakan adalah pertemuan keduanya di sebuah lokasi yang terkepung, Amerli.
Jenderal Soleimani, dan Abu Mahdi, secara pribadi memasuki lokasi, dan memimpin operasi pembebasan wilayah itu. Operasi ini bukan hanya sekadar kemenangan militer, tapi telah menjadi sebab hidupnya kembali harapan di tengah masyarakat.
Fase Kelima: Teror di Kegelapan
Bersamaan dengan kalahnya ISIS, pengaruh dua komandan ini sebagai pahlawan perlawanan semakin besar. Hal itu telah mengubah keduanya menjadi target utama musuh-musuh regional dan internasional.
Pada 3 Januari 2020 dinihari ketika Jenderal Soleimani, tiba di Baghdad, menggunakan pesawat setelah melakukan pertemuan resmi, rombongan beliau dan Abu Mahdi, menjadi target serangan drone pasukan Amerika Serikat, di dekat bandara Baghdad.
Teror tersebut diperintahkan langsung oleh Presiden AS kala itu, Donald Trump. Ledakan, telah mengubah kendaraan yang membawa dua komandan ini menjadi kobaran api, lalu abu. Berita gugurnya mereka berdua spontan memicu kemarahan dan kesedihan di seluruh dunia.
Fase Keenam: Warisan Abadi
Setelah gugur, jenazah Jenderal Soleimani dan Abu Mahdi, dilepas oleh jutaan orang di Iran dan Irak. Acara ini menjadi simbol persatuan bangsa-bangsa kawasan di hadapan penindasan. Jenderal Soleimani, sebagai simbol pengorbanan dan perlawanan, dan Abu Mahdi, sebagai simbol manajer cerdas serta tak kenal lelah, merupakan teladan bagi generasi-generasi mendatang.
Kisah yang tidak pernah selesai, kisah hidup Jenderal Soleimani dan Abu Mahdi, adalah kisah manusia-manusia yang berperang demi keamanan dan kebebasan di luar perbatasan negara.
Keduanya menunjukkan kepada dunia bahwa persahabatan dan persatuan, bahkan di tengah kobaran api perang sekalipun, dapat menciptakan kekuatan luar biasa. Kesyahidan mereka bukan akhir perjalanan, tapi awal perluasan pemikiran perlawanan. Kenangan atas kedua komandan ini selalu hidup dalam hati rakyat pecinta kemerdekaan. (HS)