Kampus-Kampus Israel, Pro-Kejahatan & Penumpasan Rakyat Palestina
Jan 08, 2025 16:20 Asia/Jakarta
Parstoday – Kampus-kampus Rezim Israel, mendukung program-program terkait pengembangan sistem-sistem pengendali dan pengawasan yang digunakan untuk menumpas rakyat Palestina.
Universitas-universitas Israel, sampai hari ini terus berhadapan dengan tuduhan-tuduhan dukungan atas perang-perang yang dilancarkan Rezim Zionis.
Tuduhan-tuduhan itu menyebutkan bahwa Rezim Zionis sejak tahun 1996 terlibat dalam program-program penelitian dan pengembangan Eropa, dan sejak saat itu, menerima bantuan-bantuan besar dalam kerangka program-program semacam Horizon 2020, dan Horizon Europe.
Dalam rentang waktu 2014-2020, Rezim Zionis, dalam kerangka program Horizon 2020, menerima bantuan senilai 1,28 miliar dolar, dan dalam kerangka program Horizon Europe, pada tahun 2021, menerima bantuan dana lebih dari 747 juta dolar.
Dana tersebut seharusnya digunakan untuk program pengembangan dan inovasi ilmu pengetahuan serta teknologi, tapi kenyataannya bantuan-bantuan itu digunakan sebagai alat untuk mendukung industri militer Israel.
Kampus-kampus besar Israel, seperti Universitas Tel Aviv, Universitas Ibrani di Al Quds, dan Institut Teknologi Israel, Technion, secara langsung menggunakan bantuan dana Eropa untuk mengembangkan teknologi-teknologi canggih.
Mayoritas teknologi tersebut diterapkan pada drone, rudal, dan sistem pertahanan udara yang biasanya sebelum digunakan atau dijual ke pasar dunia, akan diuji coba terlebih dahulu kepada rakyat Palestina, di wilayah mereka.
Sehubungan dengan ini, Amnesti Internasional, dalam salah satu laporannya terkait peran kampus-kampus Israel, dalam mendukung militer dan perang-perang rezim ini mengumumkan, teknologi militer yang sudah dikembangkan di kampus-kampus Israel, digunakan dalam operasi-operasi militer yang masuk kategori kejahatan perang dalam hukum internasional.
Tujuh universitas besar Israel, tanpa terkecuali, mendirikan perusahaan-perusahaan dagang yang menjalin kemitraan jangka panjang dengan industri-industri militer dan keamanan Israel, dan hal ini menunjukkan tingkat intervensi serta hubungan kampus dengan industri militer di Israel.
Peran kampus-kampus Israel, bukan hanya dalam penelitian dan pengembangan semata, tapi juga dalam uji coba militer di medan tempur terutama di Jalur Gaza. Kenyataannya tanah Palestina adalah laboratoium terbuka untuk menguji teknologi-teknologi senjata, sistem kontrol, dan pengawasan Israel, terhadap rakyat Palestina.
Lebih dari itu, keterlibatan kampus-kampus Israel, juga melebar hingga kebijakan-kebijakan diskriminasi terhadap rakyat Palestina, dan menghalangi pendidikan warga Palestina, di jurusan-jurusan yang mendapat dukungan dana dari organisasi-organisasi internasional.
Segala bentuk protes mahasiswa Palestina, terhadap Israel, atau perang-perang yang dilancarkan Rezim Zionis, di Jalur Gaza, akan ditumpas habis.Kebijakan dan langkah yang diambil oleh kampus-kampus Israel, telah memicu protes luas di kalangan universitas Eropa.
Pada Juli 2023, lebih dari 2.000 dosen kampus Eropa, dan 45 yayasan ilmu pengetahuan, dan pendidikan, menuntut penangguhan dukungan dan bantuan finansial Uni Eropa terhadap lembaga ilmu, dan kampus-kampus Israel, yang terlibat dalam proyek-proyek militer. (HS)