Ketakutan Besar Para Komandan Israel atas Munculnya Sinwar Baru
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i170800-ketakutan_besar_para_komandan_israel_atas_munculnya_sinwar_baru
Parstoday – Surat kabar Amerika Serikat, melaporkan, setelah terbunuhnya Yahya Sinwar, Kepala Biro Politik Hamas, kelompok ini tetap kuat, bisa merekrut pasukan baru, dan berhasil memaksa Israel, masuk ke dalam perang atrisi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 13, 2025 18:19 Asia/Jakarta
  • Ketakutan Besar Para Komandan Israel atas Munculnya Sinwar Baru

Parstoday – Surat kabar Amerika Serikat, melaporkan, setelah terbunuhnya Yahya Sinwar, Kepala Biro Politik Hamas, kelompok ini tetap kuat, bisa merekrut pasukan baru, dan berhasil memaksa Israel, masuk ke dalam perang atrisi.

Pada 18 Oktober 2024, Hamas mengabarkan gugurnya Yahya Sinwar, dalam pertempuran melawan pasukan Israel, di area Tel Al Sultan, kota Rafah, di selatan Jalur Gaza.
 
Syahid Yahya Sinwar, dikenal sebagai komandan operasi Badai Al Aqsa, yang dilancarkan pada 7 Oktober 2023, sebagai pembalasan atas kejahatan Rezim Zionis terhadap rakyat Palestina, dan tempat-tempat suci, dengan menyerang pangkalan militer dan distrik Zionis di sekitar Gaza.
 
Operasi Badai Al Aqsa, memicu reaksi keras dari Rezim Zionis, dan rezim itu melancarkan serangan luas terhadap rakyat Gaza, setelah berlalu sekitar 465 hari, serangan brutal Israel, ke Gaza itu telah menyebabkan puluhan ribu warga Palestina gugur dan terluka.
 
Surat kabar Wall Street Journal, dalam laporannya menyinggung keberanian Mohammed Sinwar, saudara kecil Yahya Sinwar, dan menulis, “Hamas saat ini menempatkan Sinwar lain di puncak pimpinan, dan ia sedang berusaha membawa Hamas ke puncak.”
 
Menurut media AS, Hamas terus melahirkan generasi baru di dalam pasukannya, dan mereka mampu memproduksi bom-bom Israel, yang gagal meledak di Gaza, menjadi bom-bom aktif.
 
Hamas menggunakan bom-bom ini untuk menyerang Israel. Pasukan Israel, dalam seminggu terakhir mengabarkan tewasnya 10 tentara di kawasan Beit Hanoun, utara Jalur Gaza, dan Hamas, dalam beberapa minggu terakhir menembakkan sekitar 20 rudal ke Israel.
 
WSJ menambahkan, “Masalah perekrutan pasukan baru di bawah pengawasan Mohammed Sinwar, telah menciptakan tantangan-tantangan baru bagi Israel. Pasukan Israel, selama berbulan-bulan terpaksa mundur dari wilayah-wilayah yang sebelumnya mereka kuasai. Perubahan ini menunjukkan bahwa pasukan Israel, lelah, dan pada saat yang sama nyawa para tawanan Israel, terancam.”
 
Mantan jenderal Israel, Amir Avivi, mengakui, “Kami berada dalam kondisi di mana kecepatan pemulihan kekuatan Hamas, lebih cepat dari kemajuan pasukan Israel. Mohammed Sinwar mengelola semuanya.”
 
Akan tetapi sampai sekarang Juru bicara gerakan perlawanan Islam Palestina, Hamas, belum mengomentari laporan dan statemen tersebut.
 
 
Mohammed Sinwar; Komandan yang Tak Dikenal Israel
 
WSJ juga menyinggung peran Mohammed Sinwar dan menulis, “Mohammed Sinwar berada di pusat upaya menghidupkan Hamas. Ketika tentara Israel, membunuh Yahya Sinwar, bulan Oktober, pejabat Hamas di Doha, memutuskan daripada memilih pemimpin baru, lebih baik membentuk sebuah dewan ketua. Tapi menurut para mediator Arab dalam perundingan gencatan senjata dengan Israel, para pejabat Hamas, di Gaza, menolaknya, dan sekarang mereka secara sepihak memilih Mohammed Sinwar sebagai pemimpinnya."
 
“Sepertinya Mohammed Sinwar berusia sekitar 50 tahun, dan sejak lama merupakan orang dekat Yahya Sinwar, yang berusia 10 tahun lebih tua darinya. Ia seperti juga Yahya Sinwar, bergabung dengan Hamas di usia muda, dan merupakan orang dekat Mohammed Deif, Komandan Brigade Al Qassam. Berbeda dengan saudaranya, Yahya Sinwar, yang mendekam di dalam penjara Israel selama lebih dari dua tahun, Mohammed Sinwar, tidak lama mendekam di penjara, sehingga ia kurang dikenal oleh Israel. Ia lebih banyak berada di balik layar, dan para pejabat pemerintah Arab, mengenalnya dengan nama samaran Sayeh,” ujarnya.
 
Seorang pejabat senior Rezim Zionis mengatakan, “Kami sangat bekerja keras untuk menemukan keberadaan Mohammed Sinwar.” Sebagaimana dikatakan oleh para pengamat politik, Mohammed Sinwar, dikenal sebagai komandan tertinggi Hamas, di Jalur Gaza.
 
 
Hamas Kenyataannya Sangat Kuat
 
Media AS mengabarkan, “Hamas berdasarkan apa yang disampaikan pejabat Israel, dan Arab, masih memegang kontrol sebagian besar wilayah Jalur Gaza, tidak dikatakan berapa jumlah pasukannya yang meninggal, dan berapa jumlah pasukan baru yang direkrut, semuanya masih belum jelas.”
 
Wall Street Journal mengutip pejabat Arab melanjutkan, “Mohammed Sinwar, membuktikan bahwa terkait gencatan senjata permanen, ia jauh lebih bersikeras daripada kakaknya.”
 
Menurut media AS, selama berbulan-bulan dilakukan upaya gencatan senjata untuk membebaskan para tawanan Israel, akan tetapi upaya tersebut tetap tidak menghasilkan.
 
Dalam beberapa minggu terakhir, para mediator terutama Mesir dan Qatar, dengan koordinasi pemerintah AS, telah meningkatkan upaya mereka lewat pertemuan dan kontak dengan pejabat Hamas, serta Zionis, untuk membahas gencatan senjata di Gaza.
 
Mohammed Sinwar, tahun lalu dalam pesannya untuk para mediator mengatakan, “Hamas berada dalam posisi yang sangat kuat sehingga bisa menentukan syarat-syaratnya. Jika kesepakatan ini tidak komprehensif dan tidak mampu mengakhiri penderitaan rakyat Gaza, maka Hamas, akan melanjutkan perlawanan.” (HS)