Israel Manfaatkan Kondisi Suriah, Sampai Kapan Pendudukan Berlangsung?
Jan 29, 2025 15:06 Asia/Jakarta
Parstoday – Di tengah kebisuan masyarakat internasional, dan penguasa baru Suriah, pasukan Rezim Zionis, menempatkan peralatan militer baru di pangkalan-pangkalan yang didudukinya di dalam wilayah Suriah.
Menteri Perang Rezim Zionis, Israel Katz, dalam kunjungannya ke wilayah Jabal Al Sheikh, di Dataran Tinggi Golan, yang diduduki, menegaskan bahwa pasukan Israel, bukan hanya tidak bermaksud keluar dari wilayah-wilayah yang baru didudukinya di Suriah, bahkan sedang memperkuat posisinya di wilayah-wilayah tersebut.
Israel Katz menambahkan, “Pasukan Israel, dalam rangka menjaga keamanan di Dataran Tinggi Golan, dan wilayah utara, akan mempertahankan sekuat tenaga wilayah-wilayah yang diduduki setelah tumbangnya pemerintahan Bashar Assad.”
Pasukan Israel, juga mengonfirmasi bahwa dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keamanan personel militer Israel, di wilayah-wilayah yang diduduki di Suriah, mereka mengirim peralatan tempur baru ke negara itu.
Penekanan Rezim Zionis, atas pendudukan wilayah Suriah, dilakukan di saat negara-negara Barat, yang mengklaim diri sebagai pembela hak asasi manusia, sampai sekarang tidak menunjukkan reaksi apa pun terkait masalah penting ini.
Para pengamat militer meyakini Jabal Al Sheikh atau Gunung Hermon, yang terletak di perbatasan antara Lebanon, Suriah, dan Palestina, terutama barat Damaskus, ibu kota Suriah, dan titik paling utara Golan, sebagai dataran tinggi strategis, karena dari sana seluruh wilayah Suriah, Yordania, Lebanon, dan Palestina pendudukan, dapat diamati secara penuh, dan mereka percaya siapa pun yang menguasai dataran tinggi ini, maka ia akan bisa mengawasi seluruh kawasan.
Dengan bersandar pada sumber-sumber Zionis, pasukan rezim ini sekarang sudah berada di 14 kilometer wilayah Suriah, di wilayah Jabal Al Sheikh. Radio Militer Israel mengabarkan, pemerintah Tel Aviv, menyetujui pendudukan wilayah Jabal Al Sheikh di Suriah, dan pendirian sebuah zona penyangga di wilayah ini.
Pasukan Israel, setelah jatuhnya pemerintahan Bashar Assad, menginvasi wilayah Suriah, dan menduduki wilayah-wilayah di dekat bagian Golan yang diduduki termasuk kota Quneitra, dan selama beberapa hari menghancurkan infrastruktur militer Suriah, di berbagai lokasi lewat ratusan serangan udara dan pemboman terarah serta luas.
Aksi pasukan Israel tersebut dilakukan bersamaan dengan pengumuman yang disampaikan Perdana Menteri Rezim Zionis Benjamin Netanyahu, terkait pembatalan Perjanjian Pelepasan Israel dan Suriah, yang ditandatangani pada tahun 1974 di wilayah Golan.
Meskipun demikian penguasa baru Suriah, sampai sekarang hanya mengeluarkan pernyataan ketidakpuasan atas agresi militer Rezim Zionis, dan memperlakukan masalah ini sebagai sebuah masalah yang tidak terlalu penting. Padahal agresi militer Israel ke wilayah Suriah, memicu protes dan reaksi luas masyarakat internasional terutama Uni Eropa dan negara-negara kawasan.
Di sisi lain, Utusan khusus PBB, untuk Suriah, mengecam agresi Israel, ke Suriah, dan menekankan urgensi penghentian agresi ini, serta penarikan mundur pasukan Israel, dari wilayah Suriah. Geir Pedersen menuturkan, “Pemanfaatan Israel, atas kondisi kacau di Suriah, menghambat perwujudan stabilitas di negara ini.”
Sekjen Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menilai berlanjutnya pendudukan wilayah Suriah, oleh Rezim Zionis, telah memperkeruh ketegangan di seluruh kawasan, dan ia mendesak upaya internasional untuk mengakhiri putaran baru pendudukan Rezim Zionis di Suriah.
Republik Islam Iran, dan banyak negara kawasan juga mengutuk pelanggaran kedaulatan dan integritas teritorial Suriah, dan masuknya pasukan Israel, ke wilayah negara ini, serta menuntut Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan agresi Rezim Zionis ke Suriah, dan rakyatnya. (HS)