Ketika Politik dan Media, Jadi Dua Kaki Teroris
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i17695-ketika_politik_dan_media_jadi_dua_kaki_teroris
Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi menyatakan bahwa kelompok teroris Daesh yang beroperasi di negaranya semakin melemah, tapi hingga kini mereka masih hidup dan terus merekrut anggota dari seluruh penjuru dunia, karena dukungan politik dan media internasional.
(last modified 2026-08-22T05:00:16+00:00 )
Aug 14, 2016 13:30 Asia/Jakarta
  • Ketika Politik dan Media, Jadi Dua Kaki Teroris

Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi menyatakan bahwa kelompok teroris Daesh yang beroperasi di negaranya semakin melemah, tapi hingga kini mereka masih hidup dan terus merekrut anggota dari seluruh penjuru dunia, karena dukungan politik dan media internasional.

Dalam acara peringatan duka mengenang korban ledakan teroris Al Karrada, Baghdad, Al Abadi mengatakan, Daesh hingga kini masih memiliki pendukung di kalangan politikus dan media, tapi rakyat Irak bertekad akan membersihkan teroris hingga ke akarnya di negara Arab itu.

Statemen perdana menteri Irak tersebut menyinggung sejumlah masalah penting mengenai kehadiran politisi dan media yang mendukung kelompok teroris Daesh. Kedua pihak ini hingga kini menjadi penghalang penumpasan kelompok teroris di Irak.

Persenjataan lengkap dan personil berkekuatan besar yang dimiliki kelompok teroris Daesh tidak akan terwujud tanpa dukungan politik dan media internasional yang mewakili kepentingan tertentu di Irak. Selain itu, lalu lintas militan yang datang dari berbagai negara dunia, termasuk dari jantung Eropa tidak bisa terwujud tanpa dukungan politik negara-negara pendukung kelompok teroris yang membuka akses wilayahnya bagi kelompok teroris untuk memasuki Irak dan Suriah.

Selama ini, sejumlah negara Arab dan Barat yang mengklaim sebagai pengusung perang melawan terorisme pada faktanya tidak melakukan tindakan signifikan untuk meredam terorisme di kawasan. Berbagai laporan menunjukkan dukungan sebagian negara Arab terhadap kelompok teroris Daesh. Tidak hanya itu, dukungan media Arab terhadap kelompok teroris juga dilakukan dengan menyebarkan pemikiran takfiri. Pada saat yang sama media Barat memberitakan perlawanan yang dilakukan militer dan relawan rakyat Irak menghadapi kelompok teroris sebagai konflik sektarian.

Sebagaimana terjadi di Suriah, media Arab dan Barat memberitakan konflik Irak ditempatkan sebagai pertempuran antara pemerintah Irak menghadapi oposisi yang dibumbui dengan isu sektarian. Media masa pendukung teroris di Barat dan Arab menempatkan relawan rakyat Irak yang mendukung militer negara ini menghadapi Daesh disejajarkan dengan kelompok pemberontak yang mereka sebut sebagai oposisi bersenjata.

Sejatinya, sejumlah negara Arab seperti Saudi dan medianya yang mengklaim sebagai pengusung perang melawan terorisme, pada praktiknya jauh panggang dari api. Alih-alih memberantas terorisme, Riyadh justru mendukung kelompok teroris semacam Daesh. Sebagai contoh, Al-Arabiya dan Al-Jazeera selama ini berperan sebagai payung media bagi kelompok teroris Daesh. Ketika Daesh menggunakan roket dan senjata buatan AS serta negara Eropa, sikap pasif media yang mendaku sebagai pengibar HAM mengindikasikan kompleksitas masalah politik dan perdagangan senjata sebagai darah yang menjaga berlanjutnya kehidupan kelompok teroris Daesh. (PH)