UNRWA: Krisis Air Minum yang Parah Ancam Nyawa Pengungsi Jalur Gaza
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i184226-unrwa_krisis_air_minum_yang_parah_ancam_nyawa_pengungsi_jalur_gaza
Pars Today – Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan adanya krisis parah air minum yang mengancam para pengungsi Palestina di Jalur Gaza.
(last modified 2026-01-17T12:12:18+00:00 )
Jan 17, 2026 19:10 Asia/Jakarta
  • krisis air minum di Gaza
    krisis air minum di Gaza

Pars Today – Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan adanya krisis parah air minum yang mengancam para pengungsi Palestina di Jalur Gaza.

Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, UNRWA menegaskan bahwa akses terhadap air minum yang aman telah menjadi tantangan sehari-hari dan mengancam nyawa ribuan warga sipil. Badan tersebut memperingatkan secara serius tentang krisis akut air minum yang dihadapi para pengungsi Palestina di Jalur Gaza.
 
Dalam pernyataannya, UNRWA menyampaikan bahwa pasokan air bagi para pengungsi Palestina di lokasi-lokasi penampungan yang padat pada dasarnya disediakan melalui truk tangki, karena infrastruktur mengalami kerusakan parah dan terdapat kekurangan sumber daya air yang sangat serius. Para penduduk terpaksa menghemat penggunaan air semaksimal mungkin, baik untuk minum, memasak, maupun kebersihan pribadi. UNRWA menambahkan bahwa akses terhadap air yang bersih dan aman tetap menjadi persoalan yang sangat krusial bagi kelangsungan hidup, serta memperingatkan dampak kesehatan dan kemanusiaan yang berbahaya dari berlanjutnya kondisi ini, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, dan orang-orang sakit. UNRWA juga menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mengambil langkah-langkah segera guna menjamin pasokan air yang berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang terus meningkat di Jalur Gaza.
 
Serangan tentara rezim Zionis Israel terhadap Jalur Gaza, dengan dukungan Amerika Serikat sejak 7 Oktober 2023, tidak hanya menyebabkan pembantaian massal terhadap warga Palestina, tetapi juga menimbulkan kehancuran luas. Agresi tersebut mengakibatkan hancurnya sekitar 90 persen infrastruktur Gaza, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi kerusakan ini mencapai sekitar 70 miliar dolar AS. Meskipun telah berlalu beberapa bulan sejak penandatanganan perjanjian gencatan senjata, rezim Zionis Israel dilaporkan terus melanggarnya setiap hari dan menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan bagi penduduk wilayah yang dilanda perang tersebut. (HS)