Tantangan yang Dihadapi Komite Teknokrat Gaza
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i184440-tantangan_yang_dihadapi_komite_teknokrat_gaza
Pars Today - Seorang pakar ekonomi Palestina, sambil menyoroti tantangan yang dihadapi Komite Teknokrat di Gaza, menyatakan, "Masalah penyediaan bantuan, terutama tempat tinggal, mengingat kebutuhan mendesak akan ribuan unit rumah bergerak, adalah tantangan paling menonjol yang dihadapi komite ini."
(last modified 2026-01-21T08:16:42+00:00 )
Jan 21, 2026 15:07 Asia/Jakarta
  • Gaza
    Gaza

Pars Today - Seorang pakar ekonomi Palestina, sambil menyoroti tantangan yang dihadapi Komite Teknokrat di Gaza, menyatakan, "Masalah penyediaan bantuan, terutama tempat tinggal, mengingat kebutuhan mendesak akan ribuan unit rumah bergerak, adalah tantangan paling menonjol yang dihadapi komite ini."

Menurut laporan hari Rabu (21/01/2026) IRNA mengutip Kantor Berita Shehab, Ahmad Abu Qamar, pakar ekonomi Palestina mengatakan, “Mengingat perang yang berkepanjangan, blokade ekonomi yang mencekik, dan sikap keras kepala Israel yang terus berlanjut, pekerjaan Komite Teknokrat di Jalur Gaza menghadapi hambatan yang signifikan dan kompleks.”

Abu Qamar menambahkan, “Mengatasi tantangan ini tidak akan mudah. ​​Pembentukan komite ini merupakan titik balik positif, karena telah menerima persetujuan AS dan penerimaan Israel, sesuatu yang tidak ada dalam upaya sebelumnya. Ini memberi komite margin aman awal untuk bertindak, terlepas dari pesimisme yang berlaku di Jalur Gaza setelah lebih dari dua tahun perang dan situasi ekonomi yang memburuk.”

Pakar Palestina ini menyatakan bahwa masalah bantuan, terutama tempat tinggal, adalah tantangan paling menonjol yang dihadapi komite, mengingat kebutuhan mendesak akan ribuan unit perumahan bergerak (connecs). Keberhasilan apa pun di bidang ini dalam beberapa minggu mendatang akan menjadi tonggak penting bagi pekerjaan komite.

Ahmad Abu Qamar menekankan bahwa masalah bantuan kemanusiaan merupakan beban berat. Lebih dari 95 persen keluarga di Gaza telah sepenuhnya bergantung pada bantuan, sementara Israel tidak mematuhi jumlah yang disepakati. Alih-alih 600 truk, antara 200 dan 250 truk tiba setiap hari, sementara truk bantuan yang sebenarnya tidak melebihi 50 hingga 70 truk.

Ia menambahkan bahwa krisis tidak hanya terbatas pada kedatangan bantuan, tetapi juga pada mekanisme distribusinya, karena tidak adanya sistem yang adil dan terintegrasi. Hal ini menyebabkan beberapa keluarga menerima bantuan berulang kali, sementara yang lain tidak menerimanya selama berbulan-bulan.

Ia menekankan perlunya membangun basis data khusus untuk memastikan bahwa bantuan sampai kepada orang yang tepat.

Abu Qamar juga membahas masalah penyeberangan perbatasan, khususnya penyeberangan Rafah, dan mencatat ribuan orang yang terluka dan terlantar.

Ia menyerukan agar perjalanan dilakukan tanpa pemerasan, menyusul laporan tentang orang-orang yang membayar hingga $5.000.

Abu Qamar mengakhiri ucapannya dengan memperingatkan tentang situasi ekonomi yang buruk di Gaza, menyatakan bahwa tingkat pengangguran telah meningkat dari 45 persen sebelum perang menjadi hampir 80 persen sekarang, sementara tingkat kemiskinan telah melebihi 90 persen. Komite Teknokrat memikul tanggung jawab yang sangat besar mengingat realitas kemanusiaan dan ekonomi yang tak terhindarkan ini.(sl)